Akibat imbas dari resesi ekonomi global (bukan Indonesia saja) maka kaum “reformis” berhasil memaksa presiden H.M. Soeharto turun tahta, di saat itu juga kaum reformis membeberkan multi dosa Soeharto dan mengajukan berbagai resep untuk memulihkan perekonomian dan kemanan serta demokrasi di negeri ini. Namun hampir 10 tahun lamanya kaum reformis berkuasa, tetapi perekonomian dan keamanan negeri ini terasa semakin kacau jika dibandingkan masa kepemimpinan bapak “Pembangunan” kita. Koruptor masih berpesta-pora, dana DKP mengalir ke kantong tokoh Reformis, keadilan tetap diperjual-belikan, kelompok masyarakat semakin anarkis dimana dengan bebasnya mereka memporak-porandakan harta benda kelompok lainnya, urusan surga bisa menjadi petaka di bumi, penderitaan rakyat menjadi alat komoditi politik dan mata pencaharian para koruptor. Jadi benarkah dan layakkah keterpurukan ekonomi negeri ini dipersalahkan kepada bapak Pembangunan yang murah senyum itu dan orang yang secara terang-terangan mengancam akan menggebuk para pengacau negeri ini? Yang meningkat nyata di zaman Reformasi ini adalah menjamurnya parpol yang semuanya mengatakan punya tugas mulia untuk mensejahterakan masyarakat, tapi yang terbukti malah makin menggelembungnya pundi-pundi parpol dan politisinya pun menjadi kaya raya! Mereka bertikai mengatur strategi agar dapat menduduki tampuk kekuasaan demi kemakmuran kelompok sendiri. Saya yakin, jika para kaum reformis itu tidak merebut kekuasaan, maka negeri ini akan segera pulih dari resesi ekonomi global seperti negeri negeri lainnya. Sekarang bapak Pembangunan itu telah sakit parah, maka segeralah kita meminta maaf dan merehabilitasi namanya. Biarlah beliau meninggalkan kita dengan tenang, karena negeri yang tentram adalah idamannya. Beliau terpaksa menggunakan tangan besinya untuk menyatukan gerak langkah kita yang cenderung liar dan merasa benar sendiri. Pak Harto, saya memohon maaf karena sayapun dulu sering menista bapak, tapi orang yang saya kira lebih baik dan dapat membawa negeri ini ke alam yang lebih baik ternyata juga punya kepentingan dan agenda tersendiri.