Beberapa tahun silam seseorang suami menyewa seorang pembunuh bayaran untuk membunuh istrinya yang dicurigainya telah melakukan perselingkuhan, setelah pembayaran dilakukan maka si pembunuh bayaran mulai beraksi.

Aksi pertamanya gagal, sang istri tertembak lengannya dan dilarikan ke rumah sakit, disitulah sang suami mengetahui bahwa istrinya tidak menghianati cintanya, maka dia berupaya menghentikan aksi si pembunuh bayaran, apa lacur segala kontak dengan pembunuh bayaran terputus, dan si pembunuh bayaran tetap akan melakukan tugasnya menghabisi sang istri, sehingga sang suami berupaya memburu si pembunuh bayaran sebelum istrinya ditembak kembali.

Pasar Turipun kemungkinan hampir menyerupai kejadian film diatas, mungkin ada yang menyuruh membakar pasar tersebut, tetapi karena pasar itu belum juga ludes semua maka si pembakar bayaran tersebut masih bergentayangan untuk melaksanakan tugasnya, kontraknya.

Bedanya mungkin si penyuruh masih mengharapkan atau malah mendoakan agar aksi si pembakar bayaran segera tuntas yaitu membumi hanguskan pasar Turi.

Tujuannya? bisa kepentingan pemasaran standnya, keuntungan pembangunannya, mematikan saingan, atau sengaja memiskinkan masyarakat agar bisa menuding pemerintahan presiden SBY telah gagal, gagal dalam menjaga keamanan, gagal dalam mengentaskan kemiskinan.