Dalam suatu negara kerajaan maka anak-anak raja dari sejak kecil sudah diperlakukan dan ditempa agar bisa bersikap dan bertutur sebagai anak-anak raja. Pembentukan karakter/wibawa anak-anak raja memerlukan suatu proses yang panjang dan “menyakitkan” karena kebebasan mereka tidak sama dengan kebebasan anak-anak lain pada umumnya.

Mereka harus menjadi individu yang berbeda dari anak-anak rakyatnya. Cara makan / pola makan / menu makanan harus baik dan terkontrol. Cara bicara, sikap tubuh harus menunjukkan kelas bangsawan kerajaan yang terpelajar/pandai, santun, berwibawa, arif bijaksana, teguh pada pendirian dan punya karakter pemimpin yang punya visi dan misi yang jauh ke depan untuk kelangsungan dan kehormatan kerajaannya.

Rakyatnya dijaga keamanannya, rakyatnya dijamin kesehatan dan kemakmurannya. Seorang raja adalah orang yang berani berperang di garis depan medan peperangan untuk mempertaruhkan kehormatan dan kedaulatannya, mereka bukan kelas pengecut yang akan lari dari persoalan dan tanggung jawab.

Seorang anak raja jelas tidak akan dapat menjadi raja jika dia tidak mengalami didikan yang baik. Seorang anak raja akan hilang sifat-sifat kebangsawanan kerajaan jika dia di adopsi dan diajari oleh rakyat jelata.

Pada saat kita dewasa maka kita mengikrarkan akan pengakuan iman kita, kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita maka kita dikatakan sebagai orang yang lahir baru, di saat itulah kita telah diangkat menjadi anak anak Surgawi, Allah telah menyuntikkan kita dengan gen keilahiannya.

Kita adalah anak anak Raja Surgawi dan gereja adalah “istana” kerajaan dimana pendeta adalah sebagai “mentor” untuk mendidik, menempa kita agar bisa berlaku sebagai anak-anak raja, agar kita terlihat berbeda dari anak-anak lainnya.

Kita harus mematuhi akan firman Allah, kita harus menjauhi atau tidak melakukan hal-hal yang dilarangNYA, kita tidak melakukan perbuatan dosa sampai hal yang sekecil kecilnya seperti melanggar rambu/marka jalan, bicara kotor dan menyakitkan, tidak disiplin dll. Pendeta selalu dapat menjadi mentor kita agar kita tidak mempermalukan darah kebangsawanan dan kerajaan Allah.

Banyak anak-anak Allah yang terbuang dari istana kerajaan Allah (Gereja) sehingga mereka banyak mendapatkan pelajaran-pelajaran yang tidak baik yang mengakibatkan sifat atau tanda anak-anak Allah menjadi sirna.

Hal ini terjadi karena gereja telah tercemar akan perjuangan kepentingan, banyak pendeta dan pengurus gereja lebih senang mengeruk materi dan memanipulasi akan kasih dan pelayanan. Mereka menggelorakan sikap melayani dan berkorban pada jemaatnya, padahal untuk membiayai kemewahan dan kesenangan mereka belaka.

Gereja dikelola seperti mengelola Partai Politik, siapa lawan siapa kawan, siapa yang menguntungkan dan siapa yang tidak memberikan manfaat keuangan, domba-domba (jemaat) gemuk (kaya) dirawat, didoakan dan dilayani sedangkan domba kurus (miskin) diabaikan.

Banyak pendeta yang hidupnya mewah dan berkelimpahan serta berfoya-foya, banyak pendeta yang melakukan kuropsi uang gereja atau meminta minta pada jemaat. Banyak pendeta yang berselingkuh dan menyelingkuhi istri dari jemaatnya sendiri atau wanita yang aktif di dalam pelayanan. Banyak pendeta yang memutarbalikkan firman Tuhan, banyak pendeta yang menganjurkan pemberian uang sogok kepada pejabat dalam pembangunan gereja, padahal di sisi lain mereka harus mengajarkan agar anak-anak Tuhan harus tidak mengikuti akan cara cara duniawi.

Tidaklah salah karena banyak Jemaat yang telah disuntik racun oleh pendeta/pengurus gerejanya atau karena mereka sudah tidak dapat jadi teladan lagi maka banyak jemaat yang terlempar dari pengawasan dan pelayanan gereja sehingga mereka menjadi terbuang dan bertambah bebal.

Maka hendaklah kita jadi pejuang pejuang yang berani membersihkan istana kerajaan surga dari anasir anasir munafik dan jahat itu.

Labih Basar