Gara-gara menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya dan yang dinilainya merugikan dirinya, maka Prita Mulyosari dipenjarakan karena diduga melakukan Pencemaran Nama baik rumah sakit OMNI yang  berskala Internasional  di kota Tangerang. Beruntunglah Media cetak dan Elektronik mengetahuinya sehingga beritanya  menyebar mengakibatkan banyak tokoh dan pihak mengupayakan pembebasannya karena dinilai apa yang dilakukan Prita tidak selayaknya dibalas dengan memperkarakannya secara pidana apalagi dikabarkan oleh sebuah TV swasta bahwa pihak rumah sakit juga akan menuntutnya secara perdata dengan tuntutan ganti rugi uang yang begitu besar, apakah dengan tulisan Prita rumah sakit itu menjadi sepi ? ataukah sepinya sudah sejak lama ?  apakah orang yang sudah dirawat inap memaksa diri keluar dari sana ? jadi kerugian riil apa yang diderita ? nama baik apa yang berkurang ?  seharusnya pihak rumah sakit memakai hak jawabnya menjelaskan akan apa yang terjadi secara rinci biar masyarakatlah yang menilainya.

Harus kita akui cukup banyak perawat atau dokter dirumah sakit yang tidak bisa menjalin komunikasi dengan baik dengan pasien dan keluarganya, dibenak mereka pasien tidak perlu mengetahui, tidak perlu dijelaskan akan proses penyakit yang diderita dan proses atau tahapan penyembuhannya, seharusnya mereka mengerti bahwa pasien dan keluarganya punya hak untuk mengetahuinya, harus ada kerja sama  yang baik bagi kedua belah pihak, apalagi mengingat pasien dan keluarganya dalam kondisi sakit, stress, pusing memikirkan penyakit yang belum jelas (penyakit saja belum jelas apalagi kejelasan penyembuhannya)  atau malah dirasakan semakin memburuk, pusing memikirkan keluarga, pusing memikirkan pekerjaan/usaha yang ditinggalkan, pusing memikirkan biaya yang begitu besar. Orang yang banyak uang saja atau orang yang biayanya ditanggung oleh asuransi saja serta tinggal di kamar VIP saja bisa stress apalagi bagi orang yang hidupnya pas-pasan. Jadi hendaknya segala kepusingan pasien jangan ditambah pusing lagi oleh tingkah polah perawat dan dokter yang tidak bersahabat, yang sok atau semena-mena (Orang yang membayar mahal saja bisa diperlakukan seperti itu bagaimana dengan pasien miskin yang dibiayai oleh negara ? ) seharusnya perawat dan dokter membantu “pengobatan” psikologis pasien karena dari dana pasien itulah  mereka mendapat penghasilan. Di dalam dunia dagang maka penjual berusaha sangat ramah dan melayani pembelinya, demikian juga dalam dunia jasa seperti bengkel maka pemilik bengkel dan montirnya memberikan penjelasan penjelasan yang baik kepada konsumennya, tapi kebanyakan dokter dan perawat malah sering membuat pasien “makan hati” akan sikap dan perkataannya, saya melihat kebanyakan dokter dan perawat sangat kurang mampu melakukan pendekatan kepada pasiennya, mungkin ini dilakukan karena dibenak mereka waktu adalah uang dan uang, kalimat yang diucapkannya punya nilai rupiah, pasien itu bodoh dan harus diam terima saja mau diapa apakan juga harus diam,  mereka lupa bahwa pasien itu orang sakit dan orang awam yang tidak mengerti akan penyakitnya dan proses penyembuhannya, jadi harus dijelaskan dengan bahasa yang baik yang dapat diterima oleh pasiennya.

Saya beberapa kali menjumpai seorang ayah yang marah marah kepada rumah sakit / dokter karena diharuskan membayar jasa dokter kandungan padahal dokter yang bersangkutan tidak melayani persalinan istrinya karena dokter tersebut sedang sibuk dirumah sakit lain atau sedang diluar kota atau keluar negeri sehingga yang membantu persalinan adalah bidan rumah sakit, bayangkan betapa tegangnya seorang suami  saat istrinya mau melahirkan tapi dokter yang dipercayai dan diharapkannya tidak berada ditempat, biasanya bidan tidak berani  langsung menangani kalau sudah dipegang oleh dokter, mereka takut dimarahi dokter ? tapi jika dokter belum juga datang tanpa kabar atau memberi kabar memastikan diri tidak datang tapi tidak juga mengirimkan teman dokter atau asistennya maka terpaksalah bidan bertindak … sampai waktu pasien mau pulang dokterpun tidak pernah nongol !! tapi kenapa saat akan membayar ada biaya dokter ?? Apa kata dokter ? saya telah memberikan advis lewat telpon !! siapa yang dapat membuktikan kebenarannya ????

Saya menilai dari surat yang dibuat Prita bahwa sangat wajar jika dirinya kecewa dan ahirnya membuatnya “marah”, karena jawaban jawaban yang diberikan masih belum memuaskan hatinya. Itulah pentingnya sebuah komunikasi yang baik, perasaan memahami orang yang sakit, kecewa harus ditimbulkan, jika tidak perasaan tidak memuaskan menjadi kekecewaan dan kecurigaan..

Nasi sudah menjadi bubur, persoalan ini sudah sampai dimeja Hakim, maka saya memohon agar hakim melakukan pembuktian secara terbalik, yaitu pihak rumah sakit OMNI lah yang harus membuktikan diri mereka tidak bersalah, tidak melakukan penipuan, tidak salah diagnosa, tidak salah memberi obat dan tidak mempersulit Prita. Kenapa ? karena Prita tidak punya banyak bukti akan nama obat apa yang diberikan, akan berapa kali darahnya diambil untuk penelitian laboratorium, akan kebenaran / keaslian pelaporan dan tindakan lainnya. Jika yang diperiksa adalah Prita dan disuruh untuk membuktikan akan apa yang dikeluhkan, dan dituduhkan maka jelas dia tidak akan bisa membuktikannya secara keseluruhan.

Sebuah rumah sakit yang baik akan mencatat secara lengkap akan kronologis pemeriksaan dan tindakan yang diberikan kepada pasien, setiap 3-4 jam  pasien di ukur suhu badan dan tensi darahnya, urine yang dikeluarkanpun diukur volumenya. Kasus tertentu seperti Demam Berdarah maka setiap hari darah / trombositnya diperiksa dilaboratorium, semuanya tercatat secara rapi baik oleh pihak dokter UGD yang pertama menerima pasien, laboratorium, perawat ruangan, termasuk waktu/hari kedatangan dokter yang memeriksanya, analisa dokter, obat / cairan infuse yang diberikan kesemuanya dapat di cross check ! caranya sebagai berikut :

1.  Di UGD kita bisa melihat catatan akan waktu/jam/hari pasien datang, apa yang dikeluhkan pasien, siapa dokter dan perawat yang menangani,  apa hasil pemeriksaan fisik pasien, tensi darah, denyut nada, dan suhu badannya, apa hasil laboratorium, apa dugaan awal dan tindakan awal yang dilakukan / diberikan, apa dasar memutuskan untuk rawat inap. Dokter siapa yang diingini atau dianjurkan untuk merawat pasien (biasanya dokter spesialis).

2. Diruangan rawat inap dapat dilihat catatan kapan pasien masuk kamar rawat inap, apa hasil pemeriksaan awal dari UGD, apa yang dilakukan para perawat / dokter jaga (biasanya dokter umum) ruangan, apa yang dilaporkan kepada dokter spesialis yang sudah dipilih atau sudah disetujui oleh pasien/keluarga pasien (biasanya dilaporkan per telpon, ini bisa dilakukan oleh petugas UGD atau oleh petugas Ruangan), apa yang diperintahkan oleh dokter spesialis untuk dilakukan / diberikan termasuk obat / infuse, kompres (bisa juga diperintahkan pada saat laporan dokter UGD kepada dokter spesialis yang diminta oleh pasien, sehingga perawat ruangan hanya menjalankan instruksi yang diberikan dokter spesialis via dokter jaga UGD), kapan saja dokter spesialis datang berkunjung menengok pasien (Visite), apa keadaan pasien yang dilaporkan perawat pada dokter (suhu badan, tensi, denyut nadi, volume urine, BAB, banyaknya makanan yang dimakan dan minuman yang diminum,  hasil Lab. dll), apa tindakan dari dokter, apa kesimpulannya/ perkembangannya, berapa banyak resep yang diberikan dokter, berapa banyak pemeriksaan laboratorium, jika ada pergantian obat/resep obat yang diberikan kenapa ? apa dasarnya ? apa ada kesalahan diagnosa ?

3. Di Apotik kita bisa melihat berapa banyak jumlah lembar resep dokter untuk pasien tersebut, apa nama obatnya/ cairan infusenya dan apa kegunaannya, dari resep dan infuse kita sudah bisa menduga akan arah dugaan penyakit yang diperkirakan oleh dokter tersebut, cek juga stock obat apotik pada stock obat yang tertera diresep apa benar telah keluar sesuai dengan resep tersebut, siapa dokter yang mengeluarkan resepnya ? siapa nama pasiennya ? cek juga laporan dari kasir apotik, sesuaikah laporan keuangan dengan jumlah pembayaran obat yang diberikan ?.

4. Di Laboratorium, kapan darah pasien diambil ? (biasanya diambil ditempat tidur pasien diruangan), apa dasar pengambilan sample darah ? perintah dokter siapakah ?, apa saja yang diperiksa ? siapa yang bertugas mengambil sample ? siapa yang memeriksa sample ?  apa hasil pemeriksaan ? apakah dihari lainnya ada pemeriksaan yang lain dari yang sebelumnya ? dari pemeriksaan yang diambil kita bisa melihat akan arah dugaan dokter akan penyakit / perkembangan penyakit yang diderita pasiennya.

Dari catatan catatan diatas maka kita dapat menilai apakah pihak rumah sakit / dokter telah melakukan kesalahan ataukah tidak.

Sejak tahun 1980 saya mulai menuangkan pemikiran atau pendapat saya dalam bentuk surat / suara pembaca yang dimuat diberbagai Koran, isinya adalah penyampaian pendapat/ masukan, kritikan, teguran kepada pejabat / masyarakat akan kebijakan/ tingkah laku yang mereka lakukan. Rubrik yang dahulunya penuh berisi “KTP/SIM HILANG” dll. lambat laun mulai berubah, perubahan yang sangat menggembirakan hati saya, karena menurut saya lebih baik dan efektip menyampaikan pendapat lewat surat/ suara pembaca daripada kita turun berdemo dijalan jalan, tapi rupanya para pejabat kita lebih memperhatikan tekanan / masukan / protes yang disampaikan lewat cara demo turun kejalan, daripada membaca suara seorang penulis. Tapi dipihak lain banyak instansi / toko yang “bersengketa” terpaksa mau membuka komunikasi, membuka pintu rekonsiliasi setelah masalahnya dimuat di surat pembaca, sebenarnya masalah kecil dapat segera diselesaikan tanpa harus menyebar luas kemana mana. Kata kata yang pedas keluar kebanyakan dari orang sakit atau orang yang putus asa karena mereka ingin segala sesuatunya selesai dalam waktu yang sesingkat singkatnya, seperti kasus Prita dan contoh lain yang sedang hangat adalah kasus Manohara yang mengatakan Dubes Indonesia di Malaysia tidak peduli, tidak mau membantu menyelesaikan permasalahannya, yang dilakukan Dubes mungkin sama yang dilakukan kebanyakan dokter yaitu tidak memahami psikologis orang sakit, orang kalut, orang tertekan yang butuh penjelasan, jadi jangan keluhan atau tudingan Manohara di balas dengan akan memperkarakannya kemeja hijau, memang itu adalah hak tapi orang menilai sangat tidak bijak, karena yang namanya pejabat jelas tidak dapat memuaskan semua pihak jadi dia harus siap jika dikomplain, dihujat, dituduh, bukan menggunakan waktunya berperkara dengan rakyatnya !!! waktunya digunakan untuk membela, menolong rakyatnya, bukan berperkara dengan rakyatnya sendiri !!  itu yang saya nilai sangat tidak bijak !!.

Semakin terbukanya alam demokrasi kita maka membuat masyarakat semakin berani mengungkapkan kekecewaan, kehendaknya, ketidak setujuannya dengan pejabat penting sekalipun, apalagi jika hal hal yang dirasakannya sangat merugikan keuangan dan kesehatannya seperti yang dirasakan oleh Prita (walau Prita dikabarkan diganti oleh asuransinya), bayangkan jika orang lain yang membiayai pengobatan dirinya atau orang yang dikasihinya dengan menjual harta benda hingga rumahnya !! apa persoalan kecil tidak bisa meledak ???  seharusnya perawat, dokter, rumah sakit tetap bersikap ramah dan lemah lembut, karena bidang ini yang menjadi mata pencaharian mereka, jadi bagaimanapun harus tetap berbaik hati, tetap berkepala dingin, bukan gampang marah, gampang tersinggung dan   main tuntut menuntut. Bayangkan jika pasien sudah sakit tidak dilayani dengan baik padahal dirinya mau membayar berapapun !, bayangkan jika pasien sudah mengeluarkan uang banyak tapi keluarganya tidak sembuh bahkan mati ! Bandingkan dengan dokter, perawat, rumah sakit, apotik, laboratorium yang tetap mengambil keuntungan walau pasiennya meninggal dan walau keluarga pasien sudah menjual harta bendanya atau rumahnya sekalipun, ada dilaporkan ada istri atau anak gadis yang mau menjual diri demi membiayai suami atau anaknya,  atau ayah/ibunya !. Jikapun ada yang keblinger  melakukan penuntutan maka hendaknya laporan ini ditangani secara bijak oleh pihak kepolisian, alangkah baik dan terpujinya jika masalah masalah kecil bisa didamaikan oleh pihak kepolisian. Sehingga biaya dan waktu dapat digunakan kepada hal hal yang perlu.

Kurang lebih setahun yang lampau saat melihat berita bahwa Rumah Tahanan diberbagai kota penuh sesak, tidurpun saling tumpang tindih, belum lagi diberitakan ada isu  pungli dan jual lahan hingga bisnis narkoba maka saya mengusulkan agar orang orang yang ditahan adalah orang yang terkait kasus kasus yang perlu ditahan saja seperti : Pencurian, Pembunuhan, Perampokan. Sedangkan kasus kasus seperti togel seribuan rupiah, korupsi apalagi pencemaran nama baik tidak perlu ditahan, cukup tahanan kota saja, bukankah jika nanti divonis bersalah mereka juga akan ditahan ? bukankah jika ditahan sejak awal masa tahanannya juga dipotong dengan masa tahanan yang telah dijalaninya ? bukankah cukup banyak kasus diatas yang divonis bebas oleh hakim padahal sitersangka sudah lama mendekam ditahanan ? jadi orang yang belum jelas bersalah malah dijejalkan hidup di Rutan dengan orang orang yang bisa merusak kehidupan/jiwa mereka, menurut saya itu suatu kebijakan yang tidak bijak karena disamping biaya negara menjadi besar untuk memberi makan dan minum, juga dapat merusak jiwa orang dan keuangan hingga rumah tangga si tersangka. Memasukkan tersangka kedalam ruang tahanan bukan menyelesaikan masalah karena ruang tahanan tidak mencukupi, makanan yang tidak layak, air bersihpun sangat berkekurangan. Orang yang sehat saja bisa terserang berbagai penyakit, biaya berobat yang ditanggung negara ahirnya membengkak.

Jadi manfaat langkah seleksi orang orang yang perlu ditahan adalah :

1. Tidak merusak jiwa orang yang belum tentu bersalah.
2. Tidak merusak pekerjaan, bisnis, keharmonisan orang yang berperkara.
3. Tidak membebani biaya negara untuk memberi makan, pengobatan, penjagaan.

Parameter ditahan atau tidaknya tersangka bukan didasarkan pada batasan tuntutan yaitu 5 tahun. Tapi pada kebijakan dan kearifan kita, agar insane bangsa ini menjadi baik adanya.

Semoga para pimpinan atau cerdik pandai negeri ini mau berupaya merumuskan hal hal yang membawa kebaikan didalam dunia kedokteran, bisnis dan  hukum kita, dan saya sangat setuju dengan ibu Megawati yang meminta agar UU ITE (informasi dan transaksi elektronik), dihapuskan saja karena memasung dan membungkam peran serta masyarakat dalam melakukan pengawasan, kritikan demi kemajuan bangsa kita, soal merasa terhina adalah sangat tergantung orangnya, jadi ukurannya apa ? terkesan UU ini hadir untuk mengamankan para pemimpin terhindar dari kritikan dan pengawasan, kritikan memang terasa menghina, tapi itu demi kebaikan pejabat dan bangsa ini, apalagi jika melihat ancaman pasal 27 ayat 3 yaitu ancaman hukuman selama 6 tahun dan denda 1 Milyard rupiah !! apakah pasal ini hadir karena terinspirasi akan kalimat “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” jadi hukuman memfitnah dan membunuh beda beda tipis saja sehingga masyarakat boleh memilih apakah mau memfitnah saja atau mau membunuh sekalian !! dan denda 1 Milyard, memang rakyat kita kaya raya ??? sudah melarat tambah “dibunuh” dengan denda yang maha besar itu.

Kepada ibu Prita harap bersabar dan tabahlah selalu, apa yang dilakukan ibu adalah bentuk suatu perjuangan, perjuangan akan hak pribadi dan hak  konsumen lainnya yang sangat banyak  tidak berani mengeluarkan suara protesnya.

Semoga kita semua menjadi instrospeksi atau mawas diri dan akhir kata cam kanlah kalimat ini :

“SEBAGIAN BESAR DARI KITA LEBIH SUKA DIHANCURKAN OLEH PUJIAN DARIPADA DITOLONG OLEH KRITIKAN !”