Surabaya 26 Juni 2009

Kepada Majelis Sinode GPIB

Di Tempat.

Hal :     Teguran dan Nasehat dari seorang jemaat kepada

Majelis Sinode GPIB.

Dengan hormat,

Sehubungan dengan beredarnya Kupon KEPEDULIAN DANA PENSIUN PENDETA / PEGAWAI GPIB yang dibuat oleh Majelis Sinode GPIB dan diedarkan keseluruh warga jemaat GPIB di Seluruh Indonesia dengan maksud agar jemaat mau berpartisipasi memberikan dananya, dimana setiap KK warga jemaat Bukit Harapan Surabaya diberi BEBAN TANGGUNGAN sebesar Rp. 170.000,- ( 17 lembar kupon).

Disini saya mempermasalahkan akan 3 hal yaitu :

  1. Isi tulisan di balik lembar kupon  yang berjudul “ Yang Masih Terlupakan”.
  2. Kenapa Kupon itu beredar dan menjadi beban Jemaat.
  3. dan berbagai permasalahan lainnya.

1. ISI TULISAN DILEMBAR KUPON

Dibelakang lembar kupon terdapat tulisan sebagai berikut :

Yang Masih Terlupakan

Mereka adalah para pendeta dan karyawan GPIB, Mereka hari ini berjumlah sekitar 900 orang, ketika menjalankan tugas panggilan MEREKA BERKORBAN, ketika tugas selesai MEREKA TERBENGKALAI.

GPIB berusaha untuk memperbaiki masa depan mereka, dua kali Yayasan Dana Pensiun tidak berdaya, sejak tahun 1988 dengan segala keterbatasan dibentuk Dana Pensiun GPIB sesuai Undang Undang Dana Pensiun R.I.

Keterbatasan sejak tahun 1988 berarti hutang, Kewajiban Awal yang harus dipenuhi terus membengkak sekitar Dua Puluh Milyard rupiah.

Tantangan kita adalah KETULUSAN dan KEJUJURAN agar Bertolong tolongan dalam memikul beban supaya memenuhi HUKUM KRISTUS (Galatia 6 : 2)

Lembaran kupon yang sedang dibaca oleh saudara terkasih adalah TANTANGAN IMAN untuk MENGASIHI

ULURKAN TANGAN, BERIKAN BANTUAN buatlah mereka yang SEDANG MELAYANI  TERSENYUM menatap masa depan, yang SUDAH USAI menunaikan tugas menaikkan syukur dan pujian

BIAR MEREKA TAHU  Tuhan MENGINGAT MEREKA melalui bantuan kita, Tuhan yang sama melimpahkan rahmat bagi tiap kita yang MELAKUKAN KEHENDAK NYA.

Kupon itu ditanda tangani oleh Pendeta Samuel Th. Kaihatu selaku Ketua Umum Majelis Sinode GPIB dan Pendeta Jeffrey W. Ch. Sompotan selaku Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB.

Dan oleh GPIB Bukit Harapan kupon itu dimasukkan kedalam amplop yang bertuliskan PERSEMBAHAN DANA PENSIUN, jika persembahan kenapa untuk pendeta ? jika persembahan kenapa menetapkan angka Rp. 170.000,- ? dan mungkin karena menilai tulisan dibalik kupon itu sangat rohani, sangat menyentuh sanubari maka pihak Bukit Harapan menuliskannya kembali dalam surat tertanggal 20 Mei 2009 dengan nomor 85/Bk.H/V/2009 yang ditanda tangani oleh Pendeta F.P. Silitonga, M.Min selaku Ketua dan Penatua Ny. Rusmiatun. M selaku Sekretaris.

Saat saya membacanya maka saya menjadi terperanjat karena beginikah kualitas iman para pemimpin pusat gereja GPIB ku ? jika pemimpinnya saja sudah begini bagaimana dengan kualitas para pendeta yang ditugaskan disetiap gereja GPIB yang tersebar di seluruh negeri ini !!, dan lebih bagaimana lagi dengan kualitas iman para jemaatnya  !!.

Coba kita lihat dan cermati tulisan diatas, hampir semua kalimat itu bermasalah dan mempermalukan ! coba kita melihat satu persatu :

  1. Ketika menjalankan Tugas Panggilan mereka BERKORBAN, ketika tugas selesai mereka TERBENGKALAI.
  2. Tantangan kita adalah KETULUSAN dan KEJUJURAN agar bertolong tolongan dalam memikul beban supaya memenuhi hukum Kristus.
  3. Lembaran kupon yang sedang dibaca oleh saudara terkasih adalah tantangan iman untuk mengasihi.
  4. Ulurkan tangan, berikan bantuan, buatlah mereka yang sedang melayani (Baca : Pendeta/karyawan Aktif) tersenyum menatap masa depan, yang sudah usai menunaikan tugas (Baca : Pendeta/karyawan yang sudah pensiun ) menaikkan syukur dan pujian.
  5. Biar mereka (Baca : Pendeta/karyawan) tahu Tuhan mengingat mereka melalui bantuan kita.

Kalimat demi kalimat diatas mencerminkan bahwa para pemimpin pusat, para pengajar iman, etika dan moral, Pembina para pendeta, orang yang seharusnya jadi  teladan bagi murid Kristus ternyata kualitasnya sangat memprihatinkan, mereka melakukan hal yang bertentangan dengan  apa yang mereka imani dan ajarkan ke umatnya.

Sudah hampir 1 abad ini tidak ada pendeta yang berkorban dalam melakukan tugasnya (jika dahulu benar ada pendeta yang tidak digaji, tapi itu bukan pengorbanan tapi menjalankan tugas dan panggilanNYA ! kala itu mereka hanya diberi honor ala kadarnya, yang melayani dibayar singkong, telur dll, jika ada kondangan maka dia membawa seluruh keluarganya agar bisa makan yang enak) apalagi di lingkungan gereja gereja besar seperti GPIB. GPIB sebagai sebuah organisasi gereja yang besar sudah memiliki tatanan aturan yang baik dan memberikan penghasilan serta fasilitas yang baik bagi pendeta dan karyawannya. Pensiunan pendetanya sudah mendapatkan uang pensiun bulanan walau masih dalam jumlah yang kecil.

Pendeta GPIB mendapatkan penghasilannya berupa :

  1. Gaji, seorang pendeta bergaji kurang lebih 3.500.000,- (Gabungan Gaji Minimal Ketentuan Majelis Sinode ditambah dengan Gaji dari Gereja setempat) per bulan, dimana gaji ini adalah gaji bersih karena mereka juga mendapatkan RUMAH DINAS lengkap dengan barang inventarisnya (Tempat tidur, lemari, meja kursi, AC, TV, Komputer, Lemari Pendingin, mesin cuci, Kompor, seterika hingga ember / kain pel, kertas tissue !)  dimana biaya Listrik, Telpon/internet, Air, Pembantu rumah tangga, laundry kain gordyn ditanggung atau dibayar oleh gereja setempat, Pendeta juga mendapatkan KENDARAAN DINAS (Mobil dan atau Motor) dimana pengeluaran bahan bakarnya ditanggung atau dibayar oleh gereja. Pendeta mendapat bantuan BIAYA BEROBAT jika mereka atau keluarganya sakit, Pendeta juga mendapat TUNJANGAN PEMBELIAN BUKU dan Koran agar mereka lebih pintar lagi.
  1. Tunjangan Natal dan Tunjangan Cuti masing masing besarnya 1 bulan gaji sehingga dalam 1 tahun seorang pendeta mendapat total 14 bulan gaji, seorang pendeta saat menjalani cuti akan diberi uang tunjangan cuti yang besarnya 1 bulan gaji. Jika perusahaan lain mau memberi Uang Pengganti Cuti karena pegawai tersebut tidak mengambil cutinya, lain halnya dengan pendeta yang diberi uang tunjangan cuti saat pendetanya mengambil cuti !.( Baca Cuti tidak bekerja tapi gaji tetap diberikan ditambah dengan pemberian uang Tunjangan Cuti !).
  1. Pendapatan lain lain :
    1. Honor Khotbah tukar mimbar digereja lain (antar GPIB maupun diluar GPIB) biasanya 2 kali (a’ 2-3 kali naik mimbar) dalam sebulan dimana honornya sudah ditetapkan sebesar Kurang lebih Rp. 250.000,- untuk tingkat Regio (Kota) dan kurang lebih Rp. 300.000,- untuk tingkat MUPEL (Propinsi) ini tergantung kesepakatan di Regio/Mupel setempat, per sekali naik mimbar sehingga dalam 1 bulan pendeta mendapatkan honor  dari tukar mimbar =  2 X 3 X Rp. 250.000 = Rp. 1.500.000,-.
    1. Honor khotbah Pengucapan Syukur di Jemaat / luar jemaatnya (Syukur HUT, Perkawinan, Naik Pangkat/Jabatan, Lulus Sekolah, Sembuh Sakit, hingga suksesnya PEMAKAMAN !)  minimal 1 X dalam sebulan berkisar Rp. 300.000,- hingga Rp. 1 Juta tergantung kemurahan hati jemaat / panitia pelaksananya.
    1. Uang / barang pemberian dari Jemaatnya dimana mereka memberi karena : 1. Merasa pendeta layak dibantu karena dikiranya seorang pendeta itu hidup berkekurangan. 2. Beranggapan jika memberi pendeta akan diberkati oleh Tuhan, sehingga banyak jemaat yang tidak mengerti akan firman Tuhan lebih mengutamakan memberi seorang pendeta daripada memberi orang yang betul betul berkekurangan.
    1. Masa kerja seorang pendeta di sebuah gereja selama 5 tahun, dan di 5 tahun berikutnya mereka pindah melayani digereja lainnya, dimana disetiap saat ahir masa tugasnya disebuah gereja banyak warga jemaat memberikan uang secara pribadi kepadanya,  jika ditotal pemberian Warga Jemaat dan Lembaga Gereja setempat nilainya kurang lebih  20 Juta hingga 100 Juta !! (Baca : Anggap hadiah / pesangon untuk 5 tahun masa tugasnya), tergantung besarnya jemaat dan kemampuan keuangan jemaatnya, pendeta bisa mengalami perpindahan tugas sebanyak 5 – 6 kali selama masa baktinya, Pemberian ini jelas menambah pundi pundi tabungannya untuk dipergunakan dimasa tuanya. Disetiap perpindahan ini segala biaya tiket / biaya transportasi sekeluarga hingga pengiriman barang apapun menjadi tanggung jawab gereja.

Sehingga  seorang pendeta bisa meraup penghasilan “tetap” minimal 5 juta per bulan (BERSIH), dimana uang ini hanya digunakan untuk Biaya Makan, Sekolah anak anak dan Pakaian/hiburan, jadi jika mereka pintar mengelola keuangannya maka mereka bisa menabung 1 – 1 ½ juta per bulan…

Seorang Karyawan Tetap gereja ( bukan pendeta ) juga mendapat gaji diatas UMR, mendapat THR Natal, Uang Lembur, hingga Extra Puding ( Camilan di Kantor ), padahal beban kerja karyawan gereja sangatlah ringan jika dibandingkan dengan perusahaan kecil.

Jadi dari segi mana para pemimpin  yang berkantor di Majelis Sinode ( Baca Mabes nya GPIB) bisa atau berani mengatakan Pendeta itu BERKORBAN saat menjalankan tugasnya ? apakah selama ini mereka selalu merasa terbebani ?, apakah selama ini mereka tidak tulus melayani ? (Kata dan makna MELAYANI ini juga sudah tidak tepat karena mereka layaknya sebagai orang yang PROFESIONAL, yaitu bekerja – dibayar), apakah mereka selalu dongkol dan  cemberut dalam melaksanakan tugasnya ? Jika mereka mengatakan diri BERKORBAN artinya segala penghasilan yang diterima dianggap tidak memadai ! dianggap kecil !! maka ada pilihan bijak bagi mereka yaitu : SEGERA KELUAR dari GPIB !!! biar mereka mencari gereja yang mau memberi mereka penghasilan yang lebih besar daripada mereka bekerja dengan memaksa diri !!, sangat tidak baik bagi mereka selaku teladan dan juga Jemaat selaku murid jika mereka bekerja melayani diladang Tuhan dengan hati yang menggerutu, hati yang tidak tulus, hati yang tidak ikhlas.

Sangat memprihatinkan dan sangat kontras jika kita mengingat para pendeta mengajarkan umatnya untuk :

  1. Bersuka citalah senantiasa, mengucap syukurlah dalam segala hal. ( I Tes 5 : 16 – 18 ).
  2. Lebih berbahagia jika kita memberi daripada menerima. ( Kis 20 : 35 )
  3. Meminta pada Tuhan secukupnya, bukan sebanyak banyaknya. (Matius 6 : 11)
  4. Jangat takut, jangan kutir dalam mengarungi hidup bukankah burung diudara diberi makan ? bukankah bunga bakung dilembah diberi pakaian indah ? (Matius 6 : 25 – 34)

Padahal faktanya oknum oknum (baca banyak oknum)  pendeta itu begitu rapuh, ternyata mereka ditempa sebagai orang yang suka menerima daripada memberi, menerima pun ingin yang banyak dan mewah, jika tidak ada yang memberi maka mengemispun dilakukan,  egois ingin memikirkan akan kenyamanan dirinya sendiri tidak peduli bahwa jemaat masih banyak yang jauh berkekurangan dari dirinya, banyak jemaat yang masih bergaji dibawah dirinya (Baca mulai UMR Rp. 800 ribu hingga 3 juta) dimana jemaat harus membayar Listrik, Air, Telpon, transportasi (bensin/bemo), kontrak rumah, masih menganggur, sudah tidak bekerja tapi tidak mendapat pensiun, VISI dan MISI para oknum pendeta adalah Jemaat harus menyenangkan hatiku, jemaat harus membiayai kehidupan mewahku karena aku adalah Hamba Allah sipemilik alam semesta ini, Aku kan Pelayan tapi Pelayan yang Minta Dilayani !! Mereka lupa dan tutup mata akan ajaran / didikan Yesus Sang Kepala Gereja yaitu pola hidup sederhana, melayani bukan dilayani,  memberi bukan meminta apalagi mengemis, Menaruh Harap dan Percaya pada Tuhan bukan Kuatir,  mengangkat beban hidup jemaat bukan membebaninya…

Pantaslah ada olok olok dari jemaat :

  1. “ Lakukanlah seperti yang pendeta katakan dari atas mimbar, tapi jangan tiru kelakuannya sehari hari !”.
  2. “ Lihatlah pendeta selalu mengelus ngelus domba (baca Jemaat) gemuknya (baca : Kaya Raya) dan tidak peduli akan nasip domba kurus (Baca Jemaat Miskin)”.
  3. “Banyak serigala didalam gereja, sedikit domba diluar sana…” (Baca Gereja dikuasai oleh anti kristus yang Kurop,  menindas dan memeras serta menyelewengkan jemaatnya, yang diluar gereja malah orang baik baik…
  4. Jabatan sih pendeta tapi minta fasilitas layaknya Jenderal…

Terlihat sekali para pendeta ingin berdinas di gereja yang jemaatnya berjumlah banyak dan kaya raya yang biasa disebut tempat basah. Sehingga sering jemaat menduga ada permainan Majelis Sinode dalam penempatan “orang orang” nya.

Jika melihat permasalahan diatas maka tidaklah heran jika jemaat sering dipusingkan, dipermalukan oleh adanya oknum pendeta yang tidak tahu malu, yang serakah, yang memboroskan uang gereja/jemaat,  yang suka main perempuan, yang meniduri para janda, istri/anak gadis jemaat,  bukannya membina, mengajar jemaatnya untuk hidup lebih baik tapi malah dia memporak porandakan tatanan keharmonisan sebuah jemaat, hingga layaknya seperti “perampok”, “perusuh”, “benalu” bagi jemaatnya, bukannya damai sejahtera yang dibawa / ditularkannya tapi perkelahian dan pertengkaran,  Jemaatnya tidak dicerdaskan tapi dibodohkan agar bisa dibuat mainan atau jadi sapi perahan (Serupa dengan yang dilakukan para politikus hitam kita). Tidaklah heran jika cukup banyak pendeta yang sampai diusir atau diminta untuk pindah oleh jemaat / gerejanya.

Jadi Penyebutan Pendeta itu BERKORBAN saat menjalankan tugasnya adalah suatu pernyataan yang menyesatkan, pernyataan yang bodoh dan memalukan !!. Jika semasa aktifnya bertugas mereka pintar mengelola keuangan maka tidaklah mungkin mereka menjadi orang yang ter sia sia, orang yang Terbengkalai, apalagi Pendeta dalam berkhotbah tidak tergantung akan status pensiun ataupun aktif, jika dia pintar berkhotbah, jika dia rendah hati maka walau dimasa pensiunpun dirinya akan sering dipanggil untuk berkhotbah dan mendapat bayaran untuk itu, pendeta layaknya seorang dokter yang walaupun sudah pensiun dia masih bisa menjalankan praktek pribadinya.  Jika para pendeta aktif mau membantu keuangan pendeta pensiun yang tidak laris “ditanggapi” karena dilupakan oleh jemaat akibat semasa aktifnya tidak becus melayani, tidak pintar berkhotbah, suka menyusahkan jemaatnya,  maka mereka (pendeta aktif) bisa mengundang berkhotbah digereja yang dipimpinnya, tapi ini jelas merugikan pendeta aktif karena biasanya mereka suka mendahulukan tukar mimbar dengan sesama pendeta aktif agar dirinya sama sama mendapatkan duit, jika dirinya mengundang pendeta pensiun maka dirinya akan berkhotbah dimana ? jelas dirinya tidak dapat duit. Oleh sebab itu Pendeta aktif lah yang sering melupakan pendeta pensiun !!.

Jika pendetanya tidak tulus dan tidak jujur dalam melayani maka hasilnya terlihat pada jemaat yang diajarkannya, murid meniru gurunya, guru kencing berdiri maka murid kencing berlari, buah tidak akan berbeda nama dari pohonnya.

Jangan berkata jemaat harus ikut memikul beban Pendeta karena Pendetanya sendiri tidak peduli pada beban yang dipikul oleh jemaatnya. Jika mereka pintar dan bijak maka kupon itu dimintakan hanya pada jemaat kaya saja bukan jemaat miskin dilibatkan juga,  Tantangan iman itu bukan pada memberi para pengemis berjubah pendeta, tapi pada orang yang benar benar tidak mampu, para janda atau anak yatim yang tidak mampu. Jemaat diminta mengulurkan tangan (baca Memberi) kepada guru iman agar mereka tersenyum ? jadi selama ini mereka tidak tulus dalam melayani, tidak suka cita dalam bekerja diladang Tuhan, mereka merasa dirinya terpaksa atau dipaksa !! siapa yang memaksa ? mereka bersuka cita jika dirinya hidup dalam berkelimpahan. Dalam ilmu Manajemen, jika bawahan sudah tidak punya sukacita dalam melakukan pekerjaan maka jangan harap dirinya mau bekerja dengan baik, dirinya akan selalu berhitung akan detik dan daya yang dikeluarkannya tanpa memperhitungkan akan upah yang diterimanya, akan kerugian yang diderita oleh perusahaan, orang seperti ini sekelas binatang babi yang dipelihara dikandang, jika lapar mereka akan berteriak dan meronta tidak peduli bahwa sang pemberi makan sedang sakit !! orang seperti ini harus ditawarkan 2 pilihan yaitu : 1. Keluar. 2. Mengikuti aturan main perusahaan.

Dan yang paling memalukan kita adalah pernyataan ahir di tulisan itu yaitu  “ Biar mereka (Baca Pendeta) tahu bahwa Tuhan mengingat mereka melalui bantuan kita “. Jika begini maka tampak begitu kotor dan sesatnya pemikiran dan keimanan para pendeta kita, mereka lupa atau sengaja menutup mata akan betapa banyaknya berkat Tuhan yang mereka terima, berkat Tuhan diartikan hanya sebatas pada kelimpahan materi semata,  saya yakin jika mereka berkesulitan hidup maka mereka bisa berubah jadi penghujat Tuhan, mereka bisa menyangkal akan iman mereka. Inilah kalimat yang paling memilukan ! paling memalukan dari kalimat memalukan lainnya.

Sebenarnya yang berkorban itu adalah :

1. Majelis Jemaat, dimana mereka tidak digaji tapi mereka benar benar melayani dan menyokong dana buat gereja, jadi mereka berkorban Uang, Waktu dan Tenaga/ Pikiran, tapi mereka tidak pernah menyatakan diri berkorban, karena ini adalah panggilan Iman.

2. Jemaat, karena mereka selalu diminta untuk memberikan uang buat menjalankan roda pelayanan gereja, mereka jadi obyek atau sapi perahan. Apa imbal balik yang mereka dapatkan ? hanya doa… doa dari orang yang tidak jelas keimanannya.

Sedangkan pendeta dia digaji lebih dari cukup, diberi fasilitas berlebih… Jadi pendeta bukan golongan orang yang berkorban…bukan pula orang yang dikorbankan…. tetapi cukup banyak oknum pendeta yang mengorbankan jemaat dan gerejanya.

2. KENAPA KUPON ITU BEREDAR DAN MENJADI BEBAN JEMAAT ?

Diperusahaan manapun yang menerapkan pemberian uang pensiun bagi karyawannya yang purna tugas  maka saat karyawan itu aktif gajinya langsung dipotong iuran dana pensiun, demikian pula di GPIB, gaji para pendeta / karyawan sudah dipotong iuran dana pensiun, iuran itu dibayarkan oleh gereja setempat ke pihak Majelis Sinode. Tetapi kenapa iuran dana pensiun yang disetorkan masih tidak mecukupi sehingga dikatakan GPIB terhutang uang lebih dari  20 Milyard pada Lembaga Dana Pensiun GPIB ? kenapa jemaat diminta  untuk ikut membayarnya ? Tidak pernah disebutkan secara jelas atau secara rinci akan kenapa bisa terjadi hutang yang bunga berbunga, denda berdenda hingga mencapai lebih dari 20 Milyard !! (posisi hutang dibulan April 2007—sesuai tanggal kupon) sehingga kemungkinan sekarang sudah jauh membengkak lagi,  Seharusnya Majelis Sinode menjelaskannya secara jujur akan kronologisnya !! jangan sampai karena kesalahan oknum Majelis Sinode diperiode terdahulu menjadi beban Jemaat, diatas yang tertawa dan kenyang, dibawah resah dan gelisah serta kurus kering akibat diperas !!. Beranikah Majelis Sinode menjelaskannya secara Jujur sesuai kejujuran yang dituntut untuk dijalani oleh orang orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus kepala gereja kita ?, berani atau sanggupkah Majelis Jemaat untuk mengatakan kebenaran ? Jika memang benar ada ketidak benaran disana apakah pernah majelis sinode meminta maaf kepada gereja dan jemaatnya ?. Ditingkat bawah ada yang mengatakan GPIB berutang pada pemerintah…pemerintah atau lembaga mana yang mau memberi pinjaman pada sebuah organisasi gereja tanpa ada jaminan, apalagi hutang itu sudah begitu lama (Puluhan Tahun) tidak terbayar bunga berbunga, denda beranak denda hingga hutang itu mencapai lebih dari 20 MILYARD !!. Jika Pemerintah maka pasti sudah ditindak KPK, jika lembaga bank pasti managernya sudah dipecat. Jadi untuk kejelasannya maka kami minta agar Majelis Sinode mau menjelaskannya secara transparan diserta bukti buktinya. Semoga tidak ada dusta diantara kita…

Jika saya membaca buku Hasil Persidangan Sinode Istimewa GPIB 2002 yang diadakan di Wisma Kinasih Cemerlang, Caringin Bogor pada tanggal 3 – 6 Maret 2002, pada hal 95 point 3 dari Masalah Masalah Yang Dihadapi Pengelola Dana Pensiun tertulis : “Dari informasi yang kami dapat bahwa pada tahun 1997 s/d 1999 pungutan iuran tidak disetor oleh Majelis Sinode kepada Dana Pensiun dalam Perode diatas”. Dan salah satu Rekomendasi yang diberikan oleh Tim Pengkajian Dana Pensiun GPIB Komisi VI (Khusus) adalah : Apabila butir butir A diatas tidak dapat dipenuhi maka kami menyarankan membubarkan Dana Pensiun GPIB dan mengalihkan kepada Dana Pensiun Lembaga Keuangan yang Lain”. Disini dengan jelas tertulis :

  1. Diperiode 1997 s/d 1999 Majelis Sinode tidak menyetor pungutan iuran, artinya gereja gereja telah membayar iuran itu ke Majelis Sinode tetapi majelis sinode tidak meneruskannya ke Dana Pensiun.
  2. Iuran tidak disetor, artinya MODAL AWAL sudah lama disetor, tinggal Iuran yang tidak mereka setor, bandingkan dengan bunyi tulisan dibalik kupon diatas, yang menekankan Hutang Kewajiban Awal sejak tahun 1988 !!. (artinya masalah ini sudah 20 Tahun dipelihara !!)
  3. Dana Pensiun GPIB, artinya lembaga ini mulanya milik GPIB sendiri, artinya Majelis Sinode membentuk Lembaga Dana Pensiun sendiri, mirip seperti anak perusahaan, jika benar begitu maka kenapa bisa terjadi hutang ? kenapa bisa terjadi bunga berbunga denda berdenda ? siapa yang menangguk untung ? siapa yang buntung ?. Jika kita membuka internet maka disana ada surat yang mengatakan bahwa kerugian ini disebabkan oleh oknum Majelis Sinode yang menyalah gunakan keuangan, jika kita hubungkan dengan Laporan Tim Kajian diatas yang menyebutkan pada perode 1997 s/d 1999 tidak ada penyetoran dari Majelis Sinode ke Dana Pensiun, apakah ini pangkal masalahnya ? apakah ini sebuah petunjuk atau kaitan benang merahnya ? apakah benar ada dugaan tindak penggelapan yang dilakukan oleh oknum ? apakah ada pelaporan seakan akan disetorkan padahal faktanya tidak disetor ?? jika benar maka oknum itulah yang harus diproses, hartanya disita, bukan malah didiamkan, dimaklumi tapi kerugian itu menjadi tanggungan jemaat.

Permasalahan Dana Pensiun sudah berlangsung lama tapi para PHMJ di gereja gereja tidak mau membayarnya karena :

  1. Yang Bertanggung jawab adalah Majelis Sinode bukan gereja apalagi jemaat, gereja sudah melakukan kewajibannya dengan membayar iuran dana pensiun secara rutin ke Majelis Sinode.
  2. PHMJ tidak mau membebani jemaat akan kerugian yang tidak jemaat lakukan.
  3. PHMJ menimbangnya dari segi keadilan, adilkah jika jemaat yang banyak hidup dalam kesederhanaan, yang tidak mendapatkan pensiun harus membantu pensiunan pendeta agar uang pensiun yang diterimanya menjadi bertambah besar ? (Ingat Pensiunan Pendeta sudah  mendapatkan uang pensiun walau dalam jumlah yang kecil).
  4. PHMJ tidak mau Jemaat mengetahui kebobrokan oknum pejabat / permasalahan di Pusat/ Majelis Sinode, karena jika jemaat mengetahui maka bagaimana bisa menegakkan ajaran kristus jika Pejabat di Markas Besar saja sudah berbuat seperti itu ? artinya harkat dan martabat Majelis Sinode jadi hancur lebur.

Sehingga sangat disayangkan kupon yang bertanggal April 2007  itu  (Menandakan waktu itu penerapan kupon terjadi penolakan diberbagai gereja) bisa lolos dan dibaca oleh Jemaat, apalagi dibalik kupon itu tertulis kalimat yang memalukan seperti diatas. Atau Majelis Sinode lebih mementingkan pemasukan dana daripada hancurnya harkat dan martabat lembaga Majelis Sinode. Suatu pilihan yang sangat menyedihkan sekaligus memalukan !!

Ditingkat bawah ada beberapa Pendeta / PHMJ dibeberapa gereja yang bersikap bijak dimana mereka berupaya menyembunyikan persoalan atau kebobrokan diatas dan berupaya agar tulisan dibalik kupon itu tidak dibaca oleh jemaat maka mereka berkorban membayarnya dari Kas Jemaat, bukan menariknya secara langsung dari Jemaat.  Bukankah Kas Jemaat juga berasal dari pemberian para jemaat ??? artinya langkah ini bijak walau mereka tidak berani (baca Pengecut) menjalankan fungsi kenabian mereka yaitu menegur atau menasehati para atasan yang duduk disinggasana diatas.

Persoalan dana pensiun adalah persoalan Pendeta/ karyawan dan Majelis Sinode, bukan persoalan Jemaat, cukup banyak beban jemaat untuk menjalankan roda aktivitas pelayanan, ingat jemaat sendiripun banyak yang tidak menentu masa depannya, banyak yang tidak mendapat pensiun. Rasanya gereja lebih banyak merongrong keuangan jemaat daripada anak kita sendiri, kantong kolekte dibuat 2 padahal penggunaan dan pencatatannya sama, ada 2 kotak yang diletakkan didepan gereja untuk disumbang, ada kolekte kebaktian Kaum Bapak, Kaum Ibu, Pemuda, Taruna, Anak Anak, Ada Amplop Persembahan Tetap Bulanan, Ada Amplop HUT Ulang Tahun Jemaat, Ada Perpuluhan,  Ada Tarikan untuk melaksanakan Kegiatan Retreat, Natal, Paskah, HUT GPIB, Diakonia dll. Apa arti dan makna sesungguhnya dari gereja ? apa visi dan misi gereja ?

Pemberian kupon dana pensiun ke jemaat malah membongkar borok lama dan mempermalukan diri sendiri. Apalagi jika kita mengingat Majelis Sinode telah menjual Rumah Sakit Mardi Santosa yang terletak di jalan Bubutan Surabaya dimana didalam Buku diatas pada halaman 98 – 118 tertulis betapa diduga banyak permainan terjadi hingga bukan keuntungan yang didapat tapi diperkirakan membawa kerugian senilai Total  Rp. 26.049.463.400 (Baca 26 Milyard lebih) baca halaman 115 . Sungguh menyedihkan GPIB sampai ditertawakan orang sebagai gereja tukang jual aset !!. dan tidak bisa menggunakan/memanfaatkan uang hasil penjualan aset tersebut.

Ada tulisan yang sangat menarik didalam buku ini yaitu dihalaman 101 yaitu pada bagian Pelayanan dan Kesaksian.

  1. INTERNAL :
  1. Kepemimpinan GPIB sebagai lembaga spiritual telah bergeser menjadi kepemimpinan duniawi yang meninggalkan fungsi pelayanan dan menonjolkan fungsi komersiilnya dan nyaris mengubah status GPIB sebagai Badan Sosial Keagamaan menjadi BADAN USAHA !.
  2. Wibawa dan Citra Majelis Sinode menurun sangat tajam, disamping itu terjadi saling curiga diantara kelompok kelompok dalam GPIB.
  1. EKSTERNAL :
  1. Citra GPIB dimasyarakat dan dalam pandangan gereja lain adalah sangat buruk.
  2. Dengan kebijaksanaan penjualan aset Rumah Sakit Mardi Santoso tersebut, maka wadah pelayanan dan kesaksian yang selama berpuluh tahun berfungsi dengan baik tidak lagi dapat dilanjutkan khusus bagi kalangan masyarakat menengah kebawah di kota Surabaya.

KESIMPULAN :

  1. Profesionalisme diabaikan.
  2. Rasa memiliki pada Majelis Sinode XV terhadap GPIB adalah minim.
  3. Tidak melalui procedure sesuai ketentuan yang berlaku.
  4. Misi / Visi GPIB diabaikan.
  5. Citra GPIB mengalami Degradasi.
  6. Dari segi keuangan GPIB menderita kerugian yang besar.

REKOMENDASI :

  1. Penerapan kasih harus disertai dengan keadilan dan kebenaran.
  2. Penyimpangan harus ditindak lanjuti melalui jalur hukum untuk mendapat kepastian hukum.
  3. Pembekuan Kegiatan Yayasan Bina Kesehatan GPIB.
  4. Perlu kelengkapan perangkat aturan yang jelas.
  5. A. RS Griya Husada (Sebagai Pengganti RS Mardi Sentoso) untuk dapat beroperasi harus memenuhi syarat :
    1. Dikelola secara profesional dengan tenaga professional.
    2. Harus menyediakan dana yang cukup besar.

B. RS Griya Husada dijual apabila ad A tidak bisa dipenuhi.

Dibuat oleh Tim Pengkaji RS Griya Husada:

  1. Pendeta HH. Jacob, S.TH.
  2. Penatua Ray Tumondo.
  3. Penatua Hendrik Tuwanakotta.
  4. Penatua Bambang Harijono.
  5. Penatua E.B. Sirait.

Dan dihalaman 97 Point II. Tertulis “ Mengenai Konven pendeta GPIB saya sebagai Penatua melihat : Isinya hanya melulu tuntutan tuntutan kesejahteraan Pendeta dan hak hak pendeta saja, dimana itu pelayanan dan kewajiban pendeta dalam hal pembangunan jemaat ? Tidak ada !!. Demikian Catatan Catatan Presentasi Komisi VI (Khusus) yang ditanda tangani oleh Penatua K.D. Hutabarat selaku Ketua dan Pendeta Ny. K. Foony Barahama-Pattipeilohy selaku Sekretaris.

Hal diatas menunjukkan permasalahan gereja GPIB sudah terjadi sejak lama, didalam lingkup mereka saja sudah ada yang melihat, sudah ada yang mengkritisinya secara pedas tapi rupanya sampai sekarang belum ada perubahan. Memang saya mengetahui masih cukup banyak ada pendeta yang benar tapi biasanya di zaman seperti ini orang orang benar malah disingkirkan, ditenggelamkan…dan golongan ini biasanya juga cari selamat, mereka hanya beraninya berdoa dan berdoa tanpa berani menjadi martir kebenaran.

  1. BERBAGAI PERMASALAHAN LAINNYA.

Akibat ketidak mampuan pucuk pimpinan maka berakibat kacau balaunya hidup bergereja dan berjemaat di tingkat bawah dibeberapa gereja diberbagai negeri ini, oknum oknum ini berupaya merangkul dan menguasai PHMJ dan Majelis Jemaat ditempat dirinya bertugas,  juga berlomba memperkaya diri sendiri, mereka berlagak jadi penguasa yang otoriter, mereka berlagak jadi orang yang maha benar, mereka tidak punya rasa memiliki dan mencintai GPIB, Tidak mau menjaga nama baik gerejanya apalagi nama dan jabatan kependetaannya, kerugian yang dibuat oleh rekannya tidak diusut, tidak dibebankan pada pelaku. Jika tidak sehaluan maka akan dimusuhi, disingkirkan, akan dipecat. Cukup banyak jemaat yang lari menjauh, Mereka lupa bahwa gereja adalah tempat utama untuk saling belajar dan mengajar, saling menasehati agar kita bisa bertumbuh dalam iman, moral, sikap yaitu hidup benar, hidup baik, hidup penuh kasih.

Baru baru ini di gereja GPIB Bukit Harapan Surabaya banyak jemaat dikejutkan karena pembantu atau Cleaning Service atau Koster Gereja akan Dipensiun (bahasa kasarnya dipecat dengan hormat, tapi namanya juga pembantu berstatus honorer jelas tidak mendapatkan uang pensiun), pembantu ini terkejut karena pada saat perekrutan tidak ada keterangan bahwa mereka bekerja hanya sebatas usia 55 tahun (Lucunya dalam iklan mencari penggantinya di Warta Jemaat 21 Juni syaratnya adalah maksimal berusia 45 tahun jadi minimal tugasnya hanya 10 tahun karena di usia 55 tahun mereka diberhentikan, jika ingin cari orang yang bertenaga kuat kenapa tidak mencari para pemuda berusia 20 an tahun ?), mereka yang akan dipensiun ini mengetahui dirinya akan dipensiun hanya dari Warta diatas, mereka tidak diberitahu apalagi diberi persiapan persiapan / bimbingan agar mereka kuat memasuki masa pensiun, jika diperusahaan ada Masa Persiapan Pensiun (MPP) untuk mempersiapkan diri berwira usaha atau mencari pekerjaan lain, bayangkan Pendeta yang bergaji besar dan berpendidikan tinggi, dan beriman kuat saja gentar dan bermuka muram saat memikirkan akan memasuki masa pensiun yang sudah diketahui saatnya, apalagi pembantu gereja yang tiba tiba akan dipensiun !!. Tenaga honorer seperti mereka tidak selalu terikat pada aturan kepegawaian, selama mereka mampu melaksanakan tugas maka alangkah baiknya jika kita tetap memakai jasa mereka, jika perlu sampai ahir hayat mereka kita ikut ambil bagian memelihara, merawat mereka. Jika ada kesalahan atau kekurangan atau sikap yang tidak baik dari mereka maka menjadi tugas para Manager (PHMJ/Pendeta) untuk membinanya, untuk mendidiknya. Jika mereka orang pintar maka jelas mereka tidak jadi pembantu, mungkin jadi pegawai tetap disuatu perusahaan. Jika istri atau suami kita berperilaku tidak baik maka tugas pasangannya untuk membinanya, bukan menceraikannya/ memecatnya jadi istri/suami. Gereja bukan sebuah perusahaan Pencari Laba, yang selalu memperhitungkan dalam takaran Untung dan Rugi, Gereja adalah tempat belajar mengajar dan menerapkan  pelayanan dan menjalankan kasih. Saya sering kagum melihat beberapa perusahaan yang mau menerima karyawan yang mengalami cacat fisik mereka membiarkan bekerja walau hanya dalam beberapa jam belaka, mereka membiarkan karyawan lamanya tetap bekerja walau sudah tua renta, mereka tidak menjalankan gerakan habis manis sepah dibuang,  mereka menjalankan fungsi sosialnya, kenapa gereja tidak lebih baik dari mereka ?, ada gereja yang gencar melakukan bakti  sosial, para janda atau anak yatim atau Lansia disantuni, kenapa kita tidak tetap mempekerjakan orang yang masih mampu dan mau melaksanakan tugas daripada kita menyantuni orang secara Cuma Cuma ? biarkanlah mereka bekerja melayani dirumah Tuhan…melayani dirumah Tuhan walau hanya sebagai tukang sapu sangatlah membanggakan bagi sebagian orang,  semua keputusan memang hak orang yang menjabat atau yang punya kuasa, tapi saya tetap menghimbau gunakanlah hati nurani… waspadalah akan pengaruh si jahat…kita ingin mempermuliakan nama Tuhan bukan malah mempermalukanNYA. Janganlah kita menambah pengangguran dinegeri ini, janganlah kita mematahkan angan baik dari orang orang yang bisa kita bantu.

Akhir kata :

Janganlah kita mengajarkan agar hidup kudus tapi kita menajiskan diri, kita mengajarkan untuk memaafkan tapi kita pendendam, kita mengajarkan agar jadi Garam dan Terang serta tidak mengikuti cara cara dunia tapi  mengurus IMB gereja kita  menyogok pejabat, kita mengajarkan agar hidup tulus dan cerdik tapi kita tidak tulus dan suka bohong membohongi !!

Janganlah kita marah karena ada saudara miskin kita yang memang perlu bantuan meminjam uang sebesar total 100 Ribu hingga 1 Juta kepada 1 – 3 orang saudara kita yang kaya karena kita malah mendukung para pendeta MEMINTA (Baca bukan MEMINJAM) uang pada seluruh jemaaat ( +/- 300 KK) termasuk jemaat miskin yang jika ditotal jumlahnya bisa mencapai 50 juta – 100 juta per gereja !!

Untuk mengembalikan Gereja pada rel dan roh yang sebenarnya perlu upaya keras, perlu perjuangan dan pengorbanan, tapi itu harus dilakukan jika tidak nama boleh tetap Gereja tapi maknanya sudah jauh berbeda…..

Labih Basar.

Jl. Griya Kebraon Barat VIII – BH 4 Surabaya.

Tembusan : Kebeberapa gereja GPIB .

Saya mengingatkan kembali akan sebagian kecil ayat ayat yang sering dikumandangkan atau “dijual” oleh para pendeta kepada jemaatnya, yaitu :

Amsal  3:35 Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh.

Amsal  5:23 Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.

Amsal  14:33 Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal.

Amsal  10:23 Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal, sebagaimana melakukan hikmat bagi orang yang pandai.

Amsal  17:23 Orang fasik menerima hadiah suapan dari pundi-pundi untuk membelokkan jalan hukum.

Amsal  21:13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.

Mazmur 37:30 Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum.

I Raja Raja 3:28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Amsal  15:33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

Amsal  1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Amsal  9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

Amsal  10:13 Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.

Pengkhotbah  4:13 Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.

Pengkhotbah 9:15-16 di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu. Kataku: “Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan, tetapi hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang.”

Yesaya 32:17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

AMSAL 29:2-7 Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat. Orang yang mencintai hikmat menggembirakan ayahnya, tetapi siapa yang bergaul dengan pelacur memboroskan harta. Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya. Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya. Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita. Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.

Yehezkiel 34:2-7 “Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman.Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorang pun yang memperhatikan atau yang mencarinya.Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN:

Kis 20:33- 35 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Galatia 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Matius  7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Matius  24:11 Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.

Berbahagialah orang yang mendengarkan kritikan, jika tidak maka ia akan mati oleh pujian semu….

—————————–00000——————————

CATATAN TAMBAHAN (28-6-09)

Contoh contoh kebijaksanaan itu ada disekitar kehidupan pribadi pribadi PHMJ kita misal :

  1. Bapak RONNY BUISAN yang telah dipensiun dari tugasnya sebagai seorang militer (PEGAWAI TETAP) bisa bekerja ditampung di sebuah perusahaan swasta. Artinya seorang yang sudah memasuki masa pensiun masih productive, masih bisa bekerja dan berkarya, bapak Ronny masih bisa bertugas dimalam hari. Institusi militer membantu para militer yang akan memasuki masa pensiun dengan mencarikan pekerjaan buat mereka, jika dilingkungan militer ada tenaga honorer pastilah mereka akan menempatkannya disitu, karena tidak ada maka mereka mencarikannya diluar.
  1. Dikantor bapak KURNAIN yaitu PT. AGRINDO dimana istri saya juga bekerja disana juga mengedepankan kebijaksanaan dan kasih dimana Karyawan Tetapnya yang memasuki masa pensiun memang dipensiunkan TAPI mereka tetap meminta karyawan tersebut bekerja disana dengan status KONTRAK KERJA yang ditanda tangani setiap tahun selama karyawan yang bersangkutan mampu menjalankan tugasnya.
  1. Dan kita juga pernah mendengar ada pejabat pemerintah ataupun militer yang DIPERPANJANG masa pensiunnya karena tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan, atau dipensiunkan tapi direkrut sebagai tenaga ahli.

Tiga contoh diatas adalah penanganan membantu KARYAWAN TETAP yang dipensiun karena aturan. Tapi bagi Karyawan HONORER apalagi sekelas Pembantu, Sopir, Tukang Kebun, Petugas Keamanan maka mereka tidak perlu diterapkan oleh batasan usia pensiun. Sehingga perusahaan tidak perlu mempensiunkan mereka tidak repot mencarikan pekerjaan buat mereka, mereka tetap bisa dipakai selama mereka Mau dan Mampu menjalankan tugas. Bayangkan penanganan Pegawai Tetap yang bergaji lebih besar dari Pegawai Honorer dan mendapatkan Uang Pesangon besar saat pensiun ditambah uang pensiun bulanan saja harus ditangani dengan baik, apalagi tenaga honorer yang tidak diberi pesangon besar dan tidak diberi uang pensiun bulanan !! Status Tenaga Honorer bukan menjadi senjata kita melindas atau melibas seseorang apalagi terjadi dilingkungan gereja yang selalu mengajarkan Kasih.

Saya sepakat bagi KARYAWAN TETAP harus mengikuti aturan bila waktunya pensiun maka harus dipensiunkan,  karena aturan harus ditegakkan apalagi berkaitan dengan sistim Pengkaderan yang berkaitan dengan perekrutan, penempatan tenaga/karyawan baru yang telah dipersiapkan, tapi jika kita memerlukan tenaga dan pikirannya, jika kita mengasihi mereka maka bisa kita kontrak menjadi tenaga KONTRAKAN  atau tenaga HONORER seperti yang dilakukan oleh PT. AGRINDO diatas.

Seorang tenaga HONORER tidak terikat pada beberapa aturan yang diterapkan pada Karyawan Tetap, sehingga tidak mendapatkan hak yang sama dengan Karyawan Tetap seperti Gaji yang lebih kecil, tidak dapat THR/bonus atau dapat THR/bonus tapi dalam jumlah kecil, tidak dapat bantuan kesehatan, tidak dapat uang tunjangan cuti. Tidak dapat uang pensiun. Demikian pula dengan Masa Pensiun, mereka tidak terikat karena biasanya tenaga HONORER adalah suatu kebijaksanaan lokal (Bukan PUSAT) sehingga nama/status kepegawaiannya TIDAK tercatat secara resmi di induk perusahaan/instansi, mereka tidak punya nomor induk kepegawaian, dalam skala kecil kita melihat dirumah tangga kita ada pembantu/sopir/tukang kebun yang sudah berumur 70 an tahun tetap dipakai dari menjaga anak/rumah kita hingga menjaga cucu/rumah cucu kita, disinilah kita bermain dalam KEBIJAKSANAAN, dalam HIKMAT yang dituntut dijalankan oleh Umat Pilihan Allah, Oleh umat yang mengakui Yesus yang maha kasih itu sebagai pemimpin segala galanya.

Apa yang dituntut dari kita  agar  kedamaian tercipta dibumi ini ? tidak lain adalah HIKMAT / KEBIJAKSANAAN dan Akal Budi  (AKAL yang BERBUDI bukan akal jahat, bukan akal menang menangan.

Pada saat kita mendoakan uang yang dipersembahkan oleh jemaat dengan kalimat, “untuk dipergunakan bagi kemuliaan nama Tuhan” maka kita harus mempertanggung jawabkan ucapan itu, uang jemaat diperuntukkan pada hal yang semestinya, uang jemaat digunakan untuk pelayanan bagi orang yang tidak mampu, membantu yang berkekurangan, syukur memberi uang tidak percuma karena diberi imbal balik berupa pelayanan oleh pembantu /sopir tenaga honorer, uang jemaat yang telah didoakan bukan uang pribadi kita….

Mahkota orang beriman adalah Takut akan Tuhan disitulah Permulaan dari HIKMAT, dan kita seimbangkan fungsi otak kiri kita (pengetahuan) dan otak kanan kita (Hikmat) agar membuat hati kita bersih dan baik, agar dari hati yang mempengaruhi tingkah laku dan tutur kata kita nama Tuhan dipermuliakan. Jagalah hati jangan kau nodai…

Kita bisa salah langkah tapi jika kita mau berbesar hati mengakui kesalahan untuk memperbaikinya maka itu menyenangkan hati Tuhan, tapi jika gengsi dan kekuasaan sebagai pejabat gereja dikedepankan maka Tuhan semakin berduka melihat anak anaknya punya pendirian yang keras… keras berpegang pada keburukan. Kasih harus diwujud nyatakan dalam perbuatan, kasih tidak akan pilih kasih.

Sekian dan terima kasih.

Hormat saya,

Labih Basar

Surabaya 26 Juni 2009

Kepada Majelis Sinode GPIB

Di Tempat.

Hal :     Teguran dan Nasehat dari seorang jemaat kepada

Majelis Sinode GPIB.

Dengan hormat,

Sehubungan dengan beredarnya Kupon KEPEDULIAN DANA PENSIUN PENDETA / PEGAWAI GPIB yang dibuat oleh Majelis Sinode GPIB dan diedarkan keseluruh warga jemaat GPIB di Seluruh Indonesia dengan maksud agar jemaat mau berpartisipasi memberikan dananya, dimana setiap KK warga jemaat Bukit Harapan Surabaya diberi BEBAN TANGGUNGAN sebesar Rp. 170.000,- ( 17 lembar kupon).

Disini saya mempermasalahkan akan 3 hal yaitu :

  1. Isi tulisan di balik lembar kupon  yang berjudul “ Yang Masih Terlupakan”.
  2. Kenapa Kupon itu beredar dan menjadi beban Jemaat.
  3. dan berbagai permasalahan lainnya.

1. ISI TULISAN DILEMBAR KUPON

Dibelakang lembar kupon terdapat tulisan sebagai berikut :

Yang Masih Terlupakan

Mereka adalah para pendeta dan karyawan GPIB, Mereka hari ini berjumlah sekitar 900 orang, ketika menjalankan tugas panggilan MEREKA BERKORBAN, ketika tugas selesai MEREKA TERBENGKALAI.

GPIB berusaha untuk memperbaiki masa depan mereka, dua kali Yayasan Dana Pensiun tidak berdaya, sejak tahun 1988 dengan segala keterbatasan dibentuk Dana Pensiun GPIB sesuai Undang Undang Dana Pensiun R.I.

Keterbatasan sejak tahun 1988 berarti hutang, Kewajiban Awal yang harus dipenuhi terus membengkak sekitar Dua Puluh Milyard rupiah.

Tantangan kita adalah KETULUSAN dan KEJUJURAN agar Bertolong tolongan dalam memikul beban supaya memenuhi HUKUM KRISTUS (Galatia 6 : 2)

Lembaran kupon yang sedang dibaca oleh saudara terkasih adalah TANTANGAN IMAN untuk MENGASIHI

ULURKAN TANGAN, BERIKAN BANTUAN buatlah mereka yang SEDANG MELAYANI  TERSENYUM menatap masa depan, yang SUDAH USAI menunaikan tugas menaikkan syukur dan pujian

BIAR MEREKA TAHU  Tuhan MENGINGAT MEREKA melalui bantuan kita, Tuhan yang sama melimpahkan rahmat bagi tiap kita yang MELAKUKAN KEHENDAK NYA.

Kupon itu ditanda tangani oleh Pendeta Samuel Th. Kaihatu selaku Ketua Umum Majelis Sinode GPIB dan Pendeta Jeffrey W. Ch. Sompotan selaku Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB.

Dan oleh GPIB Bukit Harapan kupon itu dimasukkan kedalam amplop yang bertuliskan PERSEMBAHAN DANA PENSIUN, jika persembahan kenapa untuk pendeta ? jika persembahan kenapa menetapkan angka Rp. 170.000,- ? dan mungkin karena menilai tulisan dibalik kupon itu sangat rohani, sangat menyentuh sanubari maka pihak Bukit Harapan menuliskannya kembali dalam surat tertanggal 20 Mei 2009 dengan nomor 85/Bk.H/V/2009 yang ditanda tangani oleh Pendeta F.P. Silitonga, M.Min selaku Ketua dan Penatua Ny. Rusmiatun. M selaku Sekretaris.

Saat saya membacanya maka saya menjadi terperanjat karena beginikah kualitas iman para pemimpin pusat gereja GPIB ku ? jika pemimpinnya saja sudah begini bagaimana dengan kualitas para pendeta yang ditugaskan disetiap gereja GPIB yang tersebar di seluruh negeri ini !!, dan lebih bagaimana lagi dengan kualitas iman para jemaatnya  !!.

Coba kita lihat dan cermati tulisan diatas, hampir semua kalimat itu bermasalah dan mempermalukan ! coba kita melihat satu persatu :

  1. Ketika menjalankan Tugas Panggilan mereka BERKORBAN, ketika tugas selesai mereka TERBENGKALAI.
  2. Tantangan kita adalah KETULUSAN dan KEJUJURAN agar bertolong tolongan dalam memikul beban supaya memenuhi hukum Kristus.
  3. Lembaran kupon yang sedang dibaca oleh saudara terkasih adalah tantangan iman untuk mengasihi.
  4. Ulurkan tangan, berikan bantuan, buatlah mereka yang sedang melayani (Baca : Pendeta/karyawan Aktif) tersenyum menatap masa depan, yang sudah usai menunaikan tugas (Baca : Pendeta/karyawan yang sudah pensiun ) menaikkan syukur dan pujian.
  5. Biar mereka (Baca : Pendeta/karyawan) tahu Tuhan mengingat mereka melalui bantuan kita.

Kalimat demi kalimat diatas mencerminkan bahwa para pemimpin pusat, para pengajar iman, etika dan moral, Pembina para pendeta, orang yang seharusnya jadi  teladan bagi murid Kristus ternyata kualitasnya sangat memprihatinkan, mereka melakukan hal yang bertentangan dengan  apa yang mereka imani dan ajarkan ke umatnya.

Sudah hampir 1 abad ini tidak ada pendeta yang berkorban dalam melakukan tugasnya (jika dahulu benar ada pendeta yang tidak digaji, tapi itu bukan pengorbanan tapi menjalankan tugas dan panggilanNYA ! kala itu mereka hanya diberi honor ala kadarnya, yang melayani dibayar singkong, telur dll, jika ada kondangan maka dia membawa seluruh keluarganya agar bisa makan yang enak) apalagi di lingkungan gereja gereja besar seperti GPIB. GPIB sebagai sebuah organisasi gereja yang besar sudah memiliki tatanan aturan yang baik dan memberikan penghasilan serta fasilitas yang baik bagi pendeta dan karyawannya. Pensiunan pendetanya sudah mendapatkan uang pensiun bulanan walau masih dalam jumlah yang kecil.

Pendeta GPIB mendapatkan penghasilannya berupa :

  1. Gaji, seorang pendeta bergaji kurang lebih 3.500.000,- (Gabungan Gaji Minimal Ketentuan Majelis Sinode ditambah dengan Gaji dari Gereja setempat) per bulan, dimana gaji ini adalah gaji bersih karena mereka juga mendapatkan RUMAH DINAS lengkap dengan barang inventarisnya (Tempat tidur, lemari, meja kursi, AC, TV, Komputer, Lemari Pendingin, mesin cuci, Kompor, seterika hingga ember / kain pel, kertas tissue !)  dimana biaya Listrik, Telpon/internet, Air, Pembantu rumah tangga, laundry kain gordyn ditanggung atau dibayar oleh gereja setempat, Pendeta juga mendapatkan KENDARAAN DINAS (Mobil dan atau Motor) dimana pengeluaran bahan bakarnya ditanggung atau dibayar oleh gereja. Pendeta mendapat bantuan BIAYA BEROBAT jika mereka atau keluarganya sakit, Pendeta juga mendapat TUNJANGAN PEMBELIAN BUKU dan Koran agar mereka lebih pintar lagi.
  1. Tunjangan Natal dan Tunjangan Cuti masing masing besarnya 1 bulan gaji sehingga dalam 1 tahun seorang pendeta mendapat total 14 bulan gaji, seorang pendeta saat menjalani cuti akan diberi uang tunjangan cuti yang besarnya 1 bulan gaji. Jika perusahaan lain mau memberi Uang Pengganti Cuti karena pegawai tersebut tidak mengambil cutinya, lain halnya dengan pendeta yang diberi uang tunjangan cuti saat pendetanya mengambil cuti !.( Baca Cuti tidak bekerja tapi gaji tetap diberikan ditambah dengan pemberian uang Tunjangan Cuti !).
  1. Pendapatan lain lain :
    1. Honor Khotbah tukar mimbar digereja lain (antar GPIB maupun diluar GPIB) biasanya 2 kali (a’ 2-3 kali naik mimbar) dalam sebulan dimana honornya sudah ditetapkan sebesar Kurang lebih Rp. 250.000,- untuk tingkat Regio (Kota) dan kurang lebih Rp. 300.000,- untuk tingkat MUPEL (Propinsi) ini tergantung kesepakatan di Regio/Mupel setempat, per sekali naik mimbar sehingga dalam 1 bulan pendeta mendapatkan honor  dari tukar mimbar =  2 X 3 X Rp. 250.000 = Rp. 1.500.000,-.
    1. Honor khotbah Pengucapan Syukur di Jemaat / luar jemaatnya (Syukur HUT, Perkawinan, Naik Pangkat/Jabatan, Lulus Sekolah, Sembuh Sakit, hingga suksesnya PEMAKAMAN !)  minimal 1 X dalam sebulan berkisar Rp. 300.000,- hingga Rp. 1 Juta tergantung kemurahan hati jemaat / panitia pelaksananya.
    1. Uang / barang pemberian dari Jemaatnya dimana mereka memberi karena : 1. Merasa pendeta layak dibantu karena dikiranya seorang pendeta itu hidup berkekurangan. 2. Beranggapan jika memberi pendeta akan diberkati oleh Tuhan, sehingga banyak jemaat yang tidak mengerti akan firman Tuhan lebih mengutamakan memberi seorang pendeta daripada memberi orang yang betul betul berkekurangan.
    1. Masa kerja seorang pendeta di sebuah gereja selama 5 tahun, dan di 5 tahun berikutnya mereka pindah melayani digereja lainnya, dimana disetiap saat ahir masa tugasnya disebuah gereja banyak warga jemaat memberikan uang secara pribadi kepadanya,  jika ditotal pemberian Warga Jemaat dan Lembaga Gereja setempat nilainya kurang lebih  20 Juta hingga 100 Juta !! (Baca : Anggap hadiah / pesangon untuk 5 tahun masa tugasnya), tergantung besarnya jemaat dan kemampuan keuangan jemaatnya, pendeta bisa mengalami perpindahan tugas sebanyak 5 – 6 kali selama masa baktinya, Pemberian ini jelas menambah pundi pundi tabungannya untuk dipergunakan dimasa tuanya. Disetiap perpindahan ini segala biaya tiket / biaya transportasi sekeluarga hingga pengiriman barang apapun menjadi tanggung jawab gereja.

Sehingga  seorang pendeta bisa meraup penghasilan “tetap” minimal 5 juta per bulan (BERSIH), dimana uang ini hanya digunakan untuk Biaya Makan, Sekolah anak anak dan Pakaian/hiburan, jadi jika mereka pintar mengelola keuangannya maka mereka bisa menabung 1 – 1 ½ juta per bulan…

Seorang Karyawan Tetap gereja ( bukan pendeta ) juga mendapat gaji diatas UMR, mendapat THR Natal, Uang Lembur, hingga Extra Puding ( Camilan di Kantor ), padahal beban kerja karyawan gereja sangatlah ringan jika dibandingkan dengan perusahaan kecil.

Jadi dari segi mana para pemimpin  yang berkantor di Majelis Sinode ( Baca Mabes nya GPIB) bisa atau berani mengatakan Pendeta itu BERKORBAN saat menjalankan tugasnya ? apakah selama ini mereka selalu merasa terbebani ?, apakah selama ini mereka tidak tulus melayani ? (Kata dan makna MELAYANI ini juga sudah tidak tepat karena mereka layaknya sebagai orang yang PROFESIONAL, yaitu bekerja – dibayar), apakah mereka selalu dongkol dan  cemberut dalam melaksanakan tugasnya ? Jika mereka mengatakan diri BERKORBAN artinya segala penghasilan yang diterima dianggap tidak memadai ! dianggap kecil !! maka ada pilihan bijak bagi mereka yaitu : SEGERA KELUAR dari GPIB !!! biar mereka mencari gereja yang mau memberi mereka penghasilan yang lebih besar daripada mereka bekerja dengan memaksa diri !!, sangat tidak baik bagi mereka selaku teladan dan juga Jemaat selaku murid jika mereka bekerja melayani diladang Tuhan dengan hati yang menggerutu, hati yang tidak tulus, hati yang tidak ikhlas.

Sangat memprihatinkan dan sangat kontras jika kita mengingat para pendeta mengajarkan umatnya untuk :

  1. Bersuka citalah senantiasa, mengucap syukurlah dalam segala hal. ( I Tes 5 : 16 – 18 ).
  2. Lebih berbahagia jika kita memberi daripada menerima. ( Kis 20 : 35 )
  3. Meminta pada Tuhan secukupnya, bukan sebanyak banyaknya. (Matius 6 : 11)
  4. Jangat takut, jangan kutir dalam mengarungi hidup bukankah burung diudara diberi makan ? bukankah bunga bakung dilembah diberi pakaian indah ? (Matius 6 : 25 – 34)

Padahal faktanya oknum oknum (baca banyak oknum)  pendeta itu begitu rapuh, ternyata mereka ditempa sebagai orang yang suka menerima daripada memberi, menerima pun ingin yang banyak dan mewah, jika tidak ada yang memberi maka mengemispun dilakukan,  egois ingin memikirkan akan kenyamanan dirinya sendiri tidak peduli bahwa jemaat masih banyak yang jauh berkekurangan dari dirinya, banyak jemaat yang masih bergaji dibawah dirinya (Baca mulai UMR Rp. 800 ribu hingga 3 juta) dimana jemaat harus membayar Listrik, Air, Telpon, transportasi (bensin/bemo), kontrak rumah, masih menganggur, sudah tidak bekerja tapi tidak mendapat pensiun, VISI dan MISI para oknum pendeta adalah Jemaat harus menyenangkan hatiku, jemaat harus membiayai kehidupan mewahku karena aku adalah Hamba Allah sipemilik alam semesta ini, Aku kan Pelayan tapi Pelayan yang Minta Dilayani !! Mereka lupa dan tutup mata akan ajaran / didikan Yesus Sang Kepala Gereja yaitu pola hidup sederhana, melayani bukan dilayani,  memberi bukan meminta apalagi mengemis, Menaruh Harap dan Percaya pada Tuhan bukan Kuatir,  mengangkat beban hidup jemaat bukan membebaninya…

Pantaslah ada olok olok dari jemaat :

  1. “ Lakukanlah seperti yang pendeta katakan dari atas mimbar, tapi jangan tiru kelakuannya sehari hari !”.
  2. “ Lihatlah pendeta selalu mengelus ngelus domba (baca Jemaat) gemuknya (baca : Kaya Raya) dan tidak peduli akan nasip domba kurus (Baca Jemaat Miskin)”.
  3. “Banyak serigala didalam gereja, sedikit domba diluar sana…” (Baca Gereja dikuasai oleh anti kristus yang Kurop,  menindas dan memeras serta menyelewengkan jemaatnya, yang diluar gereja malah orang baik baik…
  4. Jabatan sih pendeta tapi minta fasilitas layaknya Jenderal…

Terlihat sekali para pendeta ingin berdinas di gereja yang jemaatnya berjumlah banyak dan kaya raya yang biasa disebut tempat basah. Sehingga sering jemaat menduga ada permainan Majelis Sinode dalam penempatan “orang orang” nya.

Jika melihat permasalahan diatas maka tidaklah heran jika jemaat sering dipusingkan, dipermalukan oleh adanya oknum pendeta yang tidak tahu malu, yang serakah, yang memboroskan uang gereja/jemaat,  yang suka main perempuan, yang meniduri para janda, istri/anak gadis jemaat,  bukannya membina, mengajar jemaatnya untuk hidup lebih baik tapi malah dia memporak porandakan tatanan keharmonisan sebuah jemaat, hingga layaknya seperti “perampok”, “perusuh”, “benalu” bagi jemaatnya, bukannya damai sejahtera yang dibawa / ditularkannya tapi perkelahian dan pertengkaran,  Jemaatnya tidak dicerdaskan tapi dibodohkan agar bisa dibuat mainan atau jadi sapi perahan (Serupa dengan yang dilakukan para politikus hitam kita). Tidaklah heran jika cukup banyak pendeta yang sampai diusir atau diminta untuk pindah oleh jemaat / gerejanya.

Jadi Penyebutan Pendeta itu BERKORBAN saat menjalankan tugasnya adalah suatu pernyataan yang menyesatkan, pernyataan yang bodoh dan memalukan !!. Jika semasa aktifnya bertugas mereka pintar mengelola keuangan maka tidaklah mungkin mereka menjadi orang yang ter sia sia, orang yang Terbengkalai, apalagi Pendeta dalam berkhotbah tidak tergantung akan status pensiun ataupun aktif, jika dia pintar berkhotbah, jika dia rendah hati maka walau dimasa pensiunpun dirinya akan sering dipanggil untuk berkhotbah dan mendapat bayaran untuk itu, pendeta layaknya seorang dokter yang walaupun sudah pensiun dia masih bisa menjalankan praktek pribadinya.  Jika para pendeta aktif mau membantu keuangan pendeta pensiun yang tidak laris “ditanggapi” karena dilupakan oleh jemaat akibat semasa aktifnya tidak becus melayani, tidak pintar berkhotbah, suka menyusahkan jemaatnya,  maka mereka (pendeta aktif) bisa mengundang berkhotbah digereja yang dipimpinnya, tapi ini jelas merugikan pendeta aktif karena biasanya mereka suka mendahulukan tukar mimbar dengan sesama pendeta aktif agar dirinya sama sama mendapatkan duit, jika dirinya mengundang pendeta pensiun maka dirinya akan berkhotbah dimana ? jelas dirinya tidak dapat duit. Oleh sebab itu Pendeta aktif lah yang sering melupakan pendeta pensiun !!.

Jika pendetanya tidak tulus dan tidak jujur dalam melayani maka hasilnya terlihat pada jemaat yang diajarkannya, murid meniru gurunya, guru kencing berdiri maka murid kencing berlari, buah tidak akan berbeda nama dari pohonnya.

Jangan berkata jemaat harus ikut memikul beban Pendeta karena Pendetanya sendiri tidak peduli pada beban yang dipikul oleh jemaatnya. Jika mereka pintar dan bijak maka kupon itu dimintakan hanya pada jemaat kaya saja bukan jemaat miskin dilibatkan juga,  Tantangan iman itu bukan pada memberi para pengemis berjubah pendeta, tapi pada orang yang benar benar tidak mampu, para janda atau anak yatim yang tidak mampu. Jemaat diminta mengulurkan tangan (baca Memberi) kepada guru iman agar mereka tersenyum ? jadi selama ini mereka tidak tulus dalam melayani, tidak suka cita dalam bekerja diladang Tuhan, mereka merasa dirinya terpaksa atau dipaksa !! siapa yang memaksa ? mereka bersuka cita jika dirinya hidup dalam berkelimpahan. Dalam ilmu Manajemen, jika bawahan sudah tidak punya sukacita dalam melakukan pekerjaan maka jangan harap dirinya mau bekerja dengan baik, dirinya akan selalu berhitung akan detik dan daya yang dikeluarkannya tanpa memperhitungkan akan upah yang diterimanya, akan kerugian yang diderita oleh perusahaan, orang seperti ini sekelas binatang babi yang dipelihara dikandang, jika lapar mereka akan berteriak dan meronta tidak peduli bahwa sang pemberi makan sedang sakit !! orang seperti ini harus ditawarkan 2 pilihan yaitu : 1. Keluar. 2. Mengikuti aturan main perusahaan.

Dan yang paling memalukan kita adalah pernyataan ahir di tulisan itu yaitu  “ Biar mereka (Baca Pendeta) tahu bahwa Tuhan mengingat mereka melalui bantuan kita “. Jika begini maka tampak begitu kotor dan sesatnya pemikiran dan keimanan para pendeta kita, mereka lupa atau sengaja menutup mata akan betapa banyaknya berkat Tuhan yang mereka terima, berkat Tuhan diartikan hanya sebatas pada kelimpahan materi semata,  saya yakin jika mereka berkesulitan hidup maka mereka bisa berubah jadi penghujat Tuhan, mereka bisa menyangkal akan iman mereka. Inilah kalimat yang paling memilukan ! paling memalukan dari kalimat memalukan lainnya.

Sebenarnya yang berkorban itu adalah :

1. Majelis Jemaat, dimana mereka tidak digaji tapi mereka benar benar melayani dan menyokong dana buat gereja, jadi mereka berkorban Uang, Waktu dan Tenaga/ Pikiran, tapi mereka tidak pernah menyatakan diri berkorban, karena ini adalah panggilan Iman.

2. Jemaat, karena mereka selalu diminta untuk memberikan uang buat menjalankan roda pelayanan gereja, mereka jadi obyek atau sapi perahan. Apa imbal balik yang mereka dapatkan ? hanya doa… doa dari orang yang tidak jelas keimanannya.

Sedangkan pendeta dia digaji lebih dari cukup, diberi fasilitas berlebih… Jadi pendeta bukan golongan orang yang berkorban…bukan pula orang yang dikorbankan…. tetapi cukup banyak oknum pendeta yang mengorbankan jemaat dan gerejanya.

2. KENAPA KUPON ITU BEREDAR DAN MENJADI BEBAN JEMAAT ?

Diperusahaan manapun yang menerapkan pemberian uang pensiun bagi karyawannya yang purna tugas  maka saat karyawan itu aktif gajinya langsung dipotong iuran dana pensiun, demikian pula di GPIB, gaji para pendeta / karyawan sudah dipotong iuran dana pensiun, iuran itu dibayarkan oleh gereja setempat ke pihak Majelis Sinode. Tetapi kenapa iuran dana pensiun yang disetorkan masih tidak mecukupi sehingga dikatakan GPIB terhutang uang lebih dari  20 Milyard pada Lembaga Dana Pensiun GPIB ? kenapa jemaat diminta  untuk ikut membayarnya ? Tidak pernah disebutkan secara jelas atau secara rinci akan kenapa bisa terjadi hutang yang bunga berbunga, denda berdenda hingga mencapai lebih dari 20 Milyard !! (posisi hutang dibulan April 2007—sesuai tanggal kupon) sehingga kemungkinan sekarang sudah jauh membengkak lagi,  Seharusnya Majelis Sinode menjelaskannya secara jujur akan kronologisnya !! jangan sampai karena kesalahan oknum Majelis Sinode diperiode terdahulu menjadi beban Jemaat, diatas yang tertawa dan kenyang, dibawah resah dan gelisah serta kurus kering akibat diperas !!. Beranikah Majelis Sinode menjelaskannya secara Jujur sesuai kejujuran yang dituntut untuk dijalani oleh orang orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus kepala gereja kita ?, berani atau sanggupkah Majelis Jemaat untuk mengatakan kebenaran ? Jika memang benar ada ketidak benaran disana apakah pernah majelis sinode meminta maaf kepada gereja dan jemaatnya ?. Ditingkat bawah ada yang mengatakan GPIB berutang pada pemerintah…pemerintah atau lembaga mana yang mau memberi pinjaman pada sebuah organisasi gereja tanpa ada jaminan, apalagi hutang itu sudah begitu lama (Puluhan Tahun) tidak terbayar bunga berbunga, denda beranak denda hingga hutang itu mencapai lebih dari 20 MILYARD !!. Jika Pemerintah maka pasti sudah ditindak KPK, jika lembaga bank pasti managernya sudah dipecat. Jadi untuk kejelasannya maka kami minta agar Majelis Sinode mau menjelaskannya secara transparan diserta bukti buktinya. Semoga tidak ada dusta diantara kita…

Jika saya membaca buku Hasil Persidangan Sinode Istimewa GPIB 2002 yang diadakan di Wisma Kinasih Cemerlang, Caringin Bogor pada tanggal 3 – 6 Maret 2002, pada hal 95 point 3 dari Masalah Masalah Yang Dihadapi Pengelola Dana Pensiun tertulis : “Dari informasi yang kami dapat bahwa pada tahun 1997 s/d 1999 pungutan iuran tidak disetor oleh Majelis Sinode kepada Dana Pensiun dalam Perode diatas”. Dan salah satu Rekomendasi yang diberikan oleh Tim Pengkajian Dana Pensiun GPIB Komisi VI (Khusus) adalah : Apabila butir butir A diatas tidak dapat dipenuhi maka kami menyarankan membubarkan Dana Pensiun GPIB dan mengalihkan kepada Dana Pensiun Lembaga Keuangan yang Lain”. Disini dengan jelas tertulis :

  1. Diperiode 1997 s/d 1999 Majelis Sinode tidak menyetor pungutan iuran, artinya gereja gereja telah membayar iuran itu ke Majelis Sinode tetapi majelis sinode tidak meneruskannya ke Dana Pensiun.
  2. Iuran tidak disetor, artinya MODAL AWAL sudah lama disetor, tinggal Iuran yang tidak mereka setor, bandingkan dengan bunyi tulisan dibalik kupon diatas, yang menekankan Hutang Kewajiban Awal sejak tahun 1988 !!. (artinya masalah ini sudah 20 Tahun dipelihara !!)
  3. Dana Pensiun GPIB, artinya lembaga ini mulanya milik GPIB sendiri, artinya Majelis Sinode membentuk Lembaga Dana Pensiun sendiri, mirip seperti anak perusahaan, jika benar begitu maka kenapa bisa terjadi hutang ? kenapa bisa terjadi bunga berbunga denda berdenda ? siapa yang menangguk untung ? siapa yang buntung ?. Jika kita membuka internet maka disana ada surat yang mengatakan bahwa kerugian ini disebabkan oleh oknum Majelis Sinode yang menyalah gunakan keuangan, jika kita hubungkan dengan Laporan Tim Kajian diatas yang menyebutkan pada perode 1997 s/d 1999 tidak ada penyetoran dari Majelis Sinode ke Dana Pensiun, apakah ini pangkal masalahnya ? apakah ini sebuah petunjuk atau kaitan benang merahnya ? apakah benar ada dugaan tindak penggelapan yang dilakukan oleh oknum ? apakah ada pelaporan seakan akan disetorkan padahal faktanya tidak disetor ?? jika benar maka oknum itulah yang harus diproses, hartanya disita, bukan malah didiamkan, dimaklumi tapi kerugian itu menjadi tanggungan jemaat.

Permasalahan Dana Pensiun sudah berlangsung lama tapi para PHMJ di gereja gereja tidak mau membayarnya karena :

  1. Yang Bertanggung jawab adalah Majelis Sinode bukan gereja apalagi jemaat, gereja sudah melakukan kewajibannya dengan membayar iuran dana pensiun secara rutin ke Majelis Sinode.
  2. PHMJ tidak mau membebani jemaat akan kerugian yang tidak jemaat lakukan.
  3. PHMJ menimbangnya dari segi keadilan, adilkah jika jemaat yang banyak hidup dalam kesederhanaan, yang tidak mendapatkan pensiun harus membantu pensiunan pendeta agar uang pensiun yang diterimanya menjadi bertambah besar ? (Ingat Pensiunan Pendeta sudah  mendapatkan uang pensiun walau dalam jumlah yang kecil).
  4. PHMJ tidak mau Jemaat mengetahui kebobrokan oknum pejabat / permasalahan di Pusat/ Majelis Sinode, karena jika jemaat mengetahui maka bagaimana bisa menegakkan ajaran kristus jika Pejabat di Markas Besar saja sudah berbuat seperti itu ? artinya harkat dan martabat Majelis Sinode jadi hancur lebur.

Sehingga sangat disayangkan kupon yang bertanggal April 2007  itu  (Menandakan waktu itu penerapan kupon terjadi penolakan diberbagai gereja) bisa lolos dan dibaca oleh Jemaat, apalagi dibalik kupon itu tertulis kalimat yang memalukan seperti diatas. Atau Majelis Sinode lebih mementingkan pemasukan dana daripada hancurnya harkat dan martabat lembaga Majelis Sinode. Suatu pilihan yang sangat menyedihkan sekaligus memalukan !!

Ditingkat bawah ada beberapa Pendeta / PHMJ dibeberapa gereja yang bersikap bijak dimana mereka berupaya menyembunyikan persoalan atau kebobrokan diatas dan berupaya agar tulisan dibalik kupon itu tidak dibaca oleh jemaat maka mereka berkorban membayarnya dari Kas Jemaat, bukan menariknya secara langsung dari Jemaat.  Bukankah Kas Jemaat juga berasal dari pemberian para jemaat ??? artinya langkah ini bijak walau mereka tidak berani (baca Pengecut) menjalankan fungsi kenabian mereka yaitu menegur atau menasehati para atasan yang duduk disinggasana diatas.

Persoalan dana pensiun adalah persoalan Pendeta/ karyawan dan Majelis Sinode, bukan persoalan Jemaat, cukup banyak beban jemaat untuk menjalankan roda aktivitas pelayanan, ingat jemaat sendiripun banyak yang tidak menentu masa depannya, banyak yang tidak mendapat pensiun. Rasanya gereja lebih banyak merongrong keuangan jemaat daripada anak kita sendiri, kantong kolekte dibuat 2 padahal penggunaan dan pencatatannya sama, ada 2 kotak yang diletakkan didepan gereja untuk disumbang, ada kolekte kebaktian Kaum Bapak, Kaum Ibu, Pemuda, Taruna, Anak Anak, Ada Amplop Persembahan Tetap Bulanan, Ada Amplop HUT Ulang Tahun Jemaat, Ada Perpuluhan,  Ada Tarikan untuk melaksanakan Kegiatan Retreat, Natal, Paskah, HUT GPIB, Diakonia dll. Apa arti dan makna sesungguhnya dari gereja ? apa visi dan misi gereja ?

Pemberian kupon dana pensiun ke jemaat malah membongkar borok lama dan mempermalukan diri sendiri. Apalagi jika kita mengingat Majelis Sinode telah menjual Rumah Sakit Mardi Santosa yang terletak di jalan Bubutan Surabaya dimana didalam Buku diatas pada halaman 98 – 118 tertulis betapa diduga banyak permainan terjadi hingga bukan keuntungan yang didapat tapi diperkirakan membawa kerugian senilai Total  Rp. 26.049.463.400 (Baca 26 Milyard lebih) baca halaman 115 . Sungguh menyedihkan GPIB sampai ditertawakan orang sebagai gereja tukang jual aset !!. dan tidak bisa menggunakan/memanfaatkan uang hasil penjualan aset tersebut.

Ada tulisan yang sangat menarik didalam buku ini yaitu dihalaman 101 yaitu pada bagian Pelayanan dan Kesaksian.

  1. INTERNAL :
  1. Kepemimpinan GPIB sebagai lembaga spiritual telah bergeser menjadi kepemimpinan duniawi yang meninggalkan fungsi pelayanan dan menonjolkan fungsi komersiilnya dan nyaris mengubah status GPIB sebagai Badan Sosial Keagamaan menjadi BADAN USAHA !.
  2. Wibawa dan Citra Majelis Sinode menurun sangat tajam, disamping itu terjadi saling curiga diantara kelompok kelompok dalam GPIB.
  1. EKSTERNAL :
  1. Citra GPIB dimasyarakat dan dalam pandangan gereja lain adalah sangat buruk.
  2. Dengan kebijaksanaan penjualan aset Rumah Sakit Mardi Santoso tersebut, maka wadah pelayanan dan kesaksian yang selama berpuluh tahun berfungsi dengan baik tidak lagi dapat dilanjutkan khusus bagi kalangan masyarakat menengah kebawah di kota Surabaya.

KESIMPULAN :

  1. Profesionalisme diabaikan.
  2. Rasa memiliki pada Majelis Sinode XV terhadap GPIB adalah minim.
  3. Tidak melalui procedure sesuai ketentuan yang berlaku.
  4. Misi / Visi GPIB diabaikan.
  5. Citra GPIB mengalami Degradasi.
  6. Dari segi keuangan GPIB menderita kerugian yang besar.

REKOMENDASI :

  1. Penerapan kasih harus disertai dengan keadilan dan kebenaran.
  2. Penyimpangan harus ditindak lanjuti melalui jalur hukum untuk mendapat kepastian hukum.
  3. Pembekuan Kegiatan Yayasan Bina Kesehatan GPIB.
  4. Perlu kelengkapan perangkat aturan yang jelas.
  5. A. RS Griya Husada (Sebagai Pengganti RS Mardi Sentoso) untuk dapat beroperasi harus memenuhi syarat :
    1. Dikelola secara profesional dengan tenaga professional.
    2. Harus menyediakan dana yang cukup besar.

B. RS Griya Husada dijual apabila ad A tidak bisa dipenuhi.

Dibuat oleh Tim Pengkaji RS Griya Husada:

  1. Pendeta HH. Jacob, S.TH.
  2. Penatua Ray Tumondo.
  3. Penatua Hendrik Tuwanakotta.
  4. Penatua Bambang Harijono.
  5. Penatua E.B. Sirait.

Dan dihalaman 97 Point II. Tertulis “ Mengenai Konven pendeta GPIB saya sebagai Penatua melihat : Isinya hanya melulu tuntutan tuntutan kesejahteraan Pendeta dan hak hak pendeta saja, dimana itu pelayanan dan kewajiban pendeta dalam hal pembangunan jemaat ? Tidak ada !!. Demikian Catatan Catatan Presentasi Komisi VI (Khusus) yang ditanda tangani oleh Penatua K.D. Hutabarat selaku Ketua dan Pendeta Ny. K. Foony Barahama-Pattipeilohy selaku Sekretaris.

Hal diatas menunjukkan permasalahan gereja GPIB sudah terjadi sejak lama, didalam lingkup mereka saja sudah ada yang melihat, sudah ada yang mengkritisinya secara pedas tapi rupanya sampai sekarang belum ada perubahan. Memang saya mengetahui masih cukup banyak ada pendeta yang benar tapi biasanya di zaman seperti ini orang orang benar malah disingkirkan, ditenggelamkan…dan golongan ini biasanya juga cari selamat, mereka hanya beraninya berdoa dan berdoa tanpa berani menjadi martir kebenaran.

  1. BERBAGAI PERMASALAHAN LAINNYA.

Akibat ketidak mampuan pucuk pimpinan maka berakibat kacau balaunya hidup bergereja dan berjemaat di tingkat bawah dibeberapa gereja diberbagai negeri ini, oknum oknum ini berupaya merangkul dan menguasai PHMJ dan Majelis Jemaat ditempat dirinya bertugas,  juga berlomba memperkaya diri sendiri, mereka berlagak jadi penguasa yang otoriter, mereka berlagak jadi orang yang maha benar, mereka tidak punya rasa memiliki dan mencintai GPIB, Tidak mau menjaga nama baik gerejanya apalagi nama dan jabatan kependetaannya, kerugian yang dibuat oleh rekannya tidak diusut, tidak dibebankan pada pelaku. Jika tidak sehaluan maka akan dimusuhi, disingkirkan, akan dipecat. Cukup banyak jemaat yang lari menjauh, Mereka lupa bahwa gereja adalah tempat utama untuk saling belajar dan mengajar, saling menasehati agar kita bisa bertumbuh dalam iman, moral, sikap yaitu hidup benar, hidup baik, hidup penuh kasih.

Baru baru ini di gereja GPIB Bukit Harapan Surabaya banyak jemaat dikejutkan karena pembantu atau Cleaning Service atau Koster Gereja akan Dipensiun (bahasa kasarnya dipecat dengan hormat, tapi namanya juga pembantu berstatus honorer jelas tidak mendapatkan uang pensiun), pembantu ini terkejut karena pada saat perekrutan tidak ada keterangan bahwa mereka bekerja hanya sebatas usia 55 tahun (Lucunya dalam iklan mencari penggantinya di Warta Jemaat 21 Juni syaratnya adalah maksimal berusia 45 tahun jadi minimal tugasnya hanya 10 tahun karena di usia 55 tahun mereka diberhentikan, jika ingin cari orang yang bertenaga kuat kenapa tidak mencari para pemuda berusia 20 an tahun ?), mereka yang akan dipensiun ini mengetahui dirinya akan dipensiun hanya dari Warta diatas, mereka tidak diberitahu apalagi diberi persiapan persiapan / bimbingan agar mereka kuat memasuki masa pensiun, jika diperusahaan ada Masa Persiapan Pensiun (MPP) untuk mempersiapkan diri berwira usaha atau mencari pekerjaan lain, bayangkan Pendeta yang bergaji besar dan berpendidikan tinggi, dan beriman kuat saja gentar dan bermuka muram saat memikirkan akan memasuki masa pensiun yang sudah diketahui saatnya, apalagi pembantu gereja yang tiba tiba akan dipensiun !!. Tenaga honorer seperti mereka tidak selalu terikat pada aturan kepegawaian, selama mereka mampu melaksanakan tugas maka alangkah baiknya jika kita tetap memakai jasa mereka, jika perlu sampai ahir hayat mereka kita ikut ambil bagian memelihara, merawat mereka. Jika ada kesalahan atau kekurangan atau sikap yang tidak baik dari mereka maka menjadi tugas para Manager (PHMJ/Pendeta) untuk membinanya, untuk mendidiknya. Jika mereka orang pintar maka jelas mereka tidak jadi pembantu, mungkin jadi pegawai tetap disuatu perusahaan. Jika istri atau suami kita berperilaku tidak baik maka tugas pasangannya untuk membinanya, bukan menceraikannya/ memecatnya jadi istri/suami. Gereja bukan sebuah perusahaan Pencari Laba, yang selalu memperhitungkan dalam takaran Untung dan Rugi, Gereja adalah tempat belajar mengajar dan menerapkan  pelayanan dan menjalankan kasih. Saya sering kagum melihat beberapa perusahaan yang mau menerima karyawan yang mengalami cacat fisik mereka membiarkan bekerja walau hanya dalam beberapa jam belaka, mereka membiarkan karyawan lamanya tetap bekerja walau sudah tua renta, mereka tidak menjalankan gerakan habis manis sepah dibuang,  mereka menjalankan fungsi sosialnya, kenapa gereja tidak lebih baik dari mereka ?, ada gereja yang gencar melakukan bakti  sosial, para janda atau anak yatim atau Lansia disantuni, kenapa kita tidak tetap mempekerjakan orang yang masih mampu dan mau melaksanakan tugas daripada kita menyantuni orang secara Cuma Cuma ? biarkanlah mereka bekerja melayani dirumah Tuhan…melayani dirumah Tuhan walau hanya sebagai tukang sapu sangatlah membanggakan bagi sebagian orang,  semua keputusan memang hak orang yang menjabat atau yang punya kuasa, tapi saya tetap menghimbau gunakanlah hati nurani… waspadalah akan pengaruh si jahat…kita ingin mempermuliakan nama Tuhan bukan malah mempermalukanNYA. Janganlah kita menambah pengangguran dinegeri ini, janganlah kita mematahkan angan baik dari orang orang yang bisa kita bantu.

Akhir kata :

Janganlah kita mengajarkan agar hidup kudus tapi kita menajiskan diri, kita mengajarkan untuk memaafkan tapi kita pendendam, kita mengajarkan agar jadi Garam dan Terang serta tidak mengikuti cara cara dunia tapi  mengurus IMB gereja kita  menyogok pejabat, kita mengajarkan agar hidup tulus dan cerdik tapi kita tidak tulus dan suka bohong membohongi !!

Janganlah kita marah karena ada saudara miskin kita yang memang perlu bantuan meminjam uang sebesar total 100 Ribu hingga 1 Juta kepada 1 – 3 orang saudara kita yang kaya karena kita malah mendukung para pendeta MEMINTA (Baca bukan MEMINJAM) uang pada seluruh jemaaat ( +/- 300 KK) termasuk jemaat miskin yang jika ditotal jumlahnya bisa mencapai 50 juta – 100 juta per gereja !!

Untuk mengembalikan Gereja pada rel dan roh yang sebenarnya perlu upaya keras, perlu perjuangan dan pengorbanan, tapi itu harus dilakukan jika tidak nama boleh tetap Gereja tapi maknanya sudah jauh berbeda…..

Labih Basar.

Jl. Griya Kebraon Barat VIII – BH 4 Surabaya.

Tembusan : Kebeberapa gereja GPIB .

Saya mengingatkan kembali akan sebagian kecil ayat ayat yang sering dikumandangkan atau “dijual” oleh para pendeta kepada jemaatnya, yaitu :

Amsal  3:35 Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh.

Amsal  5:23 Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.

Amsal  14:33 Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal.

Amsal  10:23 Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal, sebagaimana melakukan hikmat bagi orang yang pandai.

Amsal  17:23 Orang fasik menerima hadiah suapan dari pundi-pundi untuk membelokkan jalan hukum.

Amsal  21:13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.

Mazmur 37:30 Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum.

I Raja Raja 3:28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Amsal  15:33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

Amsal  1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Amsal  9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

Amsal  10:13 Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.

Pengkhotbah  4:13 Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.

Pengkhotbah 9:15-16 di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu. Kataku: “Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan, tetapi hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang.”

Yesaya 32:17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

AMSAL 29:2-7 Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat. Orang yang mencintai hikmat menggembirakan ayahnya, tetapi siapa yang bergaul dengan pelacur memboroskan harta. Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya. Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya. Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita. Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.

Yehezkiel 34:2-7 “Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman.Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorang pun yang memperhatikan atau yang mencarinya.Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN:

Kis 20:33- 35 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Galatia 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Matius  7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Matius  24:11 Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.

Berbahagialah orang yang mendengarkan kritikan, jika tidak maka ia akan mati oleh pujian semu….

—————————–00000——————————

CATATAN TAMBAHAN (28-6-09)

Contoh contoh kebijaksanaan itu ada disekitar kehidupan pribadi pribadi PHMJ kita misal :

  1. Bapak RONNY BUISAN yang telah dipensiun dari tugasnya sebagai seorang militer (PEGAWAI TETAP) bisa bekerja ditampung di sebuah perusahaan swasta. Artinya seorang yang sudah memasuki masa pensiun masih productive, masih bisa bekerja dan berkarya, bapak Ronny masih bisa bertugas dimalam hari. Institusi militer membantu para militer yang akan memasuki masa pensiun dengan mencarikan pekerjaan buat mereka, jika dilingkungan militer ada tenaga honorer pastilah mereka akan menempatkannya disitu, karena tidak ada maka mereka mencarikannya diluar.
  1. Dikantor bapak KURNAIN yaitu PT. AGRINDO dimana istri saya juga bekerja disana juga mengedepankan kebijaksanaan dan kasih dimana Karyawan Tetapnya yang memasuki masa pensiun memang dipensiunkan TAPI mereka tetap meminta karyawan tersebut bekerja disana dengan status KONTRAK KERJA yang ditanda tangani setiap tahun selama karyawan yang bersangkutan mampu menjalankan tugasnya.
  1. Dan kita juga pernah mendengar ada pejabat pemerintah ataupun militer yang DIPERPANJANG masa pensiunnya karena tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan, atau dipensiunkan tapi direkrut sebagai tenaga ahli.

Tiga contoh diatas adalah penanganan membantu KARYAWAN TETAP yang dipensiun karena aturan. Tapi bagi Karyawan HONORER apalagi sekelas Pembantu, Sopir, Tukang Kebun, Petugas Keamanan maka mereka tidak perlu diterapkan oleh batasan usia pensiun. Sehingga perusahaan tidak perlu mempensiunkan mereka tidak repot mencarikan pekerjaan buat mereka, mereka tetap bisa dipakai selama mereka Mau dan Mampu menjalankan tugas. Bayangkan penanganan Pegawai Tetap yang bergaji lebih besar dari Pegawai Honorer dan mendapatkan Uang Pesangon besar saat pensiun ditambah uang pensiun bulanan saja harus ditangani dengan baik, apalagi tenaga honorer yang tidak diberi pesangon besar dan tidak diberi uang pensiun bulanan !! Status Tenaga Honorer bukan menjadi senjata kita melindas atau melibas seseorang apalagi terjadi dilingkungan gereja yang selalu mengajarkan Kasih.

Saya sepakat bagi KARYAWAN TETAP harus mengikuti aturan bila waktunya pensiun maka harus dipensiunkan,  karena aturan harus ditegakkan apalagi berkaitan dengan sistim Pengkaderan yang berkaitan dengan perekrutan, penempatan tenaga/karyawan baru yang telah dipersiapkan, tapi jika kita memerlukan tenaga dan pikirannya, jika kita mengasihi mereka maka bisa kita kontrak menjadi tenaga KONTRAKAN  atau tenaga HONORER seperti yang dilakukan oleh PT. AGRINDO diatas.

Seorang tenaga HONORER tidak terikat pada beberapa aturan yang diterapkan pada Karyawan Tetap, sehingga tidak mendapatkan hak yang sama dengan Karyawan Tetap seperti Gaji yang lebih kecil, tidak dapat THR/bonus atau dapat THR/bonus tapi dalam jumlah kecil, tidak dapat bantuan kesehatan, tidak dapat uang tunjangan cuti. Tidak dapat uang pensiun. Demikian pula dengan Masa Pensiun, mereka tidak terikat karena biasanya tenaga HONORER adalah suatu kebijaksanaan lokal (Bukan PUSAT) sehingga nama/status kepegawaiannya TIDAK tercatat secara resmi di induk perusahaan/instansi, mereka tidak punya nomor induk kepegawaian, dalam skala kecil kita melihat dirumah tangga kita ada pembantu/sopir/tukang kebun yang sudah berumur 70 an tahun tetap dipakai dari menjaga anak/rumah kita hingga menjaga cucu/rumah cucu kita, disinilah kita bermain dalam KEBIJAKSANAAN, dalam HIKMAT yang dituntut dijalankan oleh Umat Pilihan Allah, Oleh umat yang mengakui Yesus yang maha kasih itu sebagai pemimpin segala galanya.

Apa yang dituntut dari kita  agar  kedamaian tercipta dibumi ini ? tidak lain adalah HIKMAT / KEBIJAKSANAAN dan Akal Budi  (AKAL yang BERBUDI bukan akal jahat, bukan akal menang menangan.

Pada saat kita mendoakan uang yang dipersembahkan oleh jemaat dengan kalimat, “untuk dipergunakan bagi kemuliaan nama Tuhan” maka kita harus mempertanggung jawabkan ucapan itu, uang jemaat diperuntukkan pada hal yang semestinya, uang jemaat digunakan untuk pelayanan bagi orang yang tidak mampu, membantu yang berkekurangan, syukur memberi uang tidak percuma karena diberi imbal balik berupa pelayanan oleh pembantu /sopir tenaga honorer, uang jemaat yang telah didoakan bukan uang pribadi kita….

Mahkota orang beriman adalah Takut akan Tuhan disitulah Permulaan dari HIKMAT, dan kita seimbangkan fungsi otak kiri kita (pengetahuan) dan otak kanan kita (Hikmat) agar membuat hati kita bersih dan baik, agar dari hati yang mempengaruhi tingkah laku dan tutur kata kita nama Tuhan dipermuliakan. Jagalah hati jangan kau nodai…

Kita bisa salah langkah tapi jika kita mau berbesar hati mengakui kesalahan untuk memperbaikinya maka itu menyenangkan hati Tuhan, tapi jika gengsi dan kekuasaan sebagai pejabat gereja dikedepankan maka Tuhan semakin berduka melihat anak anaknya punya pendirian yang keras… keras berpegang pada keburukan. Kasih harus diwujud nyatakan dalam perbuatan, kasih tidak akan pilih kasih.

Sekian dan terima kasih.

Hormat saya,

Labih Basar

Surabaya 26 Juni 2009

Kepada Majelis Sinode GPIB

Di Tempat.

Hal :     Teguran dan Nasehat dari seorang jemaat kepada

Majelis Sinode GPIB.

Dengan hormat,

Sehubungan dengan beredarnya Kupon KEPEDULIAN DANA PENSIUN PENDETA / PEGAWAI GPIB yang dibuat oleh Majelis Sinode GPIB dan diedarkan keseluruh warga jemaat GPIB di Seluruh Indonesia dengan maksud agar jemaat mau berpartisipasi memberikan dananya, dimana setiap KK warga jemaat Bukit Harapan Surabaya diberi BEBAN TANGGUNGAN sebesar Rp. 170.000,- ( 17 lembar kupon).

Disini saya mempermasalahkan akan 3 hal yaitu :

  1. Isi tulisan di balik lembar kupon  yang berjudul “ Yang Masih Terlupakan”.
  2. Kenapa Kupon itu beredar dan menjadi beban Jemaat.
  3. dan berbagai permasalahan lainnya.

1. ISI TULISAN DILEMBAR KUPON

Dibelakang lembar kupon terdapat tulisan sebagai berikut :

Yang Masih Terlupakan

Mereka adalah para pendeta dan karyawan GPIB, Mereka hari ini berjumlah sekitar 900 orang, ketika menjalankan tugas panggilan MEREKA BERKORBAN, ketika tugas selesai MEREKA TERBENGKALAI.

GPIB berusaha untuk memperbaiki masa depan mereka, dua kali Yayasan Dana Pensiun tidak berdaya, sejak tahun 1988 dengan segala keterbatasan dibentuk Dana Pensiun GPIB sesuai Undang Undang Dana Pensiun R.I.

Keterbatasan sejak tahun 1988 berarti hutang, Kewajiban Awal yang harus dipenuhi terus membengkak sekitar Dua Puluh Milyard rupiah.

Tantangan kita adalah KETULUSAN dan KEJUJURAN agar Bertolong tolongan dalam memikul beban supaya memenuhi HUKUM KRISTUS (Galatia 6 : 2)

Lembaran kupon yang sedang dibaca oleh saudara terkasih adalah TANTANGAN IMAN untuk MENGASIHI

ULURKAN TANGAN, BERIKAN BANTUAN buatlah mereka yang SEDANG MELAYANI  TERSENYUM menatap masa depan, yang SUDAH USAI menunaikan tugas menaikkan syukur dan pujian

BIAR MEREKA TAHU  Tuhan MENGINGAT MEREKA melalui bantuan kita, Tuhan yang sama melimpahkan rahmat bagi tiap kita yang MELAKUKAN KEHENDAK NYA.

Kupon itu ditanda tangani oleh Pendeta Samuel Th. Kaihatu selaku Ketua Umum Majelis Sinode GPIB dan Pendeta Jeffrey W. Ch. Sompotan selaku Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB.

Dan oleh GPIB Bukit Harapan kupon itu dimasukkan kedalam amplop yang bertuliskan PERSEMBAHAN DANA PENSIUN, jika persembahan kenapa untuk pendeta ? jika persembahan kenapa menetapkan angka Rp. 170.000,- ? dan mungkin karena menilai tulisan dibalik kupon itu sangat rohani, sangat menyentuh sanubari maka pihak Bukit Harapan menuliskannya kembali dalam surat tertanggal 20 Mei 2009 dengan nomor 85/Bk.H/V/2009 yang ditanda tangani oleh Pendeta F.P. Silitonga, M.Min selaku Ketua dan Penatua Ny. Rusmiatun. M selaku Sekretaris.

Saat saya membacanya maka saya menjadi terperanjat karena beginikah kualitas iman para pemimpin pusat gereja GPIB ku ? jika pemimpinnya saja sudah begini bagaimana dengan kualitas para pendeta yang ditugaskan disetiap gereja GPIB yang tersebar di seluruh negeri ini !!, dan lebih bagaimana lagi dengan kualitas iman para jemaatnya  !!.

Coba kita lihat dan cermati tulisan diatas, hampir semua kalimat itu bermasalah dan mempermalukan ! coba kita melihat satu persatu :

  1. Ketika menjalankan Tugas Panggilan mereka BERKORBAN, ketika tugas selesai mereka TERBENGKALAI.
  2. Tantangan kita adalah KETULUSAN dan KEJUJURAN agar bertolong tolongan dalam memikul beban supaya memenuhi hukum Kristus.
  3. Lembaran kupon yang sedang dibaca oleh saudara terkasih adalah tantangan iman untuk mengasihi.
  4. Ulurkan tangan, berikan bantuan, buatlah mereka yang sedang melayani (Baca : Pendeta/karyawan Aktif) tersenyum menatap masa depan, yang sudah usai menunaikan tugas (Baca : Pendeta/karyawan yang sudah pensiun ) menaikkan syukur dan pujian.
  5. Biar mereka (Baca : Pendeta/karyawan) tahu Tuhan mengingat mereka melalui bantuan kita.

Kalimat demi kalimat diatas mencerminkan bahwa para pemimpin pusat, para pengajar iman, etika dan moral, Pembina para pendeta, orang yang seharusnya jadi  teladan bagi murid Kristus ternyata kualitasnya sangat memprihatinkan, mereka melakukan hal yang bertentangan dengan  apa yang mereka imani dan ajarkan ke umatnya.

Sudah hampir 1 abad ini tidak ada pendeta yang berkorban dalam melakukan tugasnya (jika dahulu benar ada pendeta yang tidak digaji, tapi itu bukan pengorbanan tapi menjalankan tugas dan panggilanNYA ! kala itu mereka hanya diberi honor ala kadarnya, yang melayani dibayar singkong, telur dll, jika ada kondangan maka dia membawa seluruh keluarganya agar bisa makan yang enak) apalagi di lingkungan gereja gereja besar seperti GPIB. GPIB sebagai sebuah organisasi gereja yang besar sudah memiliki tatanan aturan yang baik dan memberikan penghasilan serta fasilitas yang baik bagi pendeta dan karyawannya. Pensiunan pendetanya sudah mendapatkan uang pensiun bulanan walau masih dalam jumlah yang kecil.

Pendeta GPIB mendapatkan penghasilannya berupa :

  1. Gaji, seorang pendeta bergaji kurang lebih 3.500.000,- (Gabungan Gaji Minimal Ketentuan Majelis Sinode ditambah dengan Gaji dari Gereja setempat) per bulan, dimana gaji ini adalah gaji bersih karena mereka juga mendapatkan RUMAH DINAS lengkap dengan barang inventarisnya (Tempat tidur, lemari, meja kursi, AC, TV, Komputer, Lemari Pendingin, mesin cuci, Kompor, seterika hingga ember / kain pel, kertas tissue !)  dimana biaya Listrik, Telpon/internet, Air, Pembantu rumah tangga, laundry kain gordyn ditanggung atau dibayar oleh gereja setempat, Pendeta juga mendapatkan KENDARAAN DINAS (Mobil dan atau Motor) dimana pengeluaran bahan bakarnya ditanggung atau dibayar oleh gereja. Pendeta mendapat bantuan BIAYA BEROBAT jika mereka atau keluarganya sakit, Pendeta juga mendapat TUNJANGAN PEMBELIAN BUKU dan Koran agar mereka lebih pintar lagi.
  1. Tunjangan Natal dan Tunjangan Cuti masing masing besarnya 1 bulan gaji sehingga dalam 1 tahun seorang pendeta mendapat total 14 bulan gaji, seorang pendeta saat menjalani cuti akan diberi uang tunjangan cuti yang besarnya 1 bulan gaji. Jika perusahaan lain mau memberi Uang Pengganti Cuti karena pegawai tersebut tidak mengambil cutinya, lain halnya dengan pendeta yang diberi uang tunjangan cuti saat pendetanya mengambil cuti !.( Baca Cuti tidak bekerja tapi gaji tetap diberikan ditambah dengan pemberian uang Tunjangan Cuti !).
  1. Pendapatan lain lain :
    1. Honor Khotbah tukar mimbar digereja lain (antar GPIB maupun diluar GPIB) biasanya 2 kali (a’ 2-3 kali naik mimbar) dalam sebulan dimana honornya sudah ditetapkan sebesar Kurang lebih Rp. 250.000,- untuk tingkat Regio (Kota) dan kurang lebih Rp. 300.000,- untuk tingkat MUPEL (Propinsi) ini tergantung kesepakatan di Regio/Mupel setempat, per sekali naik mimbar sehingga dalam 1 bulan pendeta mendapatkan honor  dari tukar mimbar =  2 X 3 X Rp. 250.000 = Rp. 1.500.000,-.
    1. Honor khotbah Pengucapan Syukur di Jemaat / luar jemaatnya (Syukur HUT, Perkawinan, Naik Pangkat/Jabatan, Lulus Sekolah, Sembuh Sakit, hingga suksesnya PEMAKAMAN !)  minimal 1 X dalam sebulan berkisar Rp. 300.000,- hingga Rp. 1 Juta tergantung kemurahan hati jemaat / panitia pelaksananya.
    1. Uang / barang pemberian dari Jemaatnya dimana mereka memberi karena : 1. Merasa pendeta layak dibantu karena dikiranya seorang pendeta itu hidup berkekurangan. 2. Beranggapan jika memberi pendeta akan diberkati oleh Tuhan, sehingga banyak jemaat yang tidak mengerti akan firman Tuhan lebih mengutamakan memberi seorang pendeta daripada memberi orang yang betul betul berkekurangan.
    1. Masa kerja seorang pendeta di sebuah gereja selama 5 tahun, dan di 5 tahun berikutnya mereka pindah melayani digereja lainnya, dimana disetiap saat ahir masa tugasnya disebuah gereja banyak warga jemaat memberikan uang secara pribadi kepadanya,  jika ditotal pemberian Warga Jemaat dan Lembaga Gereja setempat nilainya kurang lebih  20 Juta hingga 100 Juta !! (Baca : Anggap hadiah / pesangon untuk 5 tahun masa tugasnya), tergantung besarnya jemaat dan kemampuan keuangan jemaatnya, pendeta bisa mengalami perpindahan tugas sebanyak 5 – 6 kali selama masa baktinya, Pemberian ini jelas menambah pundi pundi tabungannya untuk dipergunakan dimasa tuanya. Disetiap perpindahan ini segala biaya tiket / biaya transportasi sekeluarga hingga pengiriman barang apapun menjadi tanggung jawab gereja.

Sehingga  seorang pendeta bisa meraup penghasilan “tetap” minimal 5 juta per bulan (BERSIH), dimana uang ini hanya digunakan untuk Biaya Makan, Sekolah anak anak dan Pakaian/hiburan, jadi jika mereka pintar mengelola keuangannya maka mereka bisa menabung 1 – 1 ½ juta per bulan…

Seorang Karyawan Tetap gereja ( bukan pendeta ) juga mendapat gaji diatas UMR, mendapat THR Natal, Uang Lembur, hingga Extra Puding ( Camilan di Kantor ), padahal beban kerja karyawan gereja sangatlah ringan jika dibandingkan dengan perusahaan kecil.

Jadi dari segi mana para pemimpin  yang berkantor di Majelis Sinode ( Baca Mabes nya GPIB) bisa atau berani mengatakan Pendeta itu BERKORBAN saat menjalankan tugasnya ? apakah selama ini mereka selalu merasa terbebani ?, apakah selama ini mereka tidak tulus melayani ? (Kata dan makna MELAYANI ini juga sudah tidak tepat karena mereka layaknya sebagai orang yang PROFESIONAL, yaitu bekerja – dibayar), apakah mereka selalu dongkol dan  cemberut dalam melaksanakan tugasnya ? Jika mereka mengatakan diri BERKORBAN artinya segala penghasilan yang diterima dianggap tidak memadai ! dianggap kecil !! maka ada pilihan bijak bagi mereka yaitu : SEGERA KELUAR dari GPIB !!! biar mereka mencari gereja yang mau memberi mereka penghasilan yang lebih besar daripada mereka bekerja dengan memaksa diri !!, sangat tidak baik bagi mereka selaku teladan dan juga Jemaat selaku murid jika mereka bekerja melayani diladang Tuhan dengan hati yang menggerutu, hati yang tidak tulus, hati yang tidak ikhlas.

Sangat memprihatinkan dan sangat kontras jika kita mengingat para pendeta mengajarkan umatnya untuk :

  1. Bersuka citalah senantiasa, mengucap syukurlah dalam segala hal. ( I Tes 5 : 16 – 18 ).
  2. Lebih berbahagia jika kita memberi daripada menerima. ( Kis 20 : 35 )
  3. Meminta pada Tuhan secukupnya, bukan sebanyak banyaknya. (Matius 6 : 11)
  4. Jangat takut, jangan kutir dalam mengarungi hidup bukankah burung diudara diberi makan ? bukankah bunga bakung dilembah diberi pakaian indah ? (Matius 6 : 25 – 34)

Padahal faktanya oknum oknum (baca banyak oknum)  pendeta itu begitu rapuh, ternyata mereka ditempa sebagai orang yang suka menerima daripada memberi, menerima pun ingin yang banyak dan mewah, jika tidak ada yang memberi maka mengemispun dilakukan,  egois ingin memikirkan akan kenyamanan dirinya sendiri tidak peduli bahwa jemaat masih banyak yang jauh berkekurangan dari dirinya, banyak jemaat yang masih bergaji dibawah dirinya (Baca mulai UMR Rp. 800 ribu hingga 3 juta) dimana jemaat harus membayar Listrik, Air, Telpon, transportasi (bensin/bemo), kontrak rumah, masih menganggur, sudah tidak bekerja tapi tidak mendapat pensiun, VISI dan MISI para oknum pendeta adalah Jemaat harus menyenangkan hatiku, jemaat harus membiayai kehidupan mewahku karena aku adalah Hamba Allah sipemilik alam semesta ini, Aku kan Pelayan tapi Pelayan yang Minta Dilayani !! Mereka lupa dan tutup mata akan ajaran / didikan Yesus Sang Kepala Gereja yaitu pola hidup sederhana, melayani bukan dilayani,  memberi bukan meminta apalagi mengemis, Menaruh Harap dan Percaya pada Tuhan bukan Kuatir,  mengangkat beban hidup jemaat bukan membebaninya…

Pantaslah ada olok olok dari jemaat :

  1. “ Lakukanlah seperti yang pendeta katakan dari atas mimbar, tapi jangan tiru kelakuannya sehari hari !”.
  2. “ Lihatlah pendeta selalu mengelus ngelus domba (baca Jemaat) gemuknya (baca : Kaya Raya) dan tidak peduli akan nasip domba kurus (Baca Jemaat Miskin)”.
  3. “Banyak serigala didalam gereja, sedikit domba diluar sana…” (Baca Gereja dikuasai oleh anti kristus yang Kurop,  menindas dan memeras serta menyelewengkan jemaatnya, yang diluar gereja malah orang baik baik…
  4. Jabatan sih pendeta tapi minta fasilitas layaknya Jenderal…

Terlihat sekali para pendeta ingin berdinas di gereja yang jemaatnya berjumlah banyak dan kaya raya yang biasa disebut tempat basah. Sehingga sering jemaat menduga ada permainan Majelis Sinode dalam penempatan “orang orang” nya.

Jika melihat permasalahan diatas maka tidaklah heran jika jemaat sering dipusingkan, dipermalukan oleh adanya oknum pendeta yang tidak tahu malu, yang serakah, yang memboroskan uang gereja/jemaat,  yang suka main perempuan, yang meniduri para janda, istri/anak gadis jemaat,  bukannya membina, mengajar jemaatnya untuk hidup lebih baik tapi malah dia memporak porandakan tatanan keharmonisan sebuah jemaat, hingga layaknya seperti “perampok”, “perusuh”, “benalu” bagi jemaatnya, bukannya damai sejahtera yang dibawa / ditularkannya tapi perkelahian dan pertengkaran,  Jemaatnya tidak dicerdaskan tapi dibodohkan agar bisa dibuat mainan atau jadi sapi perahan (Serupa dengan yang dilakukan para politikus hitam kita). Tidaklah heran jika cukup banyak pendeta yang sampai diusir atau diminta untuk pindah oleh jemaat / gerejanya.

Jadi Penyebutan Pendeta itu BERKORBAN saat menjalankan tugasnya adalah suatu pernyataan yang menyesatkan, pernyataan yang bodoh dan memalukan !!. Jika semasa aktifnya bertugas mereka pintar mengelola keuangan maka tidaklah mungkin mereka menjadi orang yang ter sia sia, orang yang Terbengkalai, apalagi Pendeta dalam berkhotbah tidak tergantung akan status pensiun ataupun aktif, jika dia pintar berkhotbah, jika dia rendah hati maka walau dimasa pensiunpun dirinya akan sering dipanggil untuk berkhotbah dan mendapat bayaran untuk itu, pendeta layaknya seorang dokter yang walaupun sudah pensiun dia masih bisa menjalankan praktek pribadinya.  Jika para pendeta aktif mau membantu keuangan pendeta pensiun yang tidak laris “ditanggapi” karena dilupakan oleh jemaat akibat semasa aktifnya tidak becus melayani, tidak pintar berkhotbah, suka menyusahkan jemaatnya,  maka mereka (pendeta aktif) bisa mengundang berkhotbah digereja yang dipimpinnya, tapi ini jelas merugikan pendeta aktif karena biasanya mereka suka mendahulukan tukar mimbar dengan sesama pendeta aktif agar dirinya sama sama mendapatkan duit, jika dirinya mengundang pendeta pensiun maka dirinya akan berkhotbah dimana ? jelas dirinya tidak dapat duit. Oleh sebab itu Pendeta aktif lah yang sering melupakan pendeta pensiun !!.

Jika pendetanya tidak tulus dan tidak jujur dalam melayani maka hasilnya terlihat pada jemaat yang diajarkannya, murid meniru gurunya, guru kencing berdiri maka murid kencing berlari, buah tidak akan berbeda nama dari pohonnya.

Jangan berkata jemaat harus ikut memikul beban Pendeta karena Pendetanya sendiri tidak peduli pada beban yang dipikul oleh jemaatnya. Jika mereka pintar dan bijak maka kupon itu dimintakan hanya pada jemaat kaya saja bukan jemaat miskin dilibatkan juga,  Tantangan iman itu bukan pada memberi para pengemis berjubah pendeta, tapi pada orang yang benar benar tidak mampu, para janda atau anak yatim yang tidak mampu. Jemaat diminta mengulurkan tangan (baca Memberi) kepada guru iman agar mereka tersenyum ? jadi selama ini mereka tidak tulus dalam melayani, tidak suka cita dalam bekerja diladang Tuhan, mereka merasa dirinya terpaksa atau dipaksa !! siapa yang memaksa ? mereka bersuka cita jika dirinya hidup dalam berkelimpahan. Dalam ilmu Manajemen, jika bawahan sudah tidak punya sukacita dalam melakukan pekerjaan maka jangan harap dirinya mau bekerja dengan baik, dirinya akan selalu berhitung akan detik dan daya yang dikeluarkannya tanpa memperhitungkan akan upah yang diterimanya, akan kerugian yang diderita oleh perusahaan, orang seperti ini sekelas binatang babi yang dipelihara dikandang, jika lapar mereka akan berteriak dan meronta tidak peduli bahwa sang pemberi makan sedang sakit !! orang seperti ini harus ditawarkan 2 pilihan yaitu : 1. Keluar. 2. Mengikuti aturan main perusahaan.

Dan yang paling memalukan kita adalah pernyataan ahir di tulisan itu yaitu  “ Biar mereka (Baca Pendeta) tahu bahwa Tuhan mengingat mereka melalui bantuan kita “. Jika begini maka tampak begitu kotor dan sesatnya pemikiran dan keimanan para pendeta kita, mereka lupa atau sengaja menutup mata akan betapa banyaknya berkat Tuhan yang mereka terima, berkat Tuhan diartikan hanya sebatas pada kelimpahan materi semata,  saya yakin jika mereka berkesulitan hidup maka mereka bisa berubah jadi penghujat Tuhan, mereka bisa menyangkal akan iman mereka. Inilah kalimat yang paling memilukan ! paling memalukan dari kalimat memalukan lainnya.

Sebenarnya yang berkorban itu adalah :

1. Majelis Jemaat, dimana mereka tidak digaji tapi mereka benar benar melayani dan menyokong dana buat gereja, jadi mereka berkorban Uang, Waktu dan Tenaga/ Pikiran, tapi mereka tidak pernah menyatakan diri berkorban, karena ini adalah panggilan Iman.

2. Jemaat, karena mereka selalu diminta untuk memberikan uang buat menjalankan roda pelayanan gereja, mereka jadi obyek atau sapi perahan. Apa imbal balik yang mereka dapatkan ? hanya doa… doa dari orang yang tidak jelas keimanannya.

Sedangkan pendeta dia digaji lebih dari cukup, diberi fasilitas berlebih… Jadi pendeta bukan golongan orang yang berkorban…bukan pula orang yang dikorbankan…. tetapi cukup banyak oknum pendeta yang mengorbankan jemaat dan gerejanya.

2. KENAPA KUPON ITU BEREDAR DAN MENJADI BEBAN JEMAAT ?

Diperusahaan manapun yang menerapkan pemberian uang pensiun bagi karyawannya yang purna tugas  maka saat karyawan itu aktif gajinya langsung dipotong iuran dana pensiun, demikian pula di GPIB, gaji para pendeta / karyawan sudah dipotong iuran dana pensiun, iuran itu dibayarkan oleh gereja setempat ke pihak Majelis Sinode. Tetapi kenapa iuran dana pensiun yang disetorkan masih tidak mecukupi sehingga dikatakan GPIB terhutang uang lebih dari  20 Milyard pada Lembaga Dana Pensiun GPIB ? kenapa jemaat diminta  untuk ikut membayarnya ? Tidak pernah disebutkan secara jelas atau secara rinci akan kenapa bisa terjadi hutang yang bunga berbunga, denda berdenda hingga mencapai lebih dari 20 Milyard !! (posisi hutang dibulan April 2007—sesuai tanggal kupon) sehingga kemungkinan sekarang sudah jauh membengkak lagi,  Seharusnya Majelis Sinode menjelaskannya secara jujur akan kronologisnya !! jangan sampai karena kesalahan oknum Majelis Sinode diperiode terdahulu menjadi beban Jemaat, diatas yang tertawa dan kenyang, dibawah resah dan gelisah serta kurus kering akibat diperas !!. Beranikah Majelis Sinode menjelaskannya secara Jujur sesuai kejujuran yang dituntut untuk dijalani oleh orang orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus kepala gereja kita ?, berani atau sanggupkah Majelis Jemaat untuk mengatakan kebenaran ? Jika memang benar ada ketidak benaran disana apakah pernah majelis sinode meminta maaf kepada gereja dan jemaatnya ?. Ditingkat bawah ada yang mengatakan GPIB berutang pada pemerintah…pemerintah atau lembaga mana yang mau memberi pinjaman pada sebuah organisasi gereja tanpa ada jaminan, apalagi hutang itu sudah begitu lama (Puluhan Tahun) tidak terbayar bunga berbunga, denda beranak denda hingga hutang itu mencapai lebih dari 20 MILYARD !!. Jika Pemerintah maka pasti sudah ditindak KPK, jika lembaga bank pasti managernya sudah dipecat. Jadi untuk kejelasannya maka kami minta agar Majelis Sinode mau menjelaskannya secara transparan diserta bukti buktinya. Semoga tidak ada dusta diantara kita…

Jika saya membaca buku Hasil Persidangan Sinode Istimewa GPIB 2002 yang diadakan di Wisma Kinasih Cemerlang, Caringin Bogor pada tanggal 3 – 6 Maret 2002, pada hal 95 point 3 dari Masalah Masalah Yang Dihadapi Pengelola Dana Pensiun tertulis : “Dari informasi yang kami dapat bahwa pada tahun 1997 s/d 1999 pungutan iuran tidak disetor oleh Majelis Sinode kepada Dana Pensiun dalam Perode diatas”. Dan salah satu Rekomendasi yang diberikan oleh Tim Pengkajian Dana Pensiun GPIB Komisi VI (Khusus) adalah : Apabila butir butir A diatas tidak dapat dipenuhi maka kami menyarankan membubarkan Dana Pensiun GPIB dan mengalihkan kepada Dana Pensiun Lembaga Keuangan yang Lain”. Disini dengan jelas tertulis :

  1. Diperiode 1997 s/d 1999 Majelis Sinode tidak menyetor pungutan iuran, artinya gereja gereja telah membayar iuran itu ke Majelis Sinode tetapi majelis sinode tidak meneruskannya ke Dana Pensiun.
  2. Iuran tidak disetor, artinya MODAL AWAL sudah lama disetor, tinggal Iuran yang tidak mereka setor, bandingkan dengan bunyi tulisan dibalik kupon diatas, yang menekankan Hutang Kewajiban Awal sejak tahun 1988 !!. (artinya masalah ini sudah 20 Tahun dipelihara !!)
  3. Dana Pensiun GPIB, artinya lembaga ini mulanya milik GPIB sendiri, artinya Majelis Sinode membentuk Lembaga Dana Pensiun sendiri, mirip seperti anak perusahaan, jika benar begitu maka kenapa bisa terjadi hutang ? kenapa bisa terjadi bunga berbunga denda berdenda ? siapa yang menangguk untung ? siapa yang buntung ?. Jika kita membuka internet maka disana ada surat yang mengatakan bahwa kerugian ini disebabkan oleh oknum Majelis Sinode yang menyalah gunakan keuangan, jika kita hubungkan dengan Laporan Tim Kajian diatas yang menyebutkan pada perode 1997 s/d 1999 tidak ada penyetoran dari Majelis Sinode ke Dana Pensiun, apakah ini pangkal masalahnya ? apakah ini sebuah petunjuk atau kaitan benang merahnya ? apakah benar ada dugaan tindak penggelapan yang dilakukan oleh oknum ? apakah ada pelaporan seakan akan disetorkan padahal faktanya tidak disetor ?? jika benar maka oknum itulah yang harus diproses, hartanya disita, bukan malah didiamkan, dimaklumi tapi kerugian itu menjadi tanggungan jemaat.

Permasalahan Dana Pensiun sudah berlangsung lama tapi para PHMJ di gereja gereja tidak mau membayarnya karena :

  1. Yang Bertanggung jawab adalah Majelis Sinode bukan gereja apalagi jemaat, gereja sudah melakukan kewajibannya dengan membayar iuran dana pensiun secara rutin ke Majelis Sinode.
  2. PHMJ tidak mau membebani jemaat akan kerugian yang tidak jemaat lakukan.
  3. PHMJ menimbangnya dari segi keadilan, adilkah jika jemaat yang banyak hidup dalam kesederhanaan, yang tidak mendapatkan pensiun harus membantu pensiunan pendeta agar uang pensiun yang diterimanya menjadi bertambah besar ? (Ingat Pensiunan Pendeta sudah  mendapatkan uang pensiun walau dalam jumlah yang kecil).
  4. PHMJ tidak mau Jemaat mengetahui kebobrokan oknum pejabat / permasalahan di Pusat/ Majelis Sinode, karena jika jemaat mengetahui maka bagaimana bisa menegakkan ajaran kristus jika Pejabat di Markas Besar saja sudah berbuat seperti itu ? artinya harkat dan martabat Majelis Sinode jadi hancur lebur.

Sehingga sangat disayangkan kupon yang bertanggal April 2007  itu  (Menandakan waktu itu penerapan kupon terjadi penolakan diberbagai gereja) bisa lolos dan dibaca oleh Jemaat, apalagi dibalik kupon itu tertulis kalimat yang memalukan seperti diatas. Atau Majelis Sinode lebih mementingkan pemasukan dana daripada hancurnya harkat dan martabat lembaga Majelis Sinode. Suatu pilihan yang sangat menyedihkan sekaligus memalukan !!

Ditingkat bawah ada beberapa Pendeta / PHMJ dibeberapa gereja yang bersikap bijak dimana mereka berupaya menyembunyikan persoalan atau kebobrokan diatas dan berupaya agar tulisan dibalik kupon itu tidak dibaca oleh jemaat maka mereka berkorban membayarnya dari Kas Jemaat, bukan menariknya secara langsung dari Jemaat.  Bukankah Kas Jemaat juga berasal dari pemberian para jemaat ??? artinya langkah ini bijak walau mereka tidak berani (baca Pengecut) menjalankan fungsi kenabian mereka yaitu menegur atau menasehati para atasan yang duduk disinggasana diatas.

Persoalan dana pensiun adalah persoalan Pendeta/ karyawan dan Majelis Sinode, bukan persoalan Jemaat, cukup banyak beban jemaat untuk menjalankan roda aktivitas pelayanan, ingat jemaat sendiripun banyak yang tidak menentu masa depannya, banyak yang tidak mendapat pensiun. Rasanya gereja lebih banyak merongrong keuangan jemaat daripada anak kita sendiri, kantong kolekte dibuat 2 padahal penggunaan dan pencatatannya sama, ada 2 kotak yang diletakkan didepan gereja untuk disumbang, ada kolekte kebaktian Kaum Bapak, Kaum Ibu, Pemuda, Taruna, Anak Anak, Ada Amplop Persembahan Tetap Bulanan, Ada Amplop HUT Ulang Tahun Jemaat, Ada Perpuluhan,  Ada Tarikan untuk melaksanakan Kegiatan Retreat, Natal, Paskah, HUT GPIB, Diakonia dll. Apa arti dan makna sesungguhnya dari gereja ? apa visi dan misi gereja ?

Pemberian kupon dana pensiun ke jemaat malah membongkar borok lama dan mempermalukan diri sendiri. Apalagi jika kita mengingat Majelis Sinode telah menjual Rumah Sakit Mardi Santosa yang terletak di jalan Bubutan Surabaya dimana didalam Buku diatas pada halaman 98 – 118 tertulis betapa diduga banyak permainan terjadi hingga bukan keuntungan yang didapat tapi diperkirakan membawa kerugian senilai Total  Rp. 26.049.463.400 (Baca 26 Milyard lebih) baca halaman 115 . Sungguh menyedihkan GPIB sampai ditertawakan orang sebagai gereja tukang jual aset !!. dan tidak bisa menggunakan/memanfaatkan uang hasil penjualan aset tersebut.

Ada tulisan yang sangat menarik didalam buku ini yaitu dihalaman 101 yaitu pada bagian Pelayanan dan Kesaksian.

  1. INTERNAL :
  1. Kepemimpinan GPIB sebagai lembaga spiritual telah bergeser menjadi kepemimpinan duniawi yang meninggalkan fungsi pelayanan dan menonjolkan fungsi komersiilnya dan nyaris mengubah status GPIB sebagai Badan Sosial Keagamaan menjadi BADAN USAHA !.
  2. Wibawa dan Citra Majelis Sinode menurun sangat tajam, disamping itu terjadi saling curiga diantara kelompok kelompok dalam GPIB.
  1. EKSTERNAL :
  1. Citra GPIB dimasyarakat dan dalam pandangan gereja lain adalah sangat buruk.
  2. Dengan kebijaksanaan penjualan aset Rumah Sakit Mardi Santoso tersebut, maka wadah pelayanan dan kesaksian yang selama berpuluh tahun berfungsi dengan baik tidak lagi dapat dilanjutkan khusus bagi kalangan masyarakat menengah kebawah di kota Surabaya.

KESIMPULAN :

  1. Profesionalisme diabaikan.
  2. Rasa memiliki pada Majelis Sinode XV terhadap GPIB adalah minim.
  3. Tidak melalui procedure sesuai ketentuan yang berlaku.
  4. Misi / Visi GPIB diabaikan.
  5. Citra GPIB mengalami Degradasi.
  6. Dari segi keuangan GPIB menderita kerugian yang besar.

REKOMENDASI :

  1. Penerapan kasih harus disertai dengan keadilan dan kebenaran.
  2. Penyimpangan harus ditindak lanjuti melalui jalur hukum untuk mendapat kepastian hukum.
  3. Pembekuan Kegiatan Yayasan Bina Kesehatan GPIB.
  4. Perlu kelengkapan perangkat aturan yang jelas.
  5. A. RS Griya Husada (Sebagai Pengganti RS Mardi Sentoso) untuk dapat beroperasi harus memenuhi syarat :
    1. Dikelola secara profesional dengan tenaga professional.
    2. Harus menyediakan dana yang cukup besar.

B. RS Griya Husada dijual apabila ad A tidak bisa dipenuhi.

Dibuat oleh Tim Pengkaji RS Griya Husada:

  1. Pendeta HH. Jacob, S.TH.
  2. Penatua Ray Tumondo.
  3. Penatua Hendrik Tuwanakotta.
  4. Penatua Bambang Harijono.
  5. Penatua E.B. Sirait.

Dan dihalaman 97 Point II. Tertulis “ Mengenai Konven pendeta GPIB saya sebagai Penatua melihat : Isinya hanya melulu tuntutan tuntutan kesejahteraan Pendeta dan hak hak pendeta saja, dimana itu pelayanan dan kewajiban pendeta dalam hal pembangunan jemaat ? Tidak ada !!. Demikian Catatan Catatan Presentasi Komisi VI (Khusus) yang ditanda tangani oleh Penatua K.D. Hutabarat selaku Ketua dan Pendeta Ny. K. Foony Barahama-Pattipeilohy selaku Sekretaris.

Hal diatas menunjukkan permasalahan gereja GPIB sudah terjadi sejak lama, didalam lingkup mereka saja sudah ada yang melihat, sudah ada yang mengkritisinya secara pedas tapi rupanya sampai sekarang belum ada perubahan. Memang saya mengetahui masih cukup banyak ada pendeta yang benar tapi biasanya di zaman seperti ini orang orang benar malah disingkirkan, ditenggelamkan…dan golongan ini biasanya juga cari selamat, mereka hanya beraninya berdoa dan berdoa tanpa berani menjadi martir kebenaran.

  1. BERBAGAI PERMASALAHAN LAINNYA.

Akibat ketidak mampuan pucuk pimpinan maka berakibat kacau balaunya hidup bergereja dan berjemaat di tingkat bawah dibeberapa gereja diberbagai negeri ini, oknum oknum ini berupaya merangkul dan menguasai PHMJ dan Majelis Jemaat ditempat dirinya bertugas,  juga berlomba memperkaya diri sendiri, mereka berlagak jadi penguasa yang otoriter, mereka berlagak jadi orang yang maha benar, mereka tidak punya rasa memiliki dan mencintai GPIB, Tidak mau menjaga nama baik gerejanya apalagi nama dan jabatan kependetaannya, kerugian yang dibuat oleh rekannya tidak diusut, tidak dibebankan pada pelaku. Jika tidak sehaluan maka akan dimusuhi, disingkirkan, akan dipecat. Cukup banyak jemaat yang lari menjauh, Mereka lupa bahwa gereja adalah tempat utama untuk saling belajar dan mengajar, saling menasehati agar kita bisa bertumbuh dalam iman, moral, sikap yaitu hidup benar, hidup baik, hidup penuh kasih.

Baru baru ini di gereja GPIB Bukit Harapan Surabaya banyak jemaat dikejutkan karena pembantu atau Cleaning Service atau Koster Gereja akan Dipensiun (bahasa kasarnya dipecat dengan hormat, tapi namanya juga pembantu berstatus honorer jelas tidak mendapatkan uang pensiun), pembantu ini terkejut karena pada saat perekrutan tidak ada keterangan bahwa mereka bekerja hanya sebatas usia 55 tahun (Lucunya dalam iklan mencari penggantinya di Warta Jemaat 21 Juni syaratnya adalah maksimal berusia 45 tahun jadi minimal tugasnya hanya 10 tahun karena di usia 55 tahun mereka diberhentikan, jika ingin cari orang yang bertenaga kuat kenapa tidak mencari para pemuda berusia 20 an tahun ?), mereka yang akan dipensiun ini mengetahui dirinya akan dipensiun hanya dari Warta diatas, mereka tidak diberitahu apalagi diberi persiapan persiapan / bimbingan agar mereka kuat memasuki masa pensiun, jika diperusahaan ada Masa Persiapan Pensiun (MPP) untuk mempersiapkan diri berwira usaha atau mencari pekerjaan lain, bayangkan Pendeta yang bergaji besar dan berpendidikan tinggi, dan beriman kuat saja gentar dan bermuka muram saat memikirkan akan memasuki masa pensiun yang sudah diketahui saatnya, apalagi pembantu gereja yang tiba tiba akan dipensiun !!. Tenaga honorer seperti mereka tidak selalu terikat pada aturan kepegawaian, selama mereka mampu melaksanakan tugas maka alangkah baiknya jika kita tetap memakai jasa mereka, jika perlu sampai ahir hayat mereka kita ikut ambil bagian memelihara, merawat mereka. Jika ada kesalahan atau kekurangan atau sikap yang tidak baik dari mereka maka menjadi tugas para Manager (PHMJ/Pendeta) untuk membinanya, untuk mendidiknya. Jika mereka orang pintar maka jelas mereka tidak jadi pembantu, mungkin jadi pegawai tetap disuatu perusahaan. Jika istri atau suami kita berperilaku tidak baik maka tugas pasangannya untuk membinanya, bukan menceraikannya/ memecatnya jadi istri/suami. Gereja bukan sebuah perusahaan Pencari Laba, yang selalu memperhitungkan dalam takaran Untung dan Rugi, Gereja adalah tempat belajar mengajar dan menerapkan  pelayanan dan menjalankan kasih. Saya sering kagum melihat beberapa perusahaan yang mau menerima karyawan yang mengalami cacat fisik mereka membiarkan bekerja walau hanya dalam beberapa jam belaka, mereka membiarkan karyawan lamanya tetap bekerja walau sudah tua renta, mereka tidak menjalankan gerakan habis manis sepah dibuang,  mereka menjalankan fungsi sosialnya, kenapa gereja tidak lebih baik dari mereka ?, ada gereja yang gencar melakukan bakti  sosial, para janda atau anak yatim atau Lansia disantuni, kenapa kita tidak tetap mempekerjakan orang yang masih mampu dan mau melaksanakan tugas daripada kita menyantuni orang secara Cuma Cuma ? biarkanlah mereka bekerja melayani dirumah Tuhan…melayani dirumah Tuhan walau hanya sebagai tukang sapu sangatlah membanggakan bagi sebagian orang,  semua keputusan memang hak orang yang menjabat atau yang punya kuasa, tapi saya tetap menghimbau gunakanlah hati nurani… waspadalah akan pengaruh si jahat…kita ingin mempermuliakan nama Tuhan bukan malah mempermalukanNYA. Janganlah kita menambah pengangguran dinegeri ini, janganlah kita mematahkan angan baik dari orang orang yang bisa kita bantu.

Akhir kata :

Janganlah kita mengajarkan agar hidup kudus tapi kita menajiskan diri, kita mengajarkan untuk memaafkan tapi kita pendendam, kita mengajarkan agar jadi Garam dan Terang serta tidak mengikuti cara cara dunia tapi  mengurus IMB gereja kita  menyogok pejabat, kita mengajarkan agar hidup tulus dan cerdik tapi kita tidak tulus dan suka bohong membohongi !!

Janganlah kita marah karena ada saudara miskin kita yang memang perlu bantuan meminjam uang sebesar total 100 Ribu hingga 1 Juta kepada 1 – 3 orang saudara kita yang kaya karena kita malah mendukung para pendeta MEMINTA (Baca bukan MEMINJAM) uang pada seluruh jemaaat ( +/- 300 KK) termasuk jemaat miskin yang jika ditotal jumlahnya bisa mencapai 50 juta – 100 juta per gereja !!

Untuk mengembalikan Gereja pada rel dan roh yang sebenarnya perlu upaya keras, perlu perjuangan dan pengorbanan, tapi itu harus dilakukan jika tidak nama boleh tetap Gereja tapi maknanya sudah jauh berbeda…..

Labih Basar.

Jl. Griya Kebraon Barat VIII – BH 4 Surabaya.

Tembusan : Kebeberapa gereja GPIB .

Saya mengingatkan kembali akan sebagian kecil ayat ayat yang sering dikumandangkan atau “dijual” oleh para pendeta kepada jemaatnya, yaitu :

Amsal  3:35 Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh.

Amsal  5:23 Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat.

Amsal  14:33 Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal.

Amsal  10:23 Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal, sebagaimana melakukan hikmat bagi orang yang pandai.

Amsal  17:23 Orang fasik menerima hadiah suapan dari pundi-pundi untuk membelokkan jalan hukum.

Amsal  21:13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.

Mazmur 37:30 Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum.

I Raja Raja 3:28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Amsal  15:33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

Amsal  1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Amsal  9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

Amsal  10:13 Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.

Pengkhotbah  4:13 Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.

Pengkhotbah 9:15-16 di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu. Kataku: “Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan, tetapi hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang.”

Yesaya 32:17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

AMSAL 29:2-7 Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat. Orang yang mencintai hikmat menggembirakan ayahnya, tetapi siapa yang bergaul dengan pelacur memboroskan harta. Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya. Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya. Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita. Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.

Yehezkiel 34:2-7 “Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman.Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorang pun yang memperhatikan atau yang mencarinya.Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN:

Kis 20:33- 35 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Galatia 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Matius  7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Matius  24:11 Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.

Berbahagialah orang yang mendengarkan kritikan, jika tidak maka ia akan mati oleh pujian semu….

—————————–00000——————————

CATATAN TAMBAHAN (28-6-09)

Contoh contoh kebijaksanaan itu ada disekitar kehidupan pribadi pribadi PHMJ kita misal :

  1. Bapak RONNY BUISAN yang telah dipensiun dari tugasnya sebagai seorang militer (PEGAWAI TETAP) bisa bekerja ditampung di sebuah perusahaan swasta. Artinya seorang yang sudah memasuki masa pensiun masih productive, masih bisa bekerja dan berkarya, bapak Ronny masih bisa bertugas dimalam hari. Institusi militer membantu para militer yang akan memasuki masa pensiun dengan mencarikan pekerjaan buat mereka, jika dilingkungan militer ada tenaga honorer pastilah mereka akan menempatkannya disitu, karena tidak ada maka mereka mencarikannya diluar.
  1. Dikantor bapak KURNAIN yaitu PT. AGRINDO dimana istri saya juga bekerja disana juga mengedepankan kebijaksanaan dan kasih dimana Karyawan Tetapnya yang memasuki masa pensiun memang dipensiunkan TAPI mereka tetap meminta karyawan tersebut bekerja disana dengan status KONTRAK KERJA yang ditanda tangani setiap tahun selama karyawan yang bersangkutan mampu menjalankan tugasnya.
  1. Dan kita juga pernah mendengar ada pejabat pemerintah ataupun militer yang DIPERPANJANG masa pensiunnya karena tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan, atau dipensiunkan tapi direkrut sebagai tenaga ahli.

Tiga contoh diatas adalah penanganan membantu KARYAWAN TETAP yang dipensiun karena aturan. Tapi bagi Karyawan HONORER apalagi sekelas Pembantu, Sopir, Tukang Kebun, Petugas Keamanan maka mereka tidak perlu diterapkan oleh batasan usia pensiun. Sehingga perusahaan tidak perlu mempensiunkan mereka tidak repot mencarikan pekerjaan buat mereka, mereka tetap bisa dipakai selama mereka Mau dan Mampu menjalankan tugas. Bayangkan penanganan Pegawai Tetap yang bergaji lebih besar dari Pegawai Honorer dan mendapatkan Uang Pesangon besar saat pensiun ditambah uang pensiun bulanan saja harus ditangani dengan baik, apalagi tenaga honorer yang tidak diberi pesangon besar dan tidak diberi uang pensiun bulanan !! Status Tenaga Honorer bukan menjadi senjata kita melindas atau melibas seseorang apalagi terjadi dilingkungan gereja yang selalu mengajarkan Kasih.

Saya sepakat bagi KARYAWAN TETAP harus mengikuti aturan bila waktunya pensiun maka harus dipensiunkan,  karena aturan harus ditegakkan apalagi berkaitan dengan sistim Pengkaderan yang berkaitan dengan perekrutan, penempatan tenaga/karyawan baru yang telah dipersiapkan, tapi jika kita memerlukan tenaga dan pikirannya, jika kita mengasihi mereka maka bisa kita kontrak menjadi tenaga KONTRAKAN  atau tenaga HONORER seperti yang dilakukan oleh PT. AGRINDO diatas.

Seorang tenaga HONORER tidak terikat pada beberapa aturan yang diterapkan pada Karyawan Tetap, sehingga tidak mendapatkan hak yang sama dengan Karyawan Tetap seperti Gaji yang lebih kecil, tidak dapat THR/bonus atau dapat THR/bonus tapi dalam jumlah kecil, tidak dapat bantuan kesehatan, tidak dapat uang tunjangan cuti. Tidak dapat uang pensiun. Demikian pula dengan Masa Pensiun, mereka tidak terikat karena biasanya tenaga HONORER adalah suatu kebijaksanaan lokal (Bukan PUSAT) sehingga nama/status kepegawaiannya TIDAK tercatat secara resmi di induk perusahaan/instansi, mereka tidak punya nomor induk kepegawaian, dalam skala kecil kita melihat dirumah tangga kita ada pembantu/sopir/tukang kebun yang sudah berumur 70 an tahun tetap dipakai dari menjaga anak/rumah kita hingga menjaga cucu/rumah cucu kita, disinilah kita bermain dalam KEBIJAKSANAAN, dalam HIKMAT yang dituntut dijalankan oleh Umat Pilihan Allah, Oleh umat yang mengakui Yesus yang maha kasih itu sebagai pemimpin segala galanya.

Apa yang dituntut dari kita  agar  kedamaian tercipta dibumi ini ? tidak lain adalah HIKMAT / KEBIJAKSANAAN dan Akal Budi  (AKAL yang BERBUDI bukan akal jahat, bukan akal menang menangan.

Pada saat kita mendoakan uang yang dipersembahkan oleh jemaat dengan kalimat, “untuk dipergunakan bagi kemuliaan nama Tuhan” maka kita harus mempertanggung jawabkan ucapan itu, uang jemaat diperuntukkan pada hal yang semestinya, uang jemaat digunakan untuk pelayanan bagi orang yang tidak mampu, membantu yang berkekurangan, syukur memberi uang tidak percuma karena diberi imbal balik berupa pelayanan oleh pembantu /sopir tenaga honorer, uang jemaat yang telah didoakan bukan uang pribadi kita….

Mahkota orang beriman adalah Takut akan Tuhan disitulah Permulaan dari HIKMAT, dan kita seimbangkan fungsi otak kiri kita (pengetahuan) dan otak kanan kita (Hikmat) agar membuat hati kita bersih dan baik, agar dari hati yang mempengaruhi tingkah laku dan tutur kata kita nama Tuhan dipermuliakan. Jagalah hati jangan kau nodai…

Kita bisa salah langkah tapi jika kita mau berbesar hati mengakui kesalahan untuk memperbaikinya maka itu menyenangkan hati Tuhan, tapi jika gengsi dan kekuasaan sebagai pejabat gereja dikedepankan maka Tuhan semakin berduka melihat anak anaknya punya pendirian yang keras… keras berpegang pada keburukan. Kasih harus diwujud nyatakan dalam perbuatan, kasih tidak akan pilih kasih.

Sekian dan terima kasih.

Hormat saya,

Labih Basar

Sudah sering kita mendengar ungkapan “ I Hate Monday ” karena di hari senin itu kita mulai melaksanakan pekerjaan rutin kita, dan pada bidang-bidang tertentu pekerjaan di hari senin jauh lebih banyak / lebih berat jika dibandingkan dengan pekerjaan di hari lainnya, bagi sebagian dari kita memang sering membenci hari Senin apalagi jika di hari libur (Minggu atau Sabtu hingga Minggu) kita menikmati dengan nyamannya, senyaman-nyamannya.

Sudah sering pula kita mendengar pernyataan  dari sesama umat maupun dari pendeta yang mengatakan bahwa : “Hidup di surga itu serba mengenakkan, kita tidak perlu bekerja lagi !”.

Bagaimana Alkitab menjawab hal seperti ini ?

Allah menciptakan manusia  sebagai mahluk sosial dan mahluk pekerja, mahluk yang berjuang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, mahluk yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan dan penghargaan oleh karena itu manusia dikarunia Akal Budi dan kesempurnaan fisik..

Ternyata saat Adam dan Hawa menghuni taman Eden bukannya bersenang-senang dan bermalasan saja, tapi mereka diwajibkan mengelola taman itu, mereka diberi tanggung jawab untuk memelihara dan mengusahakan (meningkatkan) agar taman Eden itu menjadi lebih indah dan lebih bermanfaat lagi.

KEJADIAN 2 : 15

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu

Tuhan tidak pernah ingin menguasai pikiran dan kehendak manusia seturut dengan kehendakNYA, Tuhan menciptakan manusia dan memberi manusia kebebasan untuk memilih atau berkehendak, Tuhan tidak menciptakan robot robot tetapi manusia !! oleh karena banyak kehendak atau banyak kemauan atau banyak impian maka manusia manusiapun mulai mengembangkan kemampuan dan keahliannya sesuai dengan talentanya masing masing. Manusia saling melengkapi, saling bekerja sama, saling menghargai akan karya atau keahlian insan lainnya.

KELUARAN 35 : 35

Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan dan perancang segala sesuatu.

Siapa yang bekerja baik maka iapun mendapatkan upahnya (nilainya/ penghargaan), jika karya / pekerjaannya baik maka besarlah nilai yang didapatnya, dia layak mendapatkannya layak menikmati hasilnya, begitupun sebaliknya bagi seorang yang pemalas.

PENGKHOTBAH 2 : 24

Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah..

AMSAL 12:27

Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.

Tetapi sebagai mahluk Ciptaan dan mahluk sosial maka kitapun harus menyediakan waktu khusus buat melakukan penyembahan, pengucapan syukur kepada Tuhan Allah kita. Sebagai mahluk yang terbatas maka kitapun memerlukan waktu untuk beristirahat, sebagai mahluk sosial maka kitapun perlu membina hubungan dengan keluarga, kelompok atau masyarakat lainnya. Jangan kita diperbudak oleh pekerjaan sehingga melupakan tanggung jawab pembinaan kepada keluarga kita, hubungan dengan pencipta kita.

KELUARAN 34 : 21

Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga.

Manusia memerlukan kesehatan dan kesimbangan hidup, manusia pekerja haruslah dalam kondisi yang prima, untuk itu harus memanfaatkan waktu  beristirahat sebaik baiknya. Pola hidup dan pola makan yang tertata. Kenapa Tuhan hanya menetapkan atau meminta khusus 1 hari saja untuk beristirahat agar memuliakan namaNYA ? Tuhan tahu bahwa kita adalah mahluk sosial, kita hidup di bumi, kita berpijak dan berkarya di bumi, segala karya kita dilandasi oleh cerminan Kasihnya, karya kita adalah pujian bagi DIA, karya kita adalah bukti tanggung jawab kita pada Sang Pencipta.. Persoalan Surga hanya sedikit diulas di Alkitab yang banyak adalah persoalan & perjuangan hidup kita di bumi, karena kita ditugaskan menarik suasana surga agar melingkupi kehidupan kita dibumi,  Jadikanlah hidup lebih hidup lagi sama seperti Adam dan Hawa dipercaya untuk mengelola, merawat taman Eden. Jangan harap kita dapat mencapai surga kalau kita menjadi bagian dari orang orang neraka yang menerakakan bumi.

Kita adalah wakil-wakil / anak-anak Allah, jadi bekerjalah dengan baik dan bertanggung jawab, jangan berkompromi melakukan hal hal yang tidak baik seperti korupsi, mencelakakan orang lain, yang melanggar hukum dan Norma Agama. Jangan berbangga diri jadi Robinhood yang merampok orang kaya dan memberikan pada yang miskin. Karena cukup banyak dari kita yang melakukan hal yang senada dengan yang dilakukan oleh Robinhood, yaitu merampok uang negara dan membagikan hasil kurupsi itu ke panti asuhan hingga gereja.. Lucunya ada pendeta yang menerima hal itu bergembira dan tambah giat mendoakan agar orang itu diberi rejeki yang berkelimpahan (baca; mengkurop yang banyak lagi) !!.

Konsep Tuhan, manusia adalah manusia sosial, manusia pekerja, manusia yang berkarya, manusia yang berguna, manusia yang saling mengisi atau melengkapi, tidak ada sesuatu yang dihasilkan tanpa sebuah usaha ! karena Allah Sang Penciptapun tiada henti bekerja, Allah memberi teladan yang sempurna bagi ciptaanNYA

YOHANES 5 : 17

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”

Jadi apakah kita pantas mengucapkan : I Hate Monday ?

Apakah kita masih beranggapan bahwa kita akan hidup ongkang ongkang disurga kelak ? apakah kita berharap para malaekat Tuhan yang melayani dan menyuapi kita ?

Mari kita Songsong fajar Senin dengan puja dan puji kepada Tuhan.

GOD Bless YOU…

Gara-gara menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya dan yang dinilainya merugikan dirinya, maka Prita Mulyosari dipenjarakan karena diduga melakukan Pencemaran Nama baik rumah sakit OMNI yang  berskala Internasional  di kota Tangerang. Beruntunglah Media cetak dan Elektronik mengetahuinya sehingga beritanya  menyebar mengakibatkan banyak tokoh dan pihak mengupayakan pembebasannya karena dinilai apa yang dilakukan Prita tidak selayaknya dibalas dengan memperkarakannya secara pidana apalagi dikabarkan oleh sebuah TV swasta bahwa pihak rumah sakit juga akan menuntutnya secara perdata dengan tuntutan ganti rugi uang yang begitu besar, apakah dengan tulisan Prita rumah sakit itu menjadi sepi ? ataukah sepinya sudah sejak lama ?  apakah orang yang sudah dirawat inap memaksa diri keluar dari sana ? jadi kerugian riil apa yang diderita ? nama baik apa yang berkurang ?  seharusnya pihak rumah sakit memakai hak jawabnya menjelaskan akan apa yang terjadi secara rinci biar masyarakatlah yang menilainya.

Harus kita akui cukup banyak perawat atau dokter dirumah sakit yang tidak bisa menjalin komunikasi dengan baik dengan pasien dan keluarganya, dibenak mereka pasien tidak perlu mengetahui, tidak perlu dijelaskan akan proses penyakit yang diderita dan proses atau tahapan penyembuhannya, seharusnya mereka mengerti bahwa pasien dan keluarganya punya hak untuk mengetahuinya, harus ada kerja sama  yang baik bagi kedua belah pihak, apalagi mengingat pasien dan keluarganya dalam kondisi sakit, stress, pusing memikirkan penyakit yang belum jelas (penyakit saja belum jelas apalagi kejelasan penyembuhannya)  atau malah dirasakan semakin memburuk, pusing memikirkan keluarga, pusing memikirkan pekerjaan/usaha yang ditinggalkan, pusing memikirkan biaya yang begitu besar. Orang yang banyak uang saja atau orang yang biayanya ditanggung oleh asuransi saja serta tinggal di kamar VIP saja bisa stress apalagi bagi orang yang hidupnya pas-pasan. Jadi hendaknya segala kepusingan pasien jangan ditambah pusing lagi oleh tingkah polah perawat dan dokter yang tidak bersahabat, yang sok atau semena-mena (Orang yang membayar mahal saja bisa diperlakukan seperti itu bagaimana dengan pasien miskin yang dibiayai oleh negara ? ) seharusnya perawat dan dokter membantu “pengobatan” psikologis pasien karena dari dana pasien itulah  mereka mendapat penghasilan. Di dalam dunia dagang maka penjual berusaha sangat ramah dan melayani pembelinya, demikian juga dalam dunia jasa seperti bengkel maka pemilik bengkel dan montirnya memberikan penjelasan penjelasan yang baik kepada konsumennya, tapi kebanyakan dokter dan perawat malah sering membuat pasien “makan hati” akan sikap dan perkataannya, saya melihat kebanyakan dokter dan perawat sangat kurang mampu melakukan pendekatan kepada pasiennya, mungkin ini dilakukan karena dibenak mereka waktu adalah uang dan uang, kalimat yang diucapkannya punya nilai rupiah, pasien itu bodoh dan harus diam terima saja mau diapa apakan juga harus diam,  mereka lupa bahwa pasien itu orang sakit dan orang awam yang tidak mengerti akan penyakitnya dan proses penyembuhannya, jadi harus dijelaskan dengan bahasa yang baik yang dapat diterima oleh pasiennya.

Saya beberapa kali menjumpai seorang ayah yang marah marah kepada rumah sakit / dokter karena diharuskan membayar jasa dokter kandungan padahal dokter yang bersangkutan tidak melayani persalinan istrinya karena dokter tersebut sedang sibuk dirumah sakit lain atau sedang diluar kota atau keluar negeri sehingga yang membantu persalinan adalah bidan rumah sakit, bayangkan betapa tegangnya seorang suami  saat istrinya mau melahirkan tapi dokter yang dipercayai dan diharapkannya tidak berada ditempat, biasanya bidan tidak berani  langsung menangani kalau sudah dipegang oleh dokter, mereka takut dimarahi dokter ? tapi jika dokter belum juga datang tanpa kabar atau memberi kabar memastikan diri tidak datang tapi tidak juga mengirimkan teman dokter atau asistennya maka terpaksalah bidan bertindak … sampai waktu pasien mau pulang dokterpun tidak pernah nongol !! tapi kenapa saat akan membayar ada biaya dokter ?? Apa kata dokter ? saya telah memberikan advis lewat telpon !! siapa yang dapat membuktikan kebenarannya ????

Saya menilai dari surat yang dibuat Prita bahwa sangat wajar jika dirinya kecewa dan ahirnya membuatnya “marah”, karena jawaban jawaban yang diberikan masih belum memuaskan hatinya. Itulah pentingnya sebuah komunikasi yang baik, perasaan memahami orang yang sakit, kecewa harus ditimbulkan, jika tidak perasaan tidak memuaskan menjadi kekecewaan dan kecurigaan..

Nasi sudah menjadi bubur, persoalan ini sudah sampai dimeja Hakim, maka saya memohon agar hakim melakukan pembuktian secara terbalik, yaitu pihak rumah sakit OMNI lah yang harus membuktikan diri mereka tidak bersalah, tidak melakukan penipuan, tidak salah diagnosa, tidak salah memberi obat dan tidak mempersulit Prita. Kenapa ? karena Prita tidak punya banyak bukti akan nama obat apa yang diberikan, akan berapa kali darahnya diambil untuk penelitian laboratorium, akan kebenaran / keaslian pelaporan dan tindakan lainnya. Jika yang diperiksa adalah Prita dan disuruh untuk membuktikan akan apa yang dikeluhkan, dan dituduhkan maka jelas dia tidak akan bisa membuktikannya secara keseluruhan.

Sebuah rumah sakit yang baik akan mencatat secara lengkap akan kronologis pemeriksaan dan tindakan yang diberikan kepada pasien, setiap 3-4 jam  pasien di ukur suhu badan dan tensi darahnya, urine yang dikeluarkanpun diukur volumenya. Kasus tertentu seperti Demam Berdarah maka setiap hari darah / trombositnya diperiksa dilaboratorium, semuanya tercatat secara rapi baik oleh pihak dokter UGD yang pertama menerima pasien, laboratorium, perawat ruangan, termasuk waktu/hari kedatangan dokter yang memeriksanya, analisa dokter, obat / cairan infuse yang diberikan kesemuanya dapat di cross check ! caranya sebagai berikut :

1.  Di UGD kita bisa melihat catatan akan waktu/jam/hari pasien datang, apa yang dikeluhkan pasien, siapa dokter dan perawat yang menangani,  apa hasil pemeriksaan fisik pasien, tensi darah, denyut nada, dan suhu badannya, apa hasil laboratorium, apa dugaan awal dan tindakan awal yang dilakukan / diberikan, apa dasar memutuskan untuk rawat inap. Dokter siapa yang diingini atau dianjurkan untuk merawat pasien (biasanya dokter spesialis).

2. Diruangan rawat inap dapat dilihat catatan kapan pasien masuk kamar rawat inap, apa hasil pemeriksaan awal dari UGD, apa yang dilakukan para perawat / dokter jaga (biasanya dokter umum) ruangan, apa yang dilaporkan kepada dokter spesialis yang sudah dipilih atau sudah disetujui oleh pasien/keluarga pasien (biasanya dilaporkan per telpon, ini bisa dilakukan oleh petugas UGD atau oleh petugas Ruangan), apa yang diperintahkan oleh dokter spesialis untuk dilakukan / diberikan termasuk obat / infuse, kompres (bisa juga diperintahkan pada saat laporan dokter UGD kepada dokter spesialis yang diminta oleh pasien, sehingga perawat ruangan hanya menjalankan instruksi yang diberikan dokter spesialis via dokter jaga UGD), kapan saja dokter spesialis datang berkunjung menengok pasien (Visite), apa keadaan pasien yang dilaporkan perawat pada dokter (suhu badan, tensi, denyut nadi, volume urine, BAB, banyaknya makanan yang dimakan dan minuman yang diminum,  hasil Lab. dll), apa tindakan dari dokter, apa kesimpulannya/ perkembangannya, berapa banyak resep yang diberikan dokter, berapa banyak pemeriksaan laboratorium, jika ada pergantian obat/resep obat yang diberikan kenapa ? apa dasarnya ? apa ada kesalahan diagnosa ?

3. Di Apotik kita bisa melihat berapa banyak jumlah lembar resep dokter untuk pasien tersebut, apa nama obatnya/ cairan infusenya dan apa kegunaannya, dari resep dan infuse kita sudah bisa menduga akan arah dugaan penyakit yang diperkirakan oleh dokter tersebut, cek juga stock obat apotik pada stock obat yang tertera diresep apa benar telah keluar sesuai dengan resep tersebut, siapa dokter yang mengeluarkan resepnya ? siapa nama pasiennya ? cek juga laporan dari kasir apotik, sesuaikah laporan keuangan dengan jumlah pembayaran obat yang diberikan ?.

4. Di Laboratorium, kapan darah pasien diambil ? (biasanya diambil ditempat tidur pasien diruangan), apa dasar pengambilan sample darah ? perintah dokter siapakah ?, apa saja yang diperiksa ? siapa yang bertugas mengambil sample ? siapa yang memeriksa sample ?  apa hasil pemeriksaan ? apakah dihari lainnya ada pemeriksaan yang lain dari yang sebelumnya ? dari pemeriksaan yang diambil kita bisa melihat akan arah dugaan dokter akan penyakit / perkembangan penyakit yang diderita pasiennya.

Dari catatan catatan diatas maka kita dapat menilai apakah pihak rumah sakit / dokter telah melakukan kesalahan ataukah tidak.

Sejak tahun 1980 saya mulai menuangkan pemikiran atau pendapat saya dalam bentuk surat / suara pembaca yang dimuat diberbagai Koran, isinya adalah penyampaian pendapat/ masukan, kritikan, teguran kepada pejabat / masyarakat akan kebijakan/ tingkah laku yang mereka lakukan. Rubrik yang dahulunya penuh berisi “KTP/SIM HILANG” dll. lambat laun mulai berubah, perubahan yang sangat menggembirakan hati saya, karena menurut saya lebih baik dan efektip menyampaikan pendapat lewat surat/ suara pembaca daripada kita turun berdemo dijalan jalan, tapi rupanya para pejabat kita lebih memperhatikan tekanan / masukan / protes yang disampaikan lewat cara demo turun kejalan, daripada membaca suara seorang penulis. Tapi dipihak lain banyak instansi / toko yang “bersengketa” terpaksa mau membuka komunikasi, membuka pintu rekonsiliasi setelah masalahnya dimuat di surat pembaca, sebenarnya masalah kecil dapat segera diselesaikan tanpa harus menyebar luas kemana mana. Kata kata yang pedas keluar kebanyakan dari orang sakit atau orang yang putus asa karena mereka ingin segala sesuatunya selesai dalam waktu yang sesingkat singkatnya, seperti kasus Prita dan contoh lain yang sedang hangat adalah kasus Manohara yang mengatakan Dubes Indonesia di Malaysia tidak peduli, tidak mau membantu menyelesaikan permasalahannya, yang dilakukan Dubes mungkin sama yang dilakukan kebanyakan dokter yaitu tidak memahami psikologis orang sakit, orang kalut, orang tertekan yang butuh penjelasan, jadi jangan keluhan atau tudingan Manohara di balas dengan akan memperkarakannya kemeja hijau, memang itu adalah hak tapi orang menilai sangat tidak bijak, karena yang namanya pejabat jelas tidak dapat memuaskan semua pihak jadi dia harus siap jika dikomplain, dihujat, dituduh, bukan menggunakan waktunya berperkara dengan rakyatnya !!! waktunya digunakan untuk membela, menolong rakyatnya, bukan berperkara dengan rakyatnya sendiri !!  itu yang saya nilai sangat tidak bijak !!.

Semakin terbukanya alam demokrasi kita maka membuat masyarakat semakin berani mengungkapkan kekecewaan, kehendaknya, ketidak setujuannya dengan pejabat penting sekalipun, apalagi jika hal hal yang dirasakannya sangat merugikan keuangan dan kesehatannya seperti yang dirasakan oleh Prita (walau Prita dikabarkan diganti oleh asuransinya), bayangkan jika orang lain yang membiayai pengobatan dirinya atau orang yang dikasihinya dengan menjual harta benda hingga rumahnya !! apa persoalan kecil tidak bisa meledak ???  seharusnya perawat, dokter, rumah sakit tetap bersikap ramah dan lemah lembut, karena bidang ini yang menjadi mata pencaharian mereka, jadi bagaimanapun harus tetap berbaik hati, tetap berkepala dingin, bukan gampang marah, gampang tersinggung dan   main tuntut menuntut. Bayangkan jika pasien sudah sakit tidak dilayani dengan baik padahal dirinya mau membayar berapapun !, bayangkan jika pasien sudah mengeluarkan uang banyak tapi keluarganya tidak sembuh bahkan mati ! Bandingkan dengan dokter, perawat, rumah sakit, apotik, laboratorium yang tetap mengambil keuntungan walau pasiennya meninggal dan walau keluarga pasien sudah menjual harta bendanya atau rumahnya sekalipun, ada dilaporkan ada istri atau anak gadis yang mau menjual diri demi membiayai suami atau anaknya,  atau ayah/ibunya !. Jikapun ada yang keblinger  melakukan penuntutan maka hendaknya laporan ini ditangani secara bijak oleh pihak kepolisian, alangkah baik dan terpujinya jika masalah masalah kecil bisa didamaikan oleh pihak kepolisian. Sehingga biaya dan waktu dapat digunakan kepada hal hal yang perlu.

Kurang lebih setahun yang lampau saat melihat berita bahwa Rumah Tahanan diberbagai kota penuh sesak, tidurpun saling tumpang tindih, belum lagi diberitakan ada isu  pungli dan jual lahan hingga bisnis narkoba maka saya mengusulkan agar orang orang yang ditahan adalah orang yang terkait kasus kasus yang perlu ditahan saja seperti : Pencurian, Pembunuhan, Perampokan. Sedangkan kasus kasus seperti togel seribuan rupiah, korupsi apalagi pencemaran nama baik tidak perlu ditahan, cukup tahanan kota saja, bukankah jika nanti divonis bersalah mereka juga akan ditahan ? bukankah jika ditahan sejak awal masa tahanannya juga dipotong dengan masa tahanan yang telah dijalaninya ? bukankah cukup banyak kasus diatas yang divonis bebas oleh hakim padahal sitersangka sudah lama mendekam ditahanan ? jadi orang yang belum jelas bersalah malah dijejalkan hidup di Rutan dengan orang orang yang bisa merusak kehidupan/jiwa mereka, menurut saya itu suatu kebijakan yang tidak bijak karena disamping biaya negara menjadi besar untuk memberi makan dan minum, juga dapat merusak jiwa orang dan keuangan hingga rumah tangga si tersangka. Memasukkan tersangka kedalam ruang tahanan bukan menyelesaikan masalah karena ruang tahanan tidak mencukupi, makanan yang tidak layak, air bersihpun sangat berkekurangan. Orang yang sehat saja bisa terserang berbagai penyakit, biaya berobat yang ditanggung negara ahirnya membengkak.

Jadi manfaat langkah seleksi orang orang yang perlu ditahan adalah :

1. Tidak merusak jiwa orang yang belum tentu bersalah.
2. Tidak merusak pekerjaan, bisnis, keharmonisan orang yang berperkara.
3. Tidak membebani biaya negara untuk memberi makan, pengobatan, penjagaan.

Parameter ditahan atau tidaknya tersangka bukan didasarkan pada batasan tuntutan yaitu 5 tahun. Tapi pada kebijakan dan kearifan kita, agar insane bangsa ini menjadi baik adanya.

Semoga para pimpinan atau cerdik pandai negeri ini mau berupaya merumuskan hal hal yang membawa kebaikan didalam dunia kedokteran, bisnis dan  hukum kita, dan saya sangat setuju dengan ibu Megawati yang meminta agar UU ITE (informasi dan transaksi elektronik), dihapuskan saja karena memasung dan membungkam peran serta masyarakat dalam melakukan pengawasan, kritikan demi kemajuan bangsa kita, soal merasa terhina adalah sangat tergantung orangnya, jadi ukurannya apa ? terkesan UU ini hadir untuk mengamankan para pemimpin terhindar dari kritikan dan pengawasan, kritikan memang terasa menghina, tapi itu demi kebaikan pejabat dan bangsa ini, apalagi jika melihat ancaman pasal 27 ayat 3 yaitu ancaman hukuman selama 6 tahun dan denda 1 Milyard rupiah !! apakah pasal ini hadir karena terinspirasi akan kalimat “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” jadi hukuman memfitnah dan membunuh beda beda tipis saja sehingga masyarakat boleh memilih apakah mau memfitnah saja atau mau membunuh sekalian !! dan denda 1 Milyard, memang rakyat kita kaya raya ??? sudah melarat tambah “dibunuh” dengan denda yang maha besar itu.

Kepada ibu Prita harap bersabar dan tabahlah selalu, apa yang dilakukan ibu adalah bentuk suatu perjuangan, perjuangan akan hak pribadi dan hak  konsumen lainnya yang sangat banyak  tidak berani mengeluarkan suara protesnya.

Semoga kita semua menjadi instrospeksi atau mawas diri dan akhir kata cam kanlah kalimat ini :

“SEBAGIAN BESAR DARI KITA LEBIH SUKA DIHANCURKAN OLEH PUJIAN DARIPADA DITOLONG OLEH KRITIKAN !”

666

BENARKAH ANGKA 666 ANGKA IBLIS ?

DAN

BENARKAH SETAN HARUS MASUK PAKAI NOMOR PIN ?

SERTA

BAGAIMANA SETAN BERGERILYA ?

(Tulisan ini hadir akibat keprihatinan penulis akan banyaknya sms yang diterima dan yang beredar dimasyarakat dimana isi smsnya  mengingatkan untuk berhati hati akan berbagai produk berkode/berbarkode 666 serta melihat akan situasi dan kondisi gereja yang memprihatinkan !!!)

WAHYU 12 : 7 – 9

7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu  dibantu oleh malaikat-malaikatnya,

8 tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.

9 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

WAHYU 12 : 12-13

12 Karena itu bersukacitalah,  hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya,  celakalah kamu, hai bumi dan laut!  karena Iblis telah turun kepadamu,  dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.”

13 Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.

WAHYU 13:16 – 18.

16. Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya,

17 dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.

18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

WAHYU  14 : 9 – 11.

9 Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: “Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya,

10 maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba.

11 Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.

WAHYU 16 : 2

2 Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.

WAHYU 19 : 20 – 21

20 Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang.

21 Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka.

Ayat ayat diatas merupakan cuplikan dari kitab WAHYU yang menceritakan “PENGLIHATAN” akan asal muasal hadirnya IBLIS di bumi  hingga binasanya IBLIS yang digambarkan berbentuk Seekor Mahluk Ganas dan Berkuasa yaitu Naga berwarna Merah yang bertanduk dan mencari manusia untuk dijadikan pengikutnya serta  memberi mereka “Tanda Anggota” yang ditempelkan di “Tangan Kanan” nya atau di “Dahi” nya, tanda itu yang diyakini sebagai angka 666. sehingga angka 666 dianggap ANGKA SETAN, NOMOR ANGGOTA SETAN, NOMOR PIN SETAN. Sehingga cukup banyak orang kristiani termasuk pendetanya yang “merasa” Memahami atau menguasai Alkitab meng HARAM kan angka 666. akibatnya tidak tanggung tanggung beberapa produk yang kebetulan bernomor produksi atau ber Barcode 666 menjadi obyek penolakan termasuk Boneka Barbie yang digemari diseluruh penjuru dunia dan sebuah Operator Telpon Seluler yang bernomor 08666… Begitu cepat berita itu dibikin dan begitu cepat pula berita itu menyebar kepenjuru negeri dengan perantaraan orang orang “seiman” maksud seiman disini adalah yang sama sama mengimani bahwa angka 666 itu adalah NOMOR PIN SETAN yang ingin mencari atau ingin menjadikan kita pengikutnya….

Semua kelihatan rohani karena ayatnya memang ada, tapi benarkah demikian adanya ? ??

Sekitar 2 dan 3 tahun yang lampau saya sebagai orang awam yang tidak mempelajari dan mendalami Alkitab saat itu memberanikan diri membuat surat pembaca yang dimuat diberbagai koran memberikan pencerahan bahwa kita tidak perlu takut atau mengharamkan angka 666, karena Setan, Iblis itu tidak bekerja masuk kehati kita memakai nomor PIN, di Alkitab dituliskan bahwa Yesus secara langsung berkata bahwa Setan atau Iblis itu bekerja dengan cara menyusup lewat orang terdekat kita, lewat sisi kelam hati kita, lewat kita sebagai jemaat /rohaniawan (pendeta / penginjil) hingga nanti ada yang datang mengaku Nabi dengan melakukan berbagai macam mujizat atas nama Yesus !!. Mari kita membaca :

MATIUS 7 : 15 – 23

15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.

18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

LUKAS 22:48

48 Maka kata Yesus kepadanya:Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?”

KISAH PARA RASUL 20 : 30

30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.

II PETRUS 2 : 1 –  3

1 Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.

2 Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.

3 Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.

I Yohanes 2 : 18 – 19

18 Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.

19 Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.

Dari ayat ayat ini terlihat tidak ada dan tidak pernah Yesus dan Para Rasul mengatakan agar kita berhati hati dengan angka 666 apalagi mengharamkannya, tapi mereka mengingatkan Penyusupan Iblis dilakukan dari dalam, dari orang sekitar kita, dari orang yang kita percayai, dari orang yang tidak kita sangka/duga, dari orang yang berjubah suci, dari orang yang dari mulutnya keluar puja dan puji kepada Tuhan, dari orang yang kita percayai sebagai orang utusan / urapan Allah. Yesus sendiri dikhianati oleh YUDAS muridNYA, apalagi dizaman sekarang sungguh banyak pendeta pendeta yang menyelewengkan ajaran Kristus, sungguh banyak umat yang disesatkannya dan umat tidak merasa atau tidak sadar telah disesatkan karena mereka terhipnotis bahwa Pendeta adalah orang yang dipilih dan diurapi oleh Tuhan, mereka tidak ingat bahwa Iblis bisa menyusup dengan cara apapun,  Benarkah mereka telah diurapi dan dipilih ? jelas kita tidak mengetahui dengan pasti, kita tidak berani mengatakannya karena faktanya benar ada penumpangan tangan sebagai bentuk peneguhan, tapi Yesus memberi cara agar kita bisa menilainya yaitu : LIHATLAH BUAHNYA !! apa Buah Buah Roh itu ?

GALATIA 5 : 18 – 26

18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

Banyak kegiatan gereja yang kelihatannya Rohani tetapi sebenarnya menyimpang karena jiwa kegiatan itu untuk Kemegahan Diri (Gereja, Pendeta, Panitia) BUKAN untuk Peningkatan Iman, Peningkatan Pelayanan bagi yang membutuhkan seperti memberi Bimbingan (Pelajaran, Bisnis) Aksi Sosial bagi Jemaat / Masyarakat yang tidak mampu, Pengajaran, Pekabaran Injil. Membangun Gedung Gereja jangan berlebihan (besar, mewah) pertumbuhan gereja itu bukan dilihat dari seberapa besar gedung gerejanya, seberapa banyak umatnya, seberapa banyak uang kasnya,  tapi adakah iman umatnya bertumbuh ? adakah orang yang tidak mengenal Yesus menjadi pengikutNYA ? adakah umat yang nakal, yang bejat yang kurop menjadi bertobat ? (baca dan catat : bukan aktif bergereja saja). Ketahuilah Yesus datang kedunia ini untuk MENGAJAR dan MEMBERI KETELADANAN, Digereja sekarang  ajaran Melayani terus dikumandangkan pada jemaat tapi faktanya banyak pemimpin gereja yang minta dilayani !! minta gaji dan uang pelayanan yang tinggi, minta rumah dinas dan mobil dinas yang nyaman, minta uang pesangon dan pensiun, sebenarnya dan seharusnya uang yang dihimpun gereja digunakan untuk Pekerjaan Tuhan bukan untuk kemewahan pribadi pemimpin / pengurus, sekarang  banyak orang mencari keuntungan materi, jabatan, kehormatan dilingkungan kegiatan gereja, padahal dengan “bijak” mereka menasehati dan mengingatkan agar umat selalu bersyukur senantiasa, umat jangan rakus dan takabur, jangan berlebihan tapi secukupnya, sesuai dengan Doa Bapa Kami “ berikanlah makanan kami yang secukupnya…” Tapi lihatlah faktanya umat terjerat dan dijerat untuk menghidupi kegiatan “Rumah Tuhan” dan “Hamba Tuhan” secara berkelebihan ?, berapa banyak pos yang harus dibayar umat pada Gereja ? rata rata gereja menerapkan :

  1. Kolekte. (bagi kepala keluarga harus menyiapkan uang kolekte untuk seluruh anggota keluarganya yang terbagi : Kolekte Kebaktian Hari Minggu (UMUM, PEMUDA, ANAK), kolekte kebaktian keluarga yang rutin diadakan setiap minggu/dua minggu sekali dirumah seorang jemaat secara bergantian, Kolekte kebaktian Kaum Bapak/ kaum Ibu/ Lansia setiap 2 minggu sekali, gilanya lagi Kantong Kolekte itu diedarkan 2 atau 3 kantong sekaligus, padahal mula mula kantong kolekte hanya 1 yaitu untuk membiayai operasional gereja / pelayanan. Saat ada keperluan untuk Renovasi gereja maka ditambah 1 kantong lagi dengan pengumuman yang jelas untuk peruntukannya, saat ada keperluan tambahan misal untuk DIAKONIA yaitu melayani/memberi sokongan para Janda/anak Yatim maka ditambah 1 lagi. Tapi jika tidak ada kebutuhan untuk kesemuanya itu maka seharusnya hanya 1 kantong kolekte yang diedarkan bukan tetap 2 apalagi 3 !! dan anehnya sekarang malah ada gereja yang menambah cara dengan meletakkan kotak sumbangan didepan gereja dengan peruntukan sama dengan peruntukan kantong dengan cara lama, tapi kantong yang diedarkan tetap 2-3 dan hasil dari kesemua kantong itu dibukukan sebagai pos pemasukan yang sama !! artinya terlihat Gereja berlaku menjebak, serakah, mengerjai jemaatnya !! memang tidak ada keharusan jemaat / umat memasukkan uang ke kantong dan kotak, tapi yang namanya manusia maka mereka akan tidak enak hati atau malu hati jika tidak berpartisipasi, mereka tidak terlatih dan dan tidak dilatih untuk bersikap apalagi mempertahankan sikap, sehingga bagi jemaat yang telah mematok besaran kolekte per bulan maka uangnya dipecah pecah menjadi pecahan kecil, atau ada yang terpaksa berpura pura memasukkan uang kekantong kolekte yang ahirnya membuat jemaat melakukan perbuatan bohong dan dihantui oleh perasaan bersalah !! inilah yang saya maksudkan sebagai cara yang menjebak !!. belum lagi kekhusukan beribadah menjadi terganggu dan memakan waktu yang lama sehingga efeknya akan membosankan. Kenapa kotak ditaruh didepan gereja ? ini salah satu trik agar jemaat merasa malu jika tidak memberi atau memasukkan uang ke kotak yang diawasi atau dipandang oleh ratusan jemaat, bahkan konon ada gereja yang membuat kotak dari bahan kaca atau plastik tembus pandang, gunanya ? agar jemaat merasa malu jika memberi uang receh !! suatu cara yang benar benar tidak mendidik….
  2. PTB (Persembahan Tetap Bulanan), yaitu persembahan yang telah disepakati besarannya dan waktunya untuk dibayar oleh Kepala Keluarga Jemaat disetiap bulannya, peruntukannya juga untuk menopang kegiatan pelayanan gereja.
  3. PERPULUHAN, yaitu Persepuluh (10 %) dari total penghasilan yang dibayar ke gereja di setiap bulannya, untuk Menopang Kegiatan Gereja (Bahasa Rohaninya Dikembalikan kepada Tuhan).
  4. UCAPAN SYUKUR (HUT Kelahiran/Perkawinan) yang diberikan jika ada anggota keluarga kita yang merayakan ulang tahun kelahiran/perkawinan, naik jabatan.
  5. DIAKONIA, yang diberikan disetiap bulan untuk kegiatan sosial menyokong janda/yatim/orang yang berkesusahan.
  6. TARIKAN LAIN, untuk menunjang kegiatan kegiatan gereja seperti : merayakan Paskah, Natal, Iuran Pensiun Pendeta, Pesangon Pendeta, yang dibayar pada moment moment tertentu.

Yang jadi pertanyaan apa saja kegiatan gereja ? apakah kegiatan itu sudah benar ? apakah ada manfaat kepada jemaat dan masyarakat ? apakah Jemaat yang berkekurangan juga dibantu ? apakah para janda atau yatim yang membutuhkan dana dan perhatian sudah diberi ? jangan kita hanya terfokus untuk melayani kehendak, keserakahan oknum oknum pendeta, jangan untuk kegiatan hura hura, pesta pora, makan yang berlebihan. Disinilah kita banyak terkecoh seakan akan kita melakukan kegiatan yang rohani tetapi sebenarnya  menyimpang dari ajaran dan kehendak Yesus. Yesus diutus Allah Bapa kedunia ini untuk Mengajar, Mendidik, memberi contoh / keteladanan, bukan mengumpulkan massa untuk pesta pora, mengadakan pertunjukan ini dan itu, Pemerintah saja mengembalikan uang pajak yang mereka terima dalam rupa perbaikan jalan, penggratisan biaya pendidikan, BLT (bantuan Langsung Tunai), Biaya Berobat Masyarakat Miskin,  padahal mereka tidak membawa bawa nama Allah !! jadi dimana peran balik dari gereja ???? mana ajaran atau didikan dari mereka ? hasil ajaran atau didikan adalah agar kita berpikir cerdas dan praktis bukan seperti perbuatan pengumpulan uang kolekte yang terlihat konyol dan menjebak.

Perhatikanlah sudah puluhan tahun yang lampau setiap gereja selalu membaca ayat / senjata wajib yaitu II KORINTUS 9 : 6 -7

6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

kenapa ayat ini selalu dibacakan sebelum diadakan aksi pengedaran kantong kolekte ? apakah jemaat belum punya pengertian dan kesadaran ? jika belum sadar dan mengerti maka berarti fungsi pengajaran tidak berjalan dengan baik.

Baru baru ini penulis sampai terkejut saat mengetahui sebuah gereja memberikan ke Pengurus Pusat / Majelis Sinode uang :

  1. PTB (Persembahan Tetap Bulanan) yang jika dirata ratakan Rp. 1 juta per bulan per gereja. Sedangkan sinode ini punya 300 buah gereja berarti Sinode mendapatkan Rp. 300 Juta per bulan hanya dari PTB.
  2. PERPULUHAN Gereja yang jika dirata ratakan sebesar Rp. 1 Juta per bulan jika dikalikan 300 gereja maka dari pos ini Sinode mendapatkan dana lagi sebesar Rp. 300 Juta per bulan.

Sehingga dari 2 pos ini saja Majelis Sinode bisa meraup uang Rp. 600 Juta per bulan, belum lagi dari donator pribadi ataupun perusahaan padahal :

  1. Gaji dan Tunjangan Pendeta serta Iuran Pensiun dibayar gereja setempat, bukan dari uang Sinode, lucunya gereja “seakan akan” melaporkan telah mengirimkan uang ke Sinode untuk gaji pendeta padahal tidak tetapi langsung diterima oleh pendeta ybs. Artinya disinipun telah terjadi pembohongan pembohongan, kenapa tidak langsung saja dilaporkan telah dibayar dan diterima pendeta ybs ?  apakah karena status pendeta sebagai orang pusat / sinode ? tapi caranya tidak mendidik !! pengadministrasian dan pembukuan yang tidak benar.
  2. Renovasi / Pembangunan Gedung Gereja juga berasal dari uang bersama umat setempat, bukan dari uang Sinode. Lucunya Sinode meminta agar surat surat aset diberbagai daerah mereka yang pegang, padahal satu sen pun mereka tidak punya andil !! gereja dianggap jauh melebihi cara bisnis Franchise (hak memakai nama ) seperti pada bisnis  KFC, Mc Donald ? dan ada aset aset yang mereka jual secara diam diam sehingga ahirnya mengagetkan umat !!. sungguh memalukan jika ada tertawaan sebagai Gereja tukang jual aset !!. Gereja itu tidak pernah ruginya karena pengeluarannya mengikuti pendapatannya. Jika ada gereja yang dananya minim maka ada gereja lainnya yang membantu. Tapi bukan sinode yang membantu.
  3. Pengadaan Fasilitas/Perlengkapan Gereja (Mobil/Rumah Dinas Pendeta, Meja/Kursi/Organ/Sound System, Komputer/Laptop/LCD) adalah dari uang jemaat, bukan uang Sinode.
  4. Pembiayaan kegiatan Rapat para Pendeta seluruh Indonesia dibiayai oleh Gereja dan Jemaat setempat dimana kegiatan dilaksanakan, bukan uang Sinode.
  5. Jika ada pendeta yang dipanggil ke Sinode maka itu juga menjadi biaya gereja setempat, bukan biaya Sinode.
  6. Jika ada biaya pengobatan pendeta maka itu menjadi biaya gereja setempat, bukan biaya Sinode.
  7. Jika ada perpindahan pendeta ke gereja / daerah lain maka itu menjadi biaya gereja setempat, bukan biaya Sinode.

Jadi digunakan apa dan kemana saja keuangan Sinode ? kenapa Sinode tidak pernah melaporkan penggunaan keuangan mereka ke gereja gereja didaerah yang membiayainya ? bayangkan jika Sinode paling banyak punya 30 orang karyawan termasuk Sopir dan pembantu !. Bukankah uang Rp. 600 juta per bulan sangat berlebihan ?. Apakah mereka digaji seperti Profesional dan selalu Kunker (Kunjungan Kerja) ke berbagai daerah dan nginap dihotel berbintang seperti yang dilakukan para politikus ? atau sama seperti saat mereka mengadakan rapat rapat di hotel berbintang ? mereka mirip dengan anggota dewan yang meminta dibangunkan gedung pertemuan dan kamar kamar agar jika mereka mengadakan rapat akbar maka mereka menginap disana tapi faktanya setelah selesai gedung dan kamar itu tidak dipakai melainkan memakai hotel berbintang dengan alasan tidak layak untuk para pendeta pelayan Tuhan, sehingga umat menduga bahwa pembangunan itu hanya untuk mendapatkan uang komisi proyek pembangunan belaka. Jika mereka menuntut jemaat untuk jujur dan tulus serta hidup sederhana bagaimana dengan mereka ????? jika mereka berlaku professional berarti mereka bukan Pelayan Tuhan tetapi orang yang minta dilayani dan dihormati !! artinya mereka adalah pejabat bukan pelayan !!.

Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus dalam aktifitasnya melakukan pekabaran Injil dan pembinaan kebeberapa daerah yang tertulis dalam : KISAH PARA RASUL 20 : 33 – 37

33 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.

34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.

35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.

36 Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua.

37 Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia.

Yang banyak berkorban waktu dan dana adalah para Penatua dan Diaken, karena mereka tidak dibayar untuk pelayanan yang diberikan, tapi mereka harus menjadi teladan dalam menyumbang berbagai kegiatan yang dilakukan gereja. Sedang pendeta hampir setiap kegiatan meminta dana atau amplop untuk pelayanan khotbahnya, keluarga orang matipun kalau perlu harus membayar.

Jadi yang perlu kita waspadai adalah bukan angka 666 tetapi apakah kita telah terseret pada ajaran ajaran sesat atau menyesatkan  yang mengatas namakan Tuhan dan Kasih tetapi untuk kemegahan dan kemewahan kita. Setan tidak datang dengan mengatakan : “ Ini saya Setan datang..” atau dia masuk dan bersemayam dihati kita jika kita memakai tanda 666. setan tidak memerlukan itu semua, tapi dia telah bekerja dari dalam gereja, dari dalam persekutuan, dari keluarga, dan dari sisi kelam hati kita….. Jika ada penjahat yang dijidatnya ada terlulis penjahat maka kita pastilah aman karena bisa menghindari atau mengantisipasinya, sayang orang yang berhati jahat tidak punya tanda, malah awalnya mereka melakukan pendekatan dengan sangat baiknya, mereka seakan dewa penolong….

Jika kita terhasut menyebarkan akan nama barang atau jasa yang berkode atau ber barkode 666 sebagai barang atau jasa yang diharamkan atau yang harus dijauhi maka kita secara tidak langsung telah menjadi alat untuk “membunuh” bisnis orang yang dapat membangkrutkan usaha orang dan membuat banyak orang bisa kehilangan pekerjaannya…. amin.

Surabaya, 27 Mei 2009,

Labih Basar.

labihbasar@yahoo.com

Salah seorang Jemaat GPIB Bukit Harapan Surabaya.

Beberapa pihak mempertanyakan akan manfaat Facebook (FB) bahkan diantaranya sudah mulai “gerah” dan menuding FB banyak merugikan (merusak) daripada memberi manfaat (membangun), misalnya menjadi sarana bergosip, menyebarkan kabar bohong, selingkuh, bursa sex dll. Memang penilaian itu menjadi pro dan kontra ditengah masyarakat khususnya di pecinta FB, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju.

Situs Facebook menjadi booming dibumi ini dan menjadi alat komunikasi yang hidup sehingga banyak kalangan menyukainya dan memanfaatkannya untuk berbagai kepentingan seperti; Persahabatan (mengenai ada yang berlanjut pada jatuh cinta/berpacaran maka apa salahnya jika mereka tidak menghianati pasangan sahnya?) dan Kekeluargaan, Pelajaran, Hobby, Bisnis, Opini, Agama, Politik, Kesehatan, Pengobatan, Organisasi, Wisata, Kuliner, dan yang sangat ringan ataupun hanya melemparkan 1 kata/kalimat “sulit makna” seperti : “Bingung”, “Sebel”, “Pusing”, “Lapar”, “Nunggu Pesawat”, “Sedang Rapat”, “ Makan dimana/apa?” karena apa yang perlu ditanggapi apalagi dibantu? bayangkan jika rekan rekannya membuka Facebooknya 1 jam hingga 1 minggu kemudian !!!.

Karena melihat orang “mabuk” ber-facebook ria (ada lho yang aneh karena berbangga jika masuk kantor maka yang dibuka dulu adalah FB!), maka membuat Dhimam Abror Djuraid yang dikenal sebagai Wartawan senior dan sekarang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi harian Surabaya Post membuat tulisan yang mengingatkan agar jamaah facebook harus lebih memperhatikan, lebih peduli dan lebih membantu teman dan tetangga yang nyata berada di sekitar kita, hingga beliau berkata bagaimana bisa kita beramah tamah dengan teman di FB padahal dengan teman/orang yang duduk di kursi sebelah kita saja kita tidak peduli, sebuah tulisan yang membuat saya mengangkat kedua jempol.

Sama seperti sarana/media komunikasi lainnya maka FB pun juga dimanfaatkan orang untuk hal-hal “negative” seperti : Pelacuran (laki/wanita), Selingkuh, Penipuan dll. TAPI APAKAH BIJAK jika kita menyalahkan Facebook nya? Bukankah HP/Telpon rumahpun bisa untuk pelacuran, selingkuh, penipuan?, bukankah Koran bisa dimuat iklan Pelacuran, Pijat halus, Penipuan?, bukankah Uang juga bisa digunakan untuk membayar transaksi Pelacuran, Pembiayaan Perselingkuhan, membiayai Pembunuh Bayaran?, bukankah kamar hotel juga ada yang digunakan untuk melakukan hubungan sex terlarang hingga tempat melakukan penipuan, transaksi Narkoba, korupsi/KUHP (Kasih Uang Habis Perkara) dan pembunuhan/merancang pembunuhan? bukankah Taxi, Kereta Api, Pesawat juga bisa dipakai untuk memuluskan hal hal diatas? bukankah mobil pribadi juga bisa digunakan untuk melakukan sex singkat dengan pacar, teman, selingkuhan ataupun pelacur? pisau dapur pun bisa untuk menusuk ataupun membunuh…

Belum lagi jika kita membuka Yahoo ataupun Google apakah kita perlu menyalahkan sarana/media seperti itu? ahirnya kita harus menyadari bahwa kesemuanya tergantung pada pribadi masing-masing. Seorang yang selalu datang ke komplex pelacuran jangan dianggap negatip, bisa saja dia datang memberi kursus / pelatihan pada pelacur agar mereka punya bekal ketrampilan untuk membiayai hidup jika mereka memerdekakan diri dari melacur, karena tidaklah bijak jika kita hanya menyalahkan pelacur dan menyuruh mereka bertobat tapi tidak memberikan solusi…

Disinilah kita membekali keluarga, teman, umat, masyarakat agar mematuhi aturan / hukum Agama, Negara, Norma, budaya agar hidup ini indah dan nyaman adanya. Kita bukan melarang dan melarang saja tanpa memberikan pencerahan, pengajaran, dan keteladanan serta solusi. Saya sangat salut dengan teman FB saya yang bernama Imam Budi Utomo yang secara rutin melakukan pencerahan pada teman teman grup kami dengan memakai media FB, saya yang umat kristiani pun senang membacanya. Jika semuanya baik dan benar adanya maka walaupun ada uang tergeletak, ada wanita cantik telanjang, ada pemuda ganteng dan gagah menggoda maka kita tidak akan tergiur untuk mengambilnya karena itu bukan hak kita, bukan punya kita, jadi bukan perkara kita diawasi ataupun tidak…, bukan ada kesempatan atau peluang…, bukan karena istri atau suami kita tidak bisa menjalankan fungsinya…

Akhir kata semoga kita bisa menunjukkan bahwa kita pengguna FB ini bukan seperti yang mereka kira…. Semoga…