Di masa penjajahan ada tokoh adat dan agama serta masyarakat kita yang berpihak atau menghamba kepada penjajah demi uang dan kehormatan, mereka merayu, menghasut masyarakat untuk memihak dan bekerja sama dengan penjajah, mereka mengunggulkan kehebatan penjajah dan menjelekkan tokoh perjuangan kita.

Di pihak lain ada pula tokoh adat, agama dan masyarakat kita yang melakukan perjuangan untuk mengenyahkan penjajah dengan tujuan tulus ingin merdeka dan berdaulat atau ada yang ingin mengejar kedudukan jika penjajah hengkang dari negeri ini.

Kedua kelompok ini saling melakukan gerilya untuk menarik simpati masyarakat dan menjelekkan pihak lain yang tidak sehaluan dengan kelompoknya. Bila ada permasalahan yang sekecil apapun maka dengan segera mereka mengatakan bahwa itu adalah akibat ulah atau rekayasa pihak lawan, sehingga mereka tidak mau instrospeksi diri maka akibatnya penjajah menguasai dan merampok negeri ini selama 350 tahun lebih, dan akibatnya politik menuding dan menjelekkan pihak lain itu telah menjadi budaya dan mendarah daging secara turun temurun.

Sekarang sudah 62 tahun kita merdeka tetapi kelakuan itu tetap dilestarikan dan dijalankan, bila ada masalah maka pihak lain yang disalahkan, jika sudah tidak ada penjajah maka pihak negara lainlah yang dituding, jadi kapan mau instrospeksi diri? kapan mau memperbaiki diri? kapan mau obyektif dalam menyelesaikan permasalahan? Jika tetap maka permasalahan akan datang terulang silih berganti, kita saling bertikai dan bunuh bunuhan akibatnya?

Indonesia sudah semakin tidak berharga di mata negara Asean, apalagi dunia luas.