Beberapa orang mengirimkan email yang sama kepada saya perihal dasar pemikiran hingga kebanggaan jadi Golput. Isi surat itu kurang lebih sbb : “Menjadi Golput adalah keputusan terbaik dan kebanggaan kami karena kami orang yang berani bersikap, kami tidak ingin menjadi seorang munafik yang hidup dalam kepura-puraan apalagi dalam bayang ketakutan.

Jika kami melihat para tokoh Nasional, Capres dan Cawapresnya, Calegnya semakin menunjukkan kelasnya yang “Ndagel”, “Pendusta”, “Penghianat”, “Tidak Cerdas” dimana menganggap lucu kelakuannya yang mempermainkan penderitan rakyat, yang membohongi rakyat demi kepentingannya, yang mengingkari suara rakyat yang mendukungnya, yang memikirkan dan menyikapi masalah demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, kami tidak ingin berlaku munafik dengan memaksakan diri untuk memilih / seakan akan memilih. Ingatlah “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan” artinya suara rakyat itu suara yang suci yang tidak pantas untuk kami main mainkan, tidak sembarang orang dapat kami berikan, apalagi pada kelas comberan !

Lihatlah selama ini suara rakyat yang suci dipermainkan, dikotorkan, diperjual belikan, diminta dengan manis, dengan bujuk rayu tapi kemudian didholimi”. Membaca itu saya jadi tercenung, apakah para tokoh, para capres/cawapres, para caleg bisa menunjukkan bahwa anggapan atau pemikiran itu keliru ? yang mereka butuhkan adalah realita…

Labih Basar Jl. Griya Kebraon Barat VIII-BH 4 Surabaya.