Surabaya 26 Juni 2009

Kepada Majelis Sinode GPIB

Di Tempat.

Hal :     Teguran dan Nasehat dari seorang jemaat kepada

Majelis Sinode GPIB.

Dengan hormat,

Sehubungan dengan beredarnya Kupon KEPEDULIAN DANA PENSIUN PENDETA / PEGAWAI GPIB yang dibuat oleh Majelis Sinode GPIB dan diedarkan keseluruh warga jemaat GPIB di Seluruh Indonesia dengan maksud agar jemaat mau berpartisipasi memberikan dananya, dimana setiap KK warga jemaat Bukit Harapan Surabaya diberi BEBAN TANGGUNGAN sebesar Rp. 170.000,- ( 17 lembar kupon).

Disini saya mempermasalahkan akan 3 hal yaitu :

  1. Isi tulisan di balik lembar kupon  yang berjudul “ Yang Masih Terlupakan”.
  2. Kenapa Kupon itu beredar dan menjadi beban Jemaat.
  3. dan berbagai permasalahan lainnya.

1. ISI TULISAN DILEMBAR KUPON

Dibelakang lembar kupon terdapat tulisan sebagai berikut :

Yang Masih Terlupakan

Mereka adalah para pendeta dan karyawan GPIB, Mereka hari ini berjumlah sekitar 900 orang, ketika menjalankan tugas panggilan MEREKA BERKORBAN, ketika tugas selesai MEREKA TERBENGKALAI.

GPIB berusaha untuk memperbaiki masa depan mereka, dua kali Yayasan Dana Pensiun tidak berdaya, sejak tahun 1988 dengan segala keterbatasan dibentuk Dana Pensiun GPIB sesuai Undang Undang Dana Pensiun R.I.

Keterbatasan sejak tahun 1988 berarti hutang, Kewajiban Awal yang harus dipenuhi terus membengkak sekitar Dua Puluh Milyard rupiah.

Tantangan kita adalah KETULUSAN dan KEJUJURAN agar Bertolong tolongan dalam memikul beban supaya memenuhi HUKUM KRISTUS (Galatia 6 : 2)

Lembaran kupon yang sedang dibaca oleh saudara terkasih adalah TANTANGAN IMAN untuk MENGASIHI

ULURKAN TANGAN, BERIKAN BANTUAN buatlah mereka yang SEDANG MELAYANI  TERSENYUM menatap masa depan, yang SUDAH USAI menunaikan tugas menaikkan syukur dan pujian

BIAR MEREKA TAHU  Tuhan MENGINGAT MEREKA melalui bantuan kita, Tuhan yang sama melimpahkan rahmat bagi tiap kita yang MELAKUKAN KEHENDAK NYA.

Kupon itu ditanda tangani oleh Pendeta Samuel Th. Kaihatu selaku Ketua Umum Majelis Sinode GPIB dan Pendeta Jeffrey W. Ch. Sompotan selaku Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB.

Dan oleh GPIB Bukit Harapan kupon itu dimasukkan kedalam amplop yang bertuliskan PERSEMBAHAN DANA PENSIUN, jika persembahan kenapa untuk pendeta ? jika persembahan kenapa menetapkan angka Rp. 170.000,- ? dan mungkin karena menilai tulisan dibalik kupon itu sangat rohani, sangat menyentuh sanubari maka pihak Bukit Harapan menuliskannya kembali dalam surat tertanggal 20 Mei 2009 dengan nomor 85/Bk.H/V/2009 yang ditanda tangani oleh Pendeta F.P. Silitonga, M.Min selaku Ketua dan Penatua Ny. Rusmiatun. M selaku Sekretaris.

Saat saya membacanya maka saya menjadi terperanjat karena beginikah kualitas iman para pemimpin pusat gereja GPIB ku ? jika pemimpinnya saja sudah begini bagaimana dengan kualitas para pendeta yang ditugaskan disetiap gereja GPIB yang tersebar di seluruh negeri ini !!, dan lebih bagaimana lagi dengan kualitas iman para jemaatnya  !!.

Coba kita lihat dan cermati tulisan diatas, hampir semua kalimat itu bermasalah dan mempermalukan ! coba kita melihat satu persatu :

  1. Ketika menjalankan Tugas Panggilan mereka BERKORBAN, ketika tugas selesai mereka TERBENGKALAI.
  2. Tantangan kita adalah KETULUSAN dan KEJUJURAN agar bertolong tolongan dalam memikul beban supaya memenuhi hukum Kristus.
  3. Lembaran kupon yang sedang dibaca oleh saudara terkasih adalah tantangan iman untuk mengasihi.
  4. Ulurkan tangan, berikan bantuan, buatlah mereka yang sedang melayani (Baca : Pendeta/karyawan Aktif) tersenyum menatap masa depan, yang sudah usai menunaikan tugas (Baca : Pendeta/karyawan yang sudah pensiun ) menaikkan syukur dan pujian.
  5. Biar mereka (Baca : Pendeta/karyawan) tahu Tuhan mengingat mereka melalui bantuan kita.

Kalimat demi kalimat diatas mencerminkan bahwa para pemimpin pusat, para pengajar iman, etika dan moral, Pembina para pendeta, orang yang seharusnya jadi  teladan bagi murid Kristus ternyata kualitasnya sangat memprihatinkan, mereka melakukan hal yang bertentangan dengan  apa yang mereka imani dan ajarkan ke umatnya.

Sudah hampir 1 abad ini tidak ada pendeta yang berkorban dalam melakukan tugasnya (jika dahulu benar ada pendeta yang tidak digaji, tapi itu bukan pengorbanan tapi menjalankan tugas dan panggilanNYA ! kala itu mereka hanya diberi honor ala kadarnya, yang melayani dibayar singkong, telur dll, jika ada kondangan maka dia membawa seluruh keluarganya agar bisa makan yang enak) apalagi di lingkungan gereja gereja besar seperti GPIB. GPIB sebagai sebuah organisasi gereja yang besar sudah memiliki tatanan aturan yang baik dan memberikan penghasilan serta fasilitas yang baik bagi pendeta dan karyawannya. Pensiunan pendetanya sudah mendapatkan uang pensiun bulanan walau masih dalam jumlah yang kecil.

Pendeta GPIB mendapatkan penghasilannya berupa :

  1. Gaji, seorang pendeta bergaji kurang lebih 3.500.000,- (Gabungan Gaji Minimal Ketentuan Majelis Sinode ditambah dengan Gaji dari Gereja setempat) per bulan, dimana gaji ini adalah gaji bersih karena mereka juga mendapatkan RUMAH DINAS lengkap dengan barang inventarisnya (Tempat tidur, lemari, meja kursi, AC, TV, Komputer, Lemari Pendingin, mesin cuci, Kompor, seterika hingga ember / kain pel, kertas tissue !)  dimana biaya Listrik, Telpon/internet, Air, Pembantu rumah tangga, laundry kain gordyn ditanggung atau dibayar oleh gereja setempat, Pendeta juga mendapatkan KENDARAAN DINAS (Mobil dan atau Motor) dimana pengeluaran bahan bakarnya ditanggung atau dibayar oleh gereja. Pendeta mendapat bantuan BIAYA BEROBAT jika mereka atau keluarganya sakit, Pendeta juga mendapat TUNJANGAN PEMBELIAN BUKU dan Koran agar mereka lebih pintar lagi.
  1. Tunjangan Natal dan Tunjangan Cuti masing masing besarnya 1 bulan gaji sehingga dalam 1 tahun seorang pendeta mendapat total 14 bulan gaji, seorang pendeta saat menjalani cuti akan diberi uang tunjangan cuti yang besarnya 1 bulan gaji. Jika perusahaan lain mau memberi Uang Pengganti Cuti karena pegawai tersebut tidak mengambil cutinya, lain halnya dengan pendeta yang diberi uang tunjangan cuti saat pendetanya mengambil cuti !.( Baca Cuti tidak bekerja tapi gaji tetap diberikan ditambah dengan pemberian uang Tunjangan Cuti !).
  1. Pendapatan lain lain :
    1. Honor Khotbah tukar mimbar digereja lain (antar GPIB maupun diluar GPIB) biasanya 2 kali (a’ 2-3 kali naik mimbar) dalam sebulan dimana honornya sudah ditetapkan sebesar Kurang lebih Rp. 250.000,- untuk tingkat Regio (Kota) dan kurang lebih Rp. 300.000,- untuk tingkat MUPEL (Propinsi) ini tergantung kesepakatan di Regio/Mupel setempat, per sekali naik mimbar sehingga dalam 1 bulan pendeta mendapatkan honor  dari tukar mimbar =  2 X 3 X Rp. 250.000 = Rp. 1.500.000,-.
    1. Honor khotbah Pengucapan Syukur di Jemaat / luar jemaatnya (Syukur HUT, Perkawinan, Naik Pangkat/Jabatan, Lulus Sekolah, Sembuh Sakit, hingga suksesnya PEMAKAMAN !)  minimal 1 X dalam sebulan berkisar Rp. 300.000,- hingga Rp. 1 Juta tergantung kemurahan hati jemaat / panitia pelaksananya.
    1. Uang / barang pemberian dari Jemaatnya dimana mereka memberi karena : 1. Merasa pendeta layak dibantu karena dikiranya seorang pendeta itu hidup berkekurangan. 2. Beranggapan jika memberi pendeta akan diberkati oleh Tuhan, sehingga banyak jemaat yang tidak mengerti akan firman Tuhan lebih mengutamakan memberi seorang pendeta daripada memberi orang yang betul betul berkekurangan.
    1. Masa kerja seorang pendeta di sebuah gereja selama 5 tahun, dan di 5 tahun berikutnya mereka pindah melayani digereja lainnya, dimana disetiap saat ahir masa tugasnya disebuah gereja banyak warga jemaat memberikan uang secara pribadi kepadanya,  jika ditotal pemberian Warga Jemaat dan Lembaga Gereja setempat nilainya kurang lebih  20 Juta hingga 100 Juta !! (Baca : Anggap hadiah / pesangon untuk 5 tahun masa tugasnya), tergantung besarnya jemaat dan kemampuan keuangan jemaatnya, pendeta bisa mengalami perpindahan tugas sebanyak 5 – 6 kali selama masa baktinya, Pemberian ini jelas menambah pundi pundi tabungannya untuk dipergunakan dimasa tuanya. Disetiap perpindahan ini segala biaya tiket / biaya transportasi sekeluarga hingga pengiriman barang apapun menjadi tanggung jawab gereja.

Sehingga  seorang pendeta bisa meraup penghasilan “tetap” minimal 5 juta per bulan (BERSIH), dimana uang ini hanya digunakan untuk Biaya Makan, Sekolah anak anak dan Pakaian/hiburan, jadi jika mereka pintar mengelola keuangannya maka mereka bisa menabung 1 – 1 ½ juta per bulan…

Seorang Karyawan Tetap gereja ( bukan pendeta ) juga mendapat gaji diatas UMR, mendapat THR Natal, Uang Lembur, hingga Extra Puding ( Camilan di Kantor ), padahal beban kerja karyawan gereja sangatlah ringan jika dibandingkan dengan perusahaan kecil.

Jadi dari segi mana para pemimpin  yang berkantor di Majelis Sinode ( Baca Mabes nya GPIB) bisa atau berani mengatakan Pendeta itu BERKORBAN saat menjalankan tugasnya ? apakah selama ini mereka selalu merasa terbebani ?, apakah selama ini mereka tidak tulus melayani ? (Kata dan makna MELAYANI ini juga sudah tidak tepat karena mereka layaknya sebagai orang yang PROFESIONAL, yaitu bekerja – dibayar), apakah mereka selalu dongkol dan  cemberut dalam melaksanakan tugasnya ? Jika mereka mengatakan diri BERKORBAN artinya segala penghasilan yang diterima dianggap tidak memadai ! dianggap kecil !! maka ada pilihan bijak bagi mereka yaitu : SEGERA KELUAR dari GPIB !!! biar mereka mencari gereja yang mau memberi mereka penghasilan yang lebih besar daripada mereka bekerja dengan memaksa diri !!, sangat tidak baik bagi mereka selaku teladan dan juga Jemaat selaku murid jika mereka bekerja melayani diladang Tuhan dengan hati yang menggerutu, hati yang tidak tulus, hati yang tidak ikhlas.

Sangat memprihatinkan dan sangat kontras jika kita mengingat para pendeta mengajarkan umatnya untuk :

  1. Bersuka citalah senantiasa, mengucap syukurlah dalam segala hal. ( I Tes 5 : 16 – 18 ).
  2. Lebih berbahagia jika kita memberi daripada menerima. ( Kis 20 : 35 )
  3. Meminta pada Tuhan secukupnya, bukan sebanyak banyaknya. (Matius 6 : 11)
  4. Jangat takut, jangan kutir dalam mengarungi hidup bukankah burung diudara diberi makan ? bukankah bunga bakung dilembah diberi pakaian indah ? (Matius 6 : 25 – 34)

Padahal faktanya oknum oknum (baca banyak oknum)  pendeta itu begitu rapuh, ternyata mereka ditempa sebagai orang yang suka menerima daripada memberi, menerima pun ingin yang banyak dan mewah, jika tidak ada yang memberi maka mengemispun dilakukan,  egois ingin memikirkan akan kenyamanan dirinya sendiri tidak peduli bahwa jemaat masih banyak yang jauh berkekurangan dari dirinya, banyak jemaat yang masih bergaji dibawah dirinya (Baca mulai UMR Rp. 800 ribu hingga 3 juta) dimana jemaat harus membayar Listrik, Air, Telpon, transportasi (bensin/bemo), kontrak rumah, masih menganggur, sudah tidak bekerja tapi tidak mendapat pensiun, VISI dan MISI para oknum pendeta adalah Jemaat harus menyenangkan hatiku, jemaat harus membiayai kehidupan mewahku karena aku adalah Hamba Allah sipemilik alam semesta ini, Aku kan Pelayan tapi Pelayan yang Minta Dilayani !! Mereka lupa dan tutup mata akan ajaran / didikan Yesus Sang Kepala Gereja yaitu pola hidup sederhana, melayani bukan dilayani,  memberi bukan meminta apalagi mengemis, Menaruh Harap dan Percaya pada Tuhan bukan Kuatir,  mengangkat beban hidup jemaat bukan membebaninya…

Pantaslah ada olok olok dari jemaat :

  1. “ Lakukanlah seperti yang pendeta katakan dari atas mimbar, tapi jangan tiru kelakuannya sehari hari !”.
  2. “ Lihatlah pendeta selalu mengelus ngelus domba (baca Jemaat) gemuknya (baca : Kaya Raya) dan tidak peduli akan nasip domba kurus (Baca Jemaat Miskin)”.
  3. “Banyak serigala didalam gereja, sedikit domba diluar sana…” (Baca Gereja dikuasai oleh anti kristus yang Kurop,  menindas dan memeras serta menyelewengkan jemaatnya, yang diluar gereja malah orang baik baik…
  4. Jabatan sih pendeta tapi minta fasilitas layaknya Jenderal…

Terlihat sekali para pendeta ingin berdinas di gereja yang jemaatnya berjumlah banyak dan kaya raya yang biasa disebut tempat basah. Sehingga sering jemaat menduga ada permainan Majelis Sinode dalam penempatan “orang orang” nya.

Jika melihat permasalahan diatas maka tidaklah heran jika jemaat sering dipusingkan, dipermalukan oleh adanya oknum pendeta yang tidak tahu malu, yang serakah, yang memboroskan uang gereja/jemaat,  yang suka main perempuan, yang meniduri para janda, istri/anak gadis jemaat,  bukannya membina, mengajar jemaatnya untuk hidup lebih baik tapi malah dia memporak porandakan tatanan keharmonisan sebuah jemaat, hingga layaknya seperti “perampok”, “perusuh”, “benalu” bagi jemaatnya, bukannya damai sejahtera yang dibawa / ditularkannya tapi perkelahian dan pertengkaran,  Jemaatnya tidak dicerdaskan tapi dibodohkan agar bisa dibuat mainan atau jadi sapi perahan (Serupa dengan yang dilakukan para politikus hitam kita). Tidaklah heran jika cukup banyak pendeta yang sampai diusir atau diminta untuk pindah oleh jemaat / gerejanya.

Jadi Penyebutan Pendeta itu BERKORBAN saat menjalankan tugasnya adalah suatu pernyataan yang menyesatkan, pernyataan yang bodoh dan memalukan !!. Jika semasa aktifnya bertugas mereka pintar mengelola keuangan maka tidaklah mungkin mereka menjadi orang yang ter sia sia, orang yang Terbengkalai, apalagi Pendeta dalam berkhotbah tidak tergantung akan status pensiun ataupun aktif, jika dia pintar berkhotbah, jika dia rendah hati maka walau dimasa pensiunpun dirinya akan sering dipanggil untuk berkhotbah dan mendapat bayaran untuk itu, pendeta layaknya seorang dokter yang walaupun sudah pensiun dia masih bisa menjalankan praktek pribadinya.  Jika para pendeta aktif mau membantu keuangan pendeta pensiun yang tidak laris “ditanggapi” karena dilupakan oleh jemaat akibat semasa aktifnya tidak becus melayani, tidak pintar berkhotbah, suka menyusahkan jemaatnya,  maka mereka (pendeta aktif) bisa mengundang berkhotbah digereja yang dipimpinnya, tapi ini jelas merugikan pendeta aktif karena biasanya mereka suka mendahulukan tukar mimbar dengan sesama pendeta aktif agar dirinya sama sama mendapatkan duit, jika dirinya mengundang pendeta pensiun maka dirinya akan berkhotbah dimana ? jelas dirinya tidak dapat duit. Oleh sebab itu Pendeta aktif lah yang sering melupakan pendeta pensiun !!.

Jika pendetanya tidak tulus dan tidak jujur dalam melayani maka hasilnya terlihat pada jemaat yang diajarkannya, murid meniru gurunya, guru kencing berdiri maka murid kencing berlari, buah tidak akan berbeda nama dari pohonnya.

Jangan berkata jemaat harus ikut memikul beban Pendeta karena Pendetanya sendiri tidak peduli pada beban yang dipikul oleh jemaatnya. Jika mereka pintar dan bijak maka kupon itu dimintakan hanya pada jemaat kaya saja bukan jemaat miskin dilibatkan juga,  Tantangan iman itu bukan pada memberi para pengemis berjubah pendeta, tapi pada orang yang benar benar tidak mampu, para janda atau anak yatim yang tidak mampu. Jemaat diminta mengulurkan tangan (baca Memberi) kepada guru iman agar mereka tersenyum ? jadi selama ini mereka tidak tulus dalam melayani, tidak suka cita dalam bekerja diladang Tuhan, mereka merasa dirinya terpaksa atau dipaksa !! siapa yang memaksa ? mereka bersuka cita jika dirinya hidup dalam berkelimpahan. Dalam ilmu Manajemen, jika bawahan sudah tidak punya sukacita dalam melakukan pekerjaan maka jangan harap dirinya mau bekerja dengan baik, dirinya akan selalu berhitung akan detik dan daya yang dikeluarkannya tanpa memperhitungkan akan upah yang diterimanya, akan kerugian yang diderita oleh perusahaan, orang seperti ini sekelas binatang babi yang dipelihara dikandang, jika lapar mereka akan berteriak dan meronta tidak peduli bahwa sang pemberi makan sedang sakit !! orang seperti ini harus ditawarkan 2 pilihan yaitu : 1. Keluar. 2. Mengikuti aturan main perusahaan.

Dan yang paling memalukan kita adalah pernyataan ahir di tulisan itu yaitu  “ Biar mereka (Baca Pendeta) tahu bahwa Tuhan mengingat mereka melalui bantuan kita “. Jika begini maka tampak begitu kotor dan sesatnya pemikiran dan keimanan para pendeta kita, mereka lupa atau sengaja menutup mata akan betapa banyaknya berkat Tuhan yang mereka terima, berkat Tuhan diartikan hanya sebatas pada kelimpahan materi semata,  saya yakin jika mereka berkesulitan hidup maka mereka bisa berubah jadi penghujat Tuhan, mereka bisa menyangkal akan iman mereka. Inilah kalimat yang paling memilukan ! paling memalukan dari kalimat memalukan lainnya.

Sebenarnya yang berkorban itu adalah :

1. Majelis Jemaat, dimana mereka tidak digaji tapi mereka benar benar melayani dan menyokong dana buat gereja, jadi mereka berkorban Uang, Waktu dan Tenaga/ Pikiran, tapi mereka tidak pernah menyatakan diri berkorban, karena ini adalah panggilan Iman.

2. Jemaat, karena mereka selalu diminta untuk memberikan uang buat menjalankan roda pelayanan gereja, mereka jadi obyek atau sapi perahan. Apa imbal balik yang mereka dapatkan ? hanya doa… doa dari orang yang tidak jelas keimanannya.

Sedangkan pendeta dia digaji lebih dari cukup, diberi fasilitas berlebih… Jadi pendeta bukan golongan orang yang berkorban…bukan pula orang yang dikorbankan…. tetapi cukup banyak oknum pendeta yang mengorbankan jemaat dan gerejanya.

2. KENAPA KUPON ITU BEREDAR DAN MENJADI BEBAN JEMAAT ?

Diperusahaan manapun yang menerapkan pemberian uang pensiun bagi karyawannya yang purna tugas  maka saat karyawan itu aktif gajinya langsung dipotong iuran dana pensiun, demikian pula di GPIB, gaji para pendeta / karyawan sudah dipotong iuran dana pensiun, iuran itu dibayarkan oleh gereja setempat ke pihak Majelis Sinode. Tetapi kenapa iuran dana pensiun yang disetorkan masih tidak mecukupi sehingga dikatakan GPIB terhutang uang lebih dari  20 Milyard pada Lembaga Dana Pensiun GPIB ? kenapa jemaat diminta  untuk ikut membayarnya ? Tidak pernah disebutkan secara jelas atau secara rinci akan kenapa bisa terjadi hutang yang bunga berbunga, denda berdenda hingga mencapai lebih dari 20 Milyard !! (posisi hutang dibulan April 2007—sesuai tanggal kupon) sehingga kemungkinan sekarang sudah jauh membengkak lagi,  Seharusnya Majelis Sinode menjelaskannya secara jujur akan kronologisnya !! jangan sampai karena kesalahan oknum Majelis Sinode diperiode terdahulu menjadi beban Jemaat, diatas yang tertawa dan kenyang, dibawah resah dan gelisah serta kurus kering akibat diperas !!. Beranikah Majelis Sinode menjelaskannya secara Jujur sesuai kejujuran yang dituntut untuk dijalani oleh orang orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus kepala gereja kita ?, berani atau sanggupkah Majelis Jemaat untuk mengatakan kebenaran ? Jika memang benar ada ketidak benaran disana apakah pernah majelis sinode meminta maaf kepada gereja dan jemaatnya ?. Ditingkat bawah ada yang mengatakan GPIB berutang pada pemerintah…pemerintah atau lembaga mana yang mau memberi pinjaman pada sebuah organisasi gereja tanpa ada jaminan, apalagi hutang itu sudah begitu lama (Puluhan Tahun) tidak terbayar bunga berbunga, denda beranak denda hingga hutang itu mencapai lebih dari 20 MILYARD !!. Jika Pemerintah maka pasti sudah ditindak KPK, jika lembaga bank pasti managernya sudah dipecat. Jadi untuk kejelasannya maka kami minta agar Majelis Sinode mau menjelaskannya secara transparan diserta bukti buktinya. Semoga tidak ada dusta diantara kita…

Jika saya membaca buku Hasil Persidangan Sinode Istimewa GPIB 2002 yang diadakan di Wisma Kinasih Cemerlang, Caringin Bogor pada tanggal 3 – 6 Maret 2002, pada hal 95 point 3 dari Masalah Masalah Yang Dihadapi Pengelola Dana Pensiun tertulis : “Dari informasi yang kami dapat bahwa pada tahun 1997 s/d 1999 pungutan iuran tidak disetor oleh Majelis Sinode kepada Dana Pensiun dalam Perode diatas”. Dan salah satu Rekomendasi yang diberikan oleh Tim Pengkajian Dana Pensiun GPIB Komisi VI (Khusus) adalah : Apabila butir butir A diatas tidak dapat dipenuhi maka kami menyarankan membubarkan Dana Pensiun GPIB dan mengalihkan kepada Dana Pensiun Lembaga Keuangan yang Lain”. Disini dengan jelas tertulis :

  1. Diperiode 1997 s/d 1999 Majelis Sinode tidak menyetor pungutan iuran, artinya gereja gereja telah membayar iuran itu ke Majelis Sinode tetapi majelis sinode tidak meneruskannya ke Dana Pensiun.
  2. Iuran tidak disetor, artinya MODAL AWAL sudah lama disetor, tinggal Iuran yang tidak mereka setor, bandingkan dengan bunyi tulisan dibalik kupon diatas, yang menekankan Hutang Kewajiban Awal sejak tahun 1988 !!. (artinya masalah ini sudah 20 Tahun dipelihara !!)
  3. Dana Pensiun GPIB, artinya lembaga ini mulanya milik GPIB sendiri, artinya Majelis Sinode membentuk Lembaga Dana Pensiun sendiri, mirip seperti anak perusahaan, jika benar begitu maka kenapa bisa terjadi hutang ? kenapa bisa terjadi bunga berbunga denda berdenda ? siapa yang menangguk untung ? siapa yang buntung ?. Jika kita membuka internet maka disana ada surat yang mengatakan bahwa kerugian ini disebabkan oleh oknum Majelis Sinode yang menyalah gunakan keuangan, jika kita hubungkan dengan Laporan Tim Kajian diatas yang menyebutkan pada perode 1997 s/d 1999 tidak ada penyetoran dari Majelis Sinode ke Dana Pensiun, apakah ini pangkal masalahnya ? apakah ini sebuah petunjuk atau kaitan benang merahnya ? apakah benar ada dugaan tindak penggelapan yang dilakukan oleh oknum ? apakah ada pelaporan seakan akan disetorkan padahal faktanya tidak disetor ?? jika benar maka oknum itulah yang harus diproses, hartanya disita, bukan malah didiamkan, dimaklumi tapi kerugian itu menjadi tanggungan jemaat.

Permasalahan Dana Pensiun sudah berlangsung lama tapi para PHMJ di gereja gereja tidak mau membayarnya karena :

  1. Yang Bertanggung jawab adalah Majelis Sinode bukan gereja apalagi jemaat, gereja sudah melakukan kewajibannya dengan membayar iuran dana pensiun secara rutin ke Majelis Sinode.
  2. PHMJ tidak mau membebani jemaat akan kerugian yang tidak jemaat lakukan.
  3. PHMJ menimbangnya dari segi keadilan, adilkah jika jemaat yang banyak hidup dalam kesederhanaan, yang tidak mendapatkan pensiun harus membantu pensiunan pendeta agar uang pensiun yang diterimanya menjadi bertambah besar ? (Ingat Pensiunan Pendeta sudah  mendapatkan uang pensiun walau dalam jumlah yang kecil).
  4. PHMJ tidak mau Jemaat mengetahui kebobrokan oknum pejabat / permasalahan di Pusat/ Majelis Sinode, karena jika jemaat mengetahui maka bagaimana bisa menegakkan ajaran kristus jika Pejabat di Markas Besar saja sudah berbuat seperti itu ? artinya harkat dan martabat Majelis Sinode jadi hancur lebur.

Sehingga sangat disayangkan kupon yang bertanggal April 2007  itu  (Menandakan waktu itu penerapan kupon terjadi penolakan diberbagai gereja) bisa lolos dan dibaca oleh Jemaat, apalagi dibalik kupon itu tertulis kalimat yang memalukan seperti diatas. Atau Majelis Sinode lebih mementingkan pemasukan dana daripada hancurnya harkat dan martabat lembaga Majelis Sinode. Suatu pilihan yang sangat menyedihkan sekaligus memalukan !!

Ditingkat bawah ada beberapa Pendeta / PHMJ dibeberapa gereja yang bersikap bijak dimana mereka berupaya menyembunyikan persoalan atau kebobrokan diatas dan berupaya agar tulisan dibalik kupon itu tidak dibaca oleh jemaat maka mereka berkorban membayarnya dari Kas Jemaat, bukan menariknya secara langsung dari Jemaat.  Bukankah Kas Jemaat juga berasal dari pemberian para jemaat ??? artinya langkah ini bijak walau mereka tidak berani (baca Pengecut) menjalankan fungsi kenabian mereka yaitu menegur atau menasehati para atasan yang duduk disinggasana diatas.

Persoalan dana pensiun adalah persoalan Pendeta/ karyawan dan Majelis Sinode, bukan persoalan Jemaat, cukup banyak beban jemaat untuk menjalankan roda aktivitas pelayanan, ingat jemaat sendiripun banyak yang tidak menentu masa depannya, banyak yang tidak mendapat pensiun. Rasanya gereja lebih banyak merongrong keuangan jemaat daripada anak kita sendiri, kantong kolekte dibuat 2 padahal penggunaan dan pencatatannya sama, ada 2 kotak yang diletakkan didepan gereja untuk disumbang, ada kolekte kebaktian Kaum Bapak, Kaum Ibu, Pemuda, Taruna, Anak Anak, Ada Amplop Persembahan Tetap Bulanan, Ada Amplop HUT Ulang Tahun Jemaat, Ada Perpuluhan,  Ada Tarikan untuk melaksanakan Kegiatan Retreat, Natal, Paskah, HUT GPIB, Diakonia dll. Apa arti dan makna sesungguhnya dari gereja ? apa visi dan misi gereja ?

Pemberian kupon dana pensiun ke jemaat malah membongkar borok lama dan mempermalukan diri sendiri. Apalagi jika kita mengingat Majelis Sinode telah menjual Rumah Sakit Mardi Santosa yang terletak di jalan Bubutan Surabaya dimana didalam Buku diatas pada halaman 98 – 118 tertulis betapa diduga banyak permainan terjadi hingga bukan keuntungan yang didapat tapi diperkirakan membawa kerugian senilai Total  Rp. 26.049.463.400 (Baca 26 Milyard lebih) baca halaman 115 . Sungguh menyedihkan GPIB sampai ditertawakan orang sebagai gereja tukang jual aset !!. dan tidak bisa menggunakan/memanfaatkan uang hasil penjualan aset tersebut.

Ada tulisan yang sangat menarik didalam buku ini yaitu dihalaman 101 yaitu pada bagian Pelayanan dan Kesaksian.

  1. INTERNAL :
  1. Kepemimpinan GPIB sebagai lembaga spiritual telah bergeser menjadi kepemimpinan duniawi yang meninggalkan fungsi pelayanan dan menonjolkan fungsi komersiilnya dan nyaris mengubah status GPIB sebagai Badan Sosial Keagamaan menjadi BADAN USAHA !.
  2. Wibawa dan Citra Majelis Sinode menurun sangat tajam, disamping itu terjadi saling curiga diantara kelompok kelompok dalam GPIB.
  1. EKSTERNAL :
  1. Citra GPIB dimasyarakat dan dalam pandangan gereja lain adalah sangat buruk.
  2. Dengan kebijaksanaan penjualan aset Rumah Sakit Mardi Santoso tersebut, maka wadah pelayanan dan kesaksian yang selama berpuluh tahun berfungsi dengan baik tidak lagi dapat dilanjutkan khusus bagi kalangan masyarakat menengah kebawah di kota Surabaya.

KESIMPULAN :

  1. Profesionalisme diabaikan.
  2. Rasa memiliki pada Majelis Sinode XV terhadap GPIB adalah minim.
  3. Tidak melalui procedure sesuai ketentuan yang berlaku.
  4. Misi / Visi GPIB diabaikan.
  5. Citra GPIB mengalami Degradasi.
  6. Dari segi keuangan GPIB menderita kerugian yang besar.

REKOMENDASI :

  1. Penerapan kasih harus disertai dengan keadilan dan kebenaran.
  2. Penyimpangan harus ditindak lanjuti melalui jalur hukum untuk mendapat kepastian hukum.
  3. Pembekuan Kegiatan Yayasan Bina Kesehatan GPIB.
  4. Perlu kelengkapan perangkat aturan yang jelas.
  5. A. RS Griya Husada (Sebagai Pengganti RS Mardi Sentoso) untuk dapat beroperasi harus memenuhi syarat :
    1. Dikelola secara profesional dengan tenaga professional.
    2. Harus menyediakan dana yang cukup besar.

B. RS Griya Husada dijual apabila ad A tidak bisa dipenuhi.

Dibuat oleh Tim Pengkaji RS Griya Husada:

  1. Pendeta HH. Jacob, S.TH.
  2. Penatua Ray Tumondo.
  3. Penatua Hendrik Tuwanakotta.
  4. Penatua Bambang Harijono.
  5. Penatua E.B. Sirait.

Dan dihalaman 97 Point II. Tertulis “ Mengenai Konven pendeta GPIB saya sebagai Penatua melihat : Isinya hanya melulu tuntutan tuntutan kesejahteraan Pendeta dan hak hak pendeta saja, dimana itu pelayanan dan kewajiban pendeta dalam hal pembangunan jemaat ? Tidak ada !!. Demikian Catatan Catatan Presentasi Komisi VI (Khusus) yang ditanda tangani oleh Penatua K.D. Hutabarat selaku Ketua dan Pendeta Ny. K. Foony Barahama-Pattipeilohy selaku Sekretaris.

Hal diatas menunjukkan permasalahan gereja GPIB sudah terjadi sejak lama, didalam lingkup mereka saja sudah ada yang melihat, sudah ada yang mengkritisinya secara pedas tapi rupanya sampai sekarang belum ada perubahan. Memang saya mengetahui masih cukup banyak ada pendeta yang benar tapi biasanya di zaman seperti ini orang orang benar malah disingkirkan, ditenggelamkan…dan golongan ini biasanya juga cari selamat, mereka hanya beraninya berdoa dan berdoa tanpa berani menjadi martir kebenaran.

  1. BERBAGAI PERMASALAHAN LAINNYA.

Akibat ketidak mampuan pucuk pimpinan maka berakibat kacau balaunya hidup bergereja dan berjemaat di tingkat bawah dibeberapa gereja diberbagai negeri ini, oknum oknum ini berupaya merangkul dan menguasai PHMJ dan Majelis Jemaat ditempat dirinya bertugas,  juga berlomba memperkaya diri sendiri, mereka berlagak jadi penguasa yang otoriter, mereka berlagak jadi orang yang maha benar, mereka tidak punya rasa memiliki dan mencintai GPIB, Tidak mau menjaga nama baik gerejanya apalagi nama dan jabatan kependetaannya, kerugian yang dibuat oleh rekannya tidak diusut, tidak dibebankan pada pelaku. Jika tidak sehaluan maka akan dimusuhi, disingkirkan, akan dipecat. Cukup banyak jemaat yang lari menjauh, Mereka lupa bahwa gereja adalah tempat utama untuk saling belajar dan mengajar, saling menasehati agar kita bisa bertumbuh dalam iman, moral, sikap yaitu hidup benar, hidup baik, hidup penuh kasih.

Baru baru ini di gereja GPIB Bukit Harapan Surabaya banyak jemaat dikejutkan karena pembantu atau Cleaning Service atau Koster Gereja akan Dipensiun (bahasa kasarnya dipecat dengan hormat, tapi namanya juga pembantu berstatus honorer jelas tidak mendapatkan uang pensiun), pembantu ini terkejut karena pada saat perekrutan tidak ada keterangan bahwa mereka bekerja hanya sebatas usia 55 tahun (Lucunya dalam iklan mencari penggantinya di Warta Jemaat 21 Juni syaratnya adalah maksimal berusia 45 tahun jadi minimal tugasnya hanya 10 tahun karena di usia 55 tahun mereka diberhentikan, jika ingin cari orang yang bertenaga kuat kenapa tidak mencari para pemuda berusia 20 an tahun ?), mereka yang akan dipensiun ini mengetahui dirinya akan dipensiun hanya dari Warta diatas, mereka tidak diberitahu apalagi diberi persiapan persiapan / bimbingan agar mereka kuat memasuki masa pensiun, jika diperusahaan ada Masa Persiapan Pensiun (MPP) untuk mempersiapkan diri berwira usaha atau mencari pekerjaan lain, bayangkan Pendeta yang bergaji besar dan berpendidikan tinggi, dan beriman kuat saja gentar dan bermuka muram saat memikirkan akan memasuki masa pensiun yang sudah diketahui saatnya, apalagi pembantu gereja yang tiba tiba akan dipensiun !!. Tenaga honorer seperti mereka tidak selalu terikat pada aturan kepegawaian, selama mereka mampu melaksanakan tugas maka alangkah baiknya jika kita tetap memakai jasa mereka, jika perlu sampai ahir hayat mereka kita ikut ambil bagian memelihara, merawat mereka. Jika ada kesalahan atau kekurangan atau sikap yang tidak baik dari mereka maka menjadi tugas para Manager (PHMJ/Pendeta) untuk membinanya, untuk mendidiknya. Jika mereka orang pintar maka jelas mereka tidak jadi pembantu, mungkin jadi pegawai tetap disuatu perusahaan. Jika istri atau suami kita berperilaku tidak baik maka tugas pasangannya untuk membinanya, bukan menceraikannya/ memecatnya jadi istri/suami. Gereja bukan sebuah perusahaan Pencari Laba, yang selalu memperhitungkan dalam takaran Untung dan Rugi, Gereja adalah tempat belajar mengajar dan menerapkan  pelayanan dan menjalankan kasih. Saya sering kagum melihat beberapa perusahaan yang mau menerima karyawan yang mengalami cacat fisik mereka membiarkan bekerja walau hanya dalam beberapa jam belaka, mereka membiarkan karyawan lamanya tetap bekerja walau sudah tua renta, mereka tidak menjalankan gerakan habis manis sepah dibuang,  mereka menjalankan fungsi sosialnya, kenapa gereja tidak lebih baik dari mereka ?, ada gereja yang gencar melakukan bakti  sosial, para janda atau anak yatim atau Lansia disantuni, kenapa kita tidak tetap mempekerjakan orang yang masih mampu dan mau melaksanakan tugas daripada kita menyantuni orang secara Cuma Cuma ? biarkanlah mereka bekerja melayani dirumah Tuhan…melayani dirumah Tuhan walau hanya sebagai tukang sapu sangatlah membanggakan bagi sebagian orang,  semua keputusan memang hak orang yang menjabat atau yang punya kuasa, tapi saya tetap menghimbau gunakanlah hati nurani… waspadalah akan pengaruh si jahat…kita ingin mempermuliakan nama Tuhan bukan malah mempermalukanNYA. Janganlah kita menambah pengangguran dinegeri ini, janganlah kita mematahkan angan baik dari orang orang yang bisa kita bantu.

Akhir kata :

Janganlah kita mengajarkan agar hidup kudus tapi kita menajiskan diri, kita mengajarkan untuk memaafkan tapi kita pendendam, kita mengajarkan agar jadi Garam dan Terang serta tidak mengikuti cara cara dunia tapi  mengurus IMB gereja kita  menyogok pejabat, kita mengajarkan agar hidup tulus dan cerdik tapi kita tidak tulus dan suka bohong membohongi !!

Janganlah kita marah karena ada saudara miskin kita yang memang perlu bantuan meminjam uang sebesar total 100 Ribu hingga 1 Juta kepada 1 – 3 orang saudara kita yang kaya karena kita malah mendukung para pendeta MEMINTA (Baca bukan MEMINJAM) uang pada seluruh jemaaat ( +/- 300 KK) termasuk jemaat miskin yang jika ditotal jumlahnya bisa mencapai 50 juta – 100 juta per gereja !!

Untuk mengembalikan Gereja pada rel dan roh yang sebenarnya perlu upaya keras, perlu perjuangan dan pengorbanan, tapi itu harus dilakukan jika tidak nama boleh tetap Gereja tapi maknanya sudah jauh berbeda…..

Labih Basar.

Jl. Griya Kebraon Barat VIII – BH 4 Surabaya.

Tembusan : Kebeberapa gereja GPIB .

Saya mengingatkan kembali akan sebagian kecil ayat ayat yang sering dikumandangkan atau “dijual” oleh para pendeta kepada jemaatnya, yaitu :

Amsal  3:35 Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh.

Amsal  5:23 Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.

Amsal  14:33 Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal.

Amsal  10:23 Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal, sebagaimana melakukan hikmat bagi orang yang pandai.

Amsal  17:23 Orang fasik menerima hadiah suapan dari pundi-pundi untuk membelokkan jalan hukum.

Amsal  21:13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.

Mazmur 37:30 Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum.

I Raja Raja 3:28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Amsal  15:33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

Amsal  1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Amsal  9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

Amsal  10:13 Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.

Pengkhotbah  4:13 Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.

Pengkhotbah 9:15-16 di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu. Kataku: “Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan, tetapi hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang.”

Yesaya 32:17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

AMSAL 29:2-7 Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat. Orang yang mencintai hikmat menggembirakan ayahnya, tetapi siapa yang bergaul dengan pelacur memboroskan harta. Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya. Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya. Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita. Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.

Yehezkiel 34:2-7 “Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman.Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorang pun yang memperhatikan atau yang mencarinya.Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN:

Kis 20:33- 35 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Galatia 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Matius  7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Matius  24:11 Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.

Berbahagialah orang yang mendengarkan kritikan, jika tidak maka ia akan mati oleh pujian semu….

—————————–00000——————————

CATATAN TAMBAHAN (28-6-09)

Contoh contoh kebijaksanaan itu ada disekitar kehidupan pribadi pribadi PHMJ kita misal :

  1. Bapak RONNY BUISAN yang telah dipensiun dari tugasnya sebagai seorang militer (PEGAWAI TETAP) bisa bekerja ditampung di sebuah perusahaan swasta. Artinya seorang yang sudah memasuki masa pensiun masih productive, masih bisa bekerja dan berkarya, bapak Ronny masih bisa bertugas dimalam hari. Institusi militer membantu para militer yang akan memasuki masa pensiun dengan mencarikan pekerjaan buat mereka, jika dilingkungan militer ada tenaga honorer pastilah mereka akan menempatkannya disitu, karena tidak ada maka mereka mencarikannya diluar.
  1. Dikantor bapak KURNAIN yaitu PT. AGRINDO dimana istri saya juga bekerja disana juga mengedepankan kebijaksanaan dan kasih dimana Karyawan Tetapnya yang memasuki masa pensiun memang dipensiunkan TAPI mereka tetap meminta karyawan tersebut bekerja disana dengan status KONTRAK KERJA yang ditanda tangani setiap tahun selama karyawan yang bersangkutan mampu menjalankan tugasnya.
  1. Dan kita juga pernah mendengar ada pejabat pemerintah ataupun militer yang DIPERPANJANG masa pensiunnya karena tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan, atau dipensiunkan tapi direkrut sebagai tenaga ahli.

Tiga contoh diatas adalah penanganan membantu KARYAWAN TETAP yang dipensiun karena aturan. Tapi bagi Karyawan HONORER apalagi sekelas Pembantu, Sopir, Tukang Kebun, Petugas Keamanan maka mereka tidak perlu diterapkan oleh batasan usia pensiun. Sehingga perusahaan tidak perlu mempensiunkan mereka tidak repot mencarikan pekerjaan buat mereka, mereka tetap bisa dipakai selama mereka Mau dan Mampu menjalankan tugas. Bayangkan penanganan Pegawai Tetap yang bergaji lebih besar dari Pegawai Honorer dan mendapatkan Uang Pesangon besar saat pensiun ditambah uang pensiun bulanan saja harus ditangani dengan baik, apalagi tenaga honorer yang tidak diberi pesangon besar dan tidak diberi uang pensiun bulanan !! Status Tenaga Honorer bukan menjadi senjata kita melindas atau melibas seseorang apalagi terjadi dilingkungan gereja yang selalu mengajarkan Kasih.

Saya sepakat bagi KARYAWAN TETAP harus mengikuti aturan bila waktunya pensiun maka harus dipensiunkan,  karena aturan harus ditegakkan apalagi berkaitan dengan sistim Pengkaderan yang berkaitan dengan perekrutan, penempatan tenaga/karyawan baru yang telah dipersiapkan, tapi jika kita memerlukan tenaga dan pikirannya, jika kita mengasihi mereka maka bisa kita kontrak menjadi tenaga KONTRAKAN  atau tenaga HONORER seperti yang dilakukan oleh PT. AGRINDO diatas.

Seorang tenaga HONORER tidak terikat pada beberapa aturan yang diterapkan pada Karyawan Tetap, sehingga tidak mendapatkan hak yang sama dengan Karyawan Tetap seperti Gaji yang lebih kecil, tidak dapat THR/bonus atau dapat THR/bonus tapi dalam jumlah kecil, tidak dapat bantuan kesehatan, tidak dapat uang tunjangan cuti. Tidak dapat uang pensiun. Demikian pula dengan Masa Pensiun, mereka tidak terikat karena biasanya tenaga HONORER adalah suatu kebijaksanaan lokal (Bukan PUSAT) sehingga nama/status kepegawaiannya TIDAK tercatat secara resmi di induk perusahaan/instansi, mereka tidak punya nomor induk kepegawaian, dalam skala kecil kita melihat dirumah tangga kita ada pembantu/sopir/tukang kebun yang sudah berumur 70 an tahun tetap dipakai dari menjaga anak/rumah kita hingga menjaga cucu/rumah cucu kita, disinilah kita bermain dalam KEBIJAKSANAAN, dalam HIKMAT yang dituntut dijalankan oleh Umat Pilihan Allah, Oleh umat yang mengakui Yesus yang maha kasih itu sebagai pemimpin segala galanya.

Apa yang dituntut dari kita  agar  kedamaian tercipta dibumi ini ? tidak lain adalah HIKMAT / KEBIJAKSANAAN dan Akal Budi  (AKAL yang BERBUDI bukan akal jahat, bukan akal menang menangan.

Pada saat kita mendoakan uang yang dipersembahkan oleh jemaat dengan kalimat, “untuk dipergunakan bagi kemuliaan nama Tuhan” maka kita harus mempertanggung jawabkan ucapan itu, uang jemaat diperuntukkan pada hal yang semestinya, uang jemaat digunakan untuk pelayanan bagi orang yang tidak mampu, membantu yang berkekurangan, syukur memberi uang tidak percuma karena diberi imbal balik berupa pelayanan oleh pembantu /sopir tenaga honorer, uang jemaat yang telah didoakan bukan uang pribadi kita….

Mahkota orang beriman adalah Takut akan Tuhan disitulah Permulaan dari HIKMAT, dan kita seimbangkan fungsi otak kiri kita (pengetahuan) dan otak kanan kita (Hikmat) agar membuat hati kita bersih dan baik, agar dari hati yang mempengaruhi tingkah laku dan tutur kata kita nama Tuhan dipermuliakan. Jagalah hati jangan kau nodai…

Kita bisa salah langkah tapi jika kita mau berbesar hati mengakui kesalahan untuk memperbaikinya maka itu menyenangkan hati Tuhan, tapi jika gengsi dan kekuasaan sebagai pejabat gereja dikedepankan maka Tuhan semakin berduka melihat anak anaknya punya pendirian yang keras… keras berpegang pada keburukan. Kasih harus diwujud nyatakan dalam perbuatan, kasih tidak akan pilih kasih.

Sekian dan terima kasih.

Hormat saya,

Labih Basar